Logo Porosbumi
14 Jun 2026,
14 June 2026
LIVE TV

Seabad David Attenborough, Sang Pecinta dan Perawi Saga Alam

PorosBumi 14 Jun 2026, 11:22:34 WIB
Seabad David Attenborough, Sang Pecinta dan Perawi Saga Alam

SOSOK yang telah menapaki usia seabad namun masih tampak gesit ini telah dua kali dianugerahi gelar kebangsawanan, dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian 2022, dan salah satu pecinta alam terkemuka di muka Bumi.

Jika ada kata sifat yang dapat dipilih untuk menggambarkan penyiar dan penulis lingkungan termasyhur asal Britania, David Attenborough, maka kata itu adalah "tak kenal lelah.”

Meski faktor usia membuat gerak-geriknya melambat, gairah sang presenter yang kini berusia 100 tahun terhadap dunia alam dan antusiasmenya untuk membagikan kegiatannya kepada para pemirsa — tak pernah surut sedikit pun. 

Ia memegang rekor dunia Guinness untuk "karier terpanjang sebagai presenter televisi dan naturalis.” Sejak penampilan perdananya di layar kaca dalam Animal Disguises pada tahun 1953 hingga dokumenter terbaru Netflix, "A Gorilla Story: Told by David Attenborough", kehidupannya di dunia penyiaran telah membentang lebih dari tujuh dekade.

Riwayat yang Menorehkan Sejarah

Selama bertahun-tahun, centenarian ini mengumpulkan beragam penghargaan dan gelar kehormatan — mulai dari 32 gelar doktor kehormatan hingga dua gelar kebangsawanan — dan bahkan mencatatkan rekor media sosial pada tahun 2020 ketika akun Instagram barunya meraih lebih dari satu juta pengikut hanya dalam waktu 4 jam 44 menit.

Ketika Blue Planet II tayang perdana pada tahun 2017, antusiasme penonton di Cina begitu dahsyat hingga media setempat melaporkan perlambatan internet sementara karena begitu banyak orang berlomba-lomba menonton produksi BBC itu secara daring.

Attenborough pertama kali dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Elizabeth II pada tahun 1985. Pada Juni 2022, ia kembali menerima kehormatan serupa dari Charles III — yang kala itu masih menjabat sebagai Pangeran Charles — atas dokumenter alam dan