Logo Porosbumi
Rabu,
18 March 2026
LIVE TV

Mudik, Tradisi Primordial yang Selalu Fenomenal

Reporter: Yani Andriyansyah 18 Mar 2026, 00:05:21 WIB
Mudik, Tradisi Primordial yang Selalu Fenomenal

Ada satu rona yang selalu mewarnai dipengujung Ramadan, sebuah simfoni pergerakan massal yang tak lekang dimakan zaman, mudik! Ini bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan sebuah ritual, sebuah panggilan jiwa yang menggerakkan jutaan insan untuk menembus batas-batas rasionalitas. 


Uang boleh terkuras, tubuh boleh lelah berdesakan di antara lautan manusia di bus, kereta api, kapal laut, pesawat terbang, atau mobil pribadi. Kemacetan puluhan kilometer bukan lagi halangan, melainkan bagian dari epik perjalanan. Sebab, di ujung penantian, ada tanah kelahiran yang memanggil, ada dekapan hangat yang telah lama dinanti, meski bayangan risiko—dari kriminalitas hingga kecelakaan—tak pernah absen membayangi.


Sejarah mencatat, dari era Orde Lama hingga tatanan paling modern sekalipun, pemandangan para pemudik yang bergulat dengan kesulitan adalah kisah klasik. Perjuangan melawan harga tiket moda transportasi yang melambung tak wajar, semua itu adalah pengorbanan yang dianggap sepadan. Karena di balik semua hiruk-pikuk itu, tersemat satu tujuan yang sama, kembali ke pangkuan akar, ke tempat segala cerita bermula.


Anehnya, di tengah gempuran teknologi komunikasi yang serba canggih, tradisi ini justru kian menguat. Pesan singkat, telepon, atau sapaan di jejaring sosial, takkan pernah sanggup menggantikan kehangatan sentuhan fisik, tawa riang, dan pelukan erat saat Lebaran tiba. Silaturahmi, bagi sebagian besar kita, adalah tentang kehadiran, tentang tatap muka yang membersihkan hati dan mengikat kembali benang-benang kekeluargaan yang mungkin sempat renggang.


Jika ditarik lebih jauh ke belakang, budayawan Jacob Soemardjo dalam tulisannya Tradisi Mudik Tradisi Primordial, menyingkap bahwa mudik adalah warisan leluhur, sebuah tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Jauh sebelum Majapahit berdiri, mereka telah mengenal tradisi ini, yang dulu diwujudkan dalam ritual membersihkan makam dan berdoa bersama para dewa setiap tahun sekali, memohon keselamatan kampung halaman. Namun, seiring masuknya Islam, tradisi itu sempat dianggap syirik dan berangsur pudar. Hingga kemudian, semangat pulang kampung menemukan kembali momentumnya di hari raya Idulfitri, menjelma menjadi fenomena yang kita kenal sekarang.


Lebih dalam lagi, Emha Ainun Nadjib, atau Cak Nun, dalam bukunya Sedang Tuhan pun Cemburu (1994) dengan puitis menggambarkan: orang beramai-ramai mudik itu sebenarnya sedang setia kepada tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya. Sebuah kalimat yang menohok, menggambarkan betapa pulang kampung tak lain adalah sebuah kebutuhan mendasar manusia untuk kembali kepada fitrahnya, kepada rumah spiritualnya. Seolah mengingatkan, bahwa pada akhirnya, semua manusia akan mudik kepada Sang Khalik, asal muasal segala kehidupan.


Pandangan lain datang dari budayawan Umar Kayam. Dalam Seni, Tradisi, Masyarakat (1981), ia melihat mudik sebagai sebuah gerak eksodus spontan dan imperatif dari sanak keluarga yang tercerai-berai demi mencari nafkah. Saat orang-orang desa bermigrasi ke kota, mereka membawa serta nilai-nilai lama dari milieu budayanya, yang kemudian dikonfrontasi dengan nilai-nilai baru perkotaan. 


Mudik, menurut Kayam, menjadi akar sintesis budaya yang kukuh, memberikan potret budaya khas Indonesia. Sebuah romantika kerinduan yang tak pernah padam di hati para kaum urban, sebuah keinginan untuk kembali merasakan hangatnya keluarga yang setahun, bahkan bertahun-tahun, ditinggalkan.


Memang, mudik di Indonesia sering disebut sebagai migrasi temporer terbesar di dunia. Namun, fenomena ini bukanlah monopoli Nusantara semata. Di Amerika Serikat, tradisi pulang kampung juga hidup subur saat perayaan Thanksgiving dan Natal. Sebuah refleksi dari kebiasaan syukur atas hasil panen, di mana keluarga berkumpul untuk kenduri dengan hidangan kalkun. Begitu pula di Tiongkok, jutaan warganya tumpah ruah dalam festival musim semi dan Tahun Baru Imlek, berupaya kembali ke kampung halaman untuk merayakan kebersamaan selama lima belas hari.


Meski begitu, kemeriahan mudik di Indonesia memang terasa berbeda. Dibanding Jepang atau Malaysia yang manajemen transportasinya rapi dan kesadaran warganya tinggi, mudik di Tanah Air kerap diwarnai keruwetan, calo merajalela, infrastruktur jalan meski sudah cukup baik, tapi masih menyisakan macet, dan penegakan aturan yang seringkali abu-abu. Pernak-pernik tersebut menjadi santapan sedap bagi para kuli tinta, mengisi ruang media massa dengan berita-berita kecelakaan, penumpukan penumpang, hingga pencopetan. Semua itu seolah menambah drama dan kehebohan yang tak terhindarkan, membuat mudik di Indonesia selalu menyedot perhatian publik.


Namun, di atas semua itu, mudik adalah gerakan otonom rakyat, sebuah arus yang tak dapat dibendung. Mudik itu memang fenomena yang bikin hati campur aduk, antara perjuangan dan kerinduan. Suka atau tidak, setuju atau tidak, mudik dan segala pernak-perniknya akan terus terjadi. Karena pada hakikatnya, tujuan akhirnya selalu sama, kembali kepada asal-usul. Sebuah pengingat abadi bahwa, seperti yang Cak Nun katakan, kita semua, pada akhirnya, akan mudik kepada Sang Pencipta. (yans)

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```