Ketum Patani Apresiasi Deklarasi Petani Tebu Blitar Terkait Percepatan Pembangunan Infrastruktur
KETUA Umum Pandutani Indonesia (Patani) Sarjan Tahir menyambut positif deklarasi yang dilakukan para petani tebu Blitar, yang berharap kepada Pemerintah Pusat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur guna memperkokoh ekosistem industri gula nasional.
Dalam naskah deklarasi dinyatakan, sangat dibutuhkan percepatan pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan serta jembatan dari sentra produksi tebu menuju pabrik gula, khususnya pada jalur Brongkos – Jalan Lintas Selatan (JLS).
"Daerah ini (Blitar) memiliki identitas yang kuat sebagai sentra tebu dengan keberadaan pabrik gula yang menjadi penopang utama perekonomian. Karena itu, diperlukan dukungan infrastruktur yang memadai agar nilai ekonomi yang diterima petani semakin meningkat," ujar Sarjan saat menghadiri peresmian dimulainya musim giling tebu tahun 2026 perusahaan gula PT Rejoso Manis Indo (RMI), di Blitar, Sabtu (30/5/2026)
Dalam rangkaian acara pembukaan musim giling PT RMI, para petani tebu Blitar yang menjadi mitra RMI berinisiatif untuk membacakan deklarasi. Menurut Sarjan, isi deklarasi ini sejalan dengan arahan Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengenai pentingnya pembangunan konektivitas dan infrastruktur terintegrasi.
Hal ini diperlukan guna mendukung pencapaian swasembada pangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dan ini sesuai dengan instruksi presiden Republik Indonesia nomor 11 tahun 2025 tentang Percepatan Peningkatan Konektivitas Jalan Daerah untuk Mendukung Swasembada Pangan dan Energi.
Terkait hal ini, Pandutani Indonesia, kata Sarjan, akan berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan sejumlah kementerian terkait agar dukungan pemerintah pusat dapat hadir secara optimal di wilayah ini.
"Harapannya, para petani dapat merasakan langsung manfaat pembangunan infrastruktur sebagai nilai tambah bagi peningkatan produksi dan kesejahteraan mereka."
"Tidak menutup kemungkinan kami juga akan melibatkan Kementerian Transmigrasi, mengingat saat ini sudah berkembang konsep transmigrasi lokal, misalnya perpindahan penduduk antar-kecamatan," tutur Sarjan.
Dia juga berharap pertumbuhan ekonomi di wilayah selatan dapat semakin dipacu sehingga mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja, yang bermuara pada peningkatan taraf hidup masyarakat.
"Potensi yang dapat dikembangkan juga sangat beragam, tidak hanya di sektor pertanian, tetapi juga pariwisata dan sektor-sektor lainnya. Saya kira hal ini akan menjadi nilai tambah yang besar bagi daerah," tukasnya.
Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PT RMI, Syukur Iwantoro memandang, deklarasi Petani Tebu Blitar sebagai bentuk komitmen bersama para petani dengan pihak perusahaan dalam meningkatkan kualitas tebu, memperkuat kemitraan, dan mendukung upaya peningkatan produksi gula nasional.
"Kami optimisme terhadap kelancaran operasional musim giling tahun 2026 serta komitmen dalam memperkuat kolaborasi antara perusahaan, petani, dan pemerintah guna mewujudkan kemandirian gula nasional," kata dia.
Menurut Syukur, saat ini tantangan terbesar industri gula masih dipengaruhi faktor cuaca yang berdampak langsung terhadap kualitas bahan baku. "Karena itu, sinergi antara petani dan pabrik menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas selama musim giling berlangsung," tuturnya.
Syukur menambahkan, pihaknya terus melakukan bimbingan, pembinaan dan pemberian insentif kepada petani, termasuk di dalamnya sistem pembayaran, harga yang tepat sesuai dengan aturan pemerintah. "Pendampingan ini mencakup aspek teknis budidaya hingga sistem pembayaran yang adil, memastikan kesejahteraan petani tetap menjadi perhatian utama," tandasnya.
