Menag: Jadikan Idulfitri Sebagai Momentum Perkuat Empati dan Kepedulian Sosial
Gema takbir mulai menyelimuti penjuru negeri, mengakhiri bulan Ramadan yang penuh berkah. Namun, bagi Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Idulfitri 1 Syawal 1447 H bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan ajakan untuk mengukuhkan empati dan kepedulian sosial yang telah diasah selama sebulan penuh.
Dalam pesannya, Menag menegaskan bahwa Ramadan lebih dari sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi madrasah spiritual yang membentuk karakter, mengasah kepekaan, dan menumbuhkan kepedulian. “Puasa adalah proses mengasah kepekaan sosial,”ujar Menag, seraya mengingatkan bahwa di balik rasa lapar dan dahaga, tersimpan pesan kuat tentang empati kepada sesama, terutama mereka yang kekurangan.
Baca Juga
Kemenangan sejati Idulfitri, menurut Menag, bukanlah hanya kembalinya kita pada rutinitas. “Kemenangan sejati bukanlah sekadar kembalinya kita pada rutinitas, tetapi keberhasilan menjaga nyala api kesalehan,” ungkapnya.
Ini adalah tantangan untuk membawa nilai-nilai luhur Ramadan– disiplin, kejujuran, dan kepedulian–ke dalam sebelas bulan ke depan, menjadikannya pedoman dalam setiap langkah kehidupan.
Idulfitri juga disebutnya sebagai momentum emas untuk menyemai kebaikan dan meraih keberkahan. Keberkahan, kata Menag, akan hadir pada hati yang terbuka dan pada mereka yang tak lelah menebar manfaat bagi lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, Menag Nasaruddin Umar mengajak seluruh umat Islam untuk tidak membiarkan semangat Ramadan meredup begitu saja. Sebaliknya, ia mengajak umat menjadikan Idulfitri sebagai titik awal untuk terus melestarikan nilai-nilai kebaikan yang telah ditanam.
“Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan, kedamaian, dan kerukunan bagi bangsa Indonesia,” tutup Menag, mengakhiri pesannya dengan doa dan harapan. (yans)
