Logo Porosbumi
04 Mei 2026,
04 May 2026
LIVE TV

Ledakan Ikan Sapu-Sapu Alarm Ekologi Kerusakan Lingkungan

PorosBumi 04 Mei 2026, 10:09:31 WIB
Ledakan Ikan Sapu-Sapu Alarm Ekologi Kerusakan Lingkungan

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu di perairan umum, khususnya di Jakarta, merupakan sebuah “alarm ekologi” yang menandakan adanya kerusakan lingkungan dan kontaminasi udara yang serius. Keberadaan spesies ikan asing invasif ini kini menjadi tantangan besar bagi pelestarian keanekaragaman hayati ikan asli Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk “Di Balik Ikan Sapu-Sapu: Gelombang Spesies Asing di Perairan Indonesia”, di Media Lounge Gedung B.J Habibie, Thamrin, Jakarta, Kamis (30/4).

Triyanto menjelaskan, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) sebenarnya merupakan ikan pendatang asal Amerika Selatan yang masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias. Namun, kemampuan adaptasinya yang luar biasa di perairan buruk menjadikannya dominan di sungai-sungai yang tercemar.

“Ikan sapu-sapu ini adalah bio-indikator untuk kerusakan lingkungan. Jadi jangan salahkan ikan sapu-sapunya dulu. Masalah utamanya adalah kontaminasi. Selama kontaminasinya tidak kita tutupi dan kita tidak merehabilitasi perairan sungai, maka ikan invasif akan terus muncul,” ujar Triyanto.

Ia menambahkan, ikan ini memiliki kemampuan bertahan hidup di kondisi ekstrem dengan kadar oksigen rendah dan polusi tinggi, kondisi yang justru mematikan bagi ikan asli Indonesia yang cenderung lebih sensitif atau “malu-malu”.

Dalam paparannya, Triyanto menyebutkan setidaknya terdapat 50 jenis spesies asing yang terdata di Indonesia, dengan 18 di antaranya memiliki sifat invasif. Ikan sapu-sapu menjadi salah satu yang paling mencolok karena dampaknya yang multidimensi, mulai dari ekologi hingga infrastruktur.

“Dampaknya pertama adalah kompetisi sumber daya. Ikan sapu-sapu lebih rakus dan pertumbuhannya lebih cepat. Mereka menguasai ruang dan makanan, sehingga ikan lokal kita kalah. Secara fisik, mereka juga merusak infrastruktur tebing sungai karena kebiasaan membuat lubang untuk bersarang,” jelasnya.

Selain itu, ikan sapu-sapu memiliki perlindungan tubuh berupa armor atau lapisan keras berbahan kalsium yang membuatnya meminimalkan predator alami di perairan Indonesia. “Di Amazon sana ada buaya atau berang-berang yang memakan mereka. Di sini, predator alaminya hampir tidak ada, kecuali manusia,” tambah Triyanto.

Terkait maraknya konsumsi ikan sapu-sapu dalam bentuk makanan pangan seperti siomay atau cilok, Triyanto memberikan penjelasan edukatif agar masyarakat tidak panik namun tetap waspada. Ia menjelaskan stigma ikan ini mengandung racun, namun menekankan adanya risiko akumulasi logam berat jika ikan diambil dari sungai tercemar seperti di Jakarta.

“Ikan sapu-sapu sebenarnya sumber protein. Di Brazil, ini jadi makanan khas yang enak. Namun, karena di kita mereka hidup di udara tercemar, mereka menyerap logam berat melalui mekanisme protein metallothionein. Data kesehatan menunjukkan, seseorang baru akan terpapar dampak logam berat jika mengonsumsi sekitar 8 kilogram daging ikan tersebut per minggu secara rutin selama bertahun-tahun,” ungkapnya.

Meski demikian, BRIN mendorong pemanfaatan agar ikan sapu-sapu lebih diarahkan pada sektor non-pangan untuk mengurangi populasi aman, seperti pengolahan menjadi pupuk organik cair, pakan ternak, hingga arang aktif (bio-char).

Triyanto menggarisbawahi upaya pembersihan ikan sapu-sapu di Jakarta tidak akan efektif apabila tidak dilakukan secara terintegrasi dengan wilayah penyangga, seperti Depok, Cibinong, dan Bekasi. Menurutnya, keterkaitan aliran sungai antarwilayah menyebabkan pergerakan telur dan anakan ikan terus berlangsung dari hulu ke hilir.

“DKI Jakarta ini diduga sebagai daerah pembesaran. Kalau cuma dibersihkan di Jakarta tapi kota satelitnya tidak berkoordinasi, telur dan anakan ikan dari hulu akan terus masuk ke Jakarta. Ini akan jadi siklus yang tidak berhenti,” tegas Triyanto.

Lebih lanjut, ia mengatakan pengendalian spesies invasif memerlukan strategi nasional yang dilakukan secara bertahap dan terintegrasi, melalui pemanfaatan teknologi pemantauan berbasis sistem deteksi dini seperti teknologi akustik (fish finder) untuk memetakan sebaran secara lebih akurat, serta peningkatan partisipasi masyarakat melalui edukasi agar tidak melepaskan ikan asing ke perairan umum dan mendorong program penangkapan yang memiliki nilai ekonomi.

Triyanto mengajak seluruh pihak untuk tidak hanya berfokus pada penanganan ikan sapu-sapu, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan perairan sebagai langkah utama dalam mengendalikan spesies invasif. Menurutnya, kondisi sungai yang bersih menjadi kunci dalam menekan laju pertumbuhan populasi ikan tersebut.

“Pengendalian ikan asing ini, baik yang asing maupun invasif, adalah mari kita cegah, kendalikan, dan manfaatkan sesuai peruntukannya serta mendukung kesehatan dan keberlanjutan sumberdaya”, tutupnya. (kay, del/ed: tnt)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```