Setali tiga uang, Bupati Blitar, Rijanto menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya-upaya peningkatan kualitas dan kuantitas tebu. Pemerintah Kabupaten Blitar memberikan fasilitas bongkar ratoon dan mendorong penanaman bibit unggul tebu, yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas tanaman secara keseluruhan.
"Petani tentunya selama ini sudah kerja keras, kami bimbing, kami dampingi untuk bongkar ratoon, penanaman bibit unggul tebu. Harapannya kalau ini kompak ditanam dengan baik, produksi tebu ke depan semakin bagus," ujar Bupati Rijanto.
Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan hasil panen tebu dan pada akhirnya berdampak positif pada produksi gula. Sinergi antara pemerintah daerah, petani, dan pabrik menjadi kunci keberhasilan program ini.
Keberadaan PT RMI Memberi Dampak Positif
Diketahui, Deklarasi Petani Tebu Blitar menegaskan komitmen petani dalam mendukung keberhasilan swasembada gula nasional melalui peningkatan produksi dan penguatan kemitraan dengan industri gula.
Petani juga menilai keberadaan PT Rejoso Manis Indo yang merupakan bagian dari Mitr Phol Group dan anggota dari Gabungan Produsen Gula Indonesia (GAPGINDO) khususnya di wilayah Kecamatan Binangun, telah memberikan dampak positif.
Dampak positif yang ditimbulkan, di antaranya melalui kemitraan yang transparan dan berkelanjutan, termasuk dalam aspek kepastian pembelian, kejelasan harga, serta sistem pembayaran yang akuntabel.
Dalam pernyataannya, masyarakat petani tebu Kabupaten Blitar menyampaikan bahwa daerah tersebut memiliki potensi yang signifikan dalam mendukung program swasembada gula nasional.
Peningkatan luas areal tanam, produktivitas, serta jumlah petani menjadi indikator positif perkembangan sektor tebu di wilayah tersebut.
Petani juga menilai keberadaan PT Rejoso Manis Indo–Mitr Phol Group, khususnya di wilayah Kecamatan Binangun, telah memberikan dampak positif melalui kemitraan yang transparan dan berkelanjutan, termasuk dalam aspek kepastian pembelian, kejelasan harga, serta sistem pembayaran yang akuntabel.
Lalu, penetapan kebijakan harga tebu yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong pertumbuhan industri gula; dan peningkatan akses terhadap pembiayaan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Kemudian, kemudahan dalam memperoleh pupuk subsidi maupun non-subsidi dengan harga yang terjangkau; Ketersediaan bibit tebu unggul yang sesuai dengan kondisi agroklimat setempat;
Berikutnya, penguatan program pendampingan dan pembinaan bagi petani untuk meningkatkan produktivitas; Kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya yang berpihak kepada petani tebu dan industri gula berbasis tebu di Indonesia.
Setelah pembacaan deklarasi, acara dilanjutkan dengan penyelenggaraan Opening Ceremony Crushing Season 2026 yang dikemas dalam tradisi “Manten Tebu”.
Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya operasional giling tahun 2026 PT Rejoso Manis Indo (RMI), yang sekaligus mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga kesinambungan produksi gula nasional.
Acara dihadiri oleh jajaran manajemen, mitra petani tebu, pemangku kepentingan, serta perwakilan pemerintah. Dalam musim giling tahun ini, perusahaan menargetkan pengolahan tebu milik petani sebesar 1,55 juta ton dengan tingkat rendemen mencapai 8 persen.
Untuk mendukung pencapaian tersebut, perusahaan telah menyiapkan kapasitas giling sebesar 10.000 TCD (ton cane per day) serta menargetkan produksi gula kristal putih sebesar 128.000 ton.
Target tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas industri gula nasional, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Program Swasembada Gula Nasional.
Melalui pelaksanaan Opening Ceremony Crushing Season 2026 ini, PT Rejoso Manis Indo – Mitr Phol Group menegaskan optimisme terhadap kelancaran operasional musim giling tahun2026 serta komitmen dalam memperkuat kolaborasi antaraperusahaan, petani, dan pemerintah guna mewujudkan kemandirian gula nasional.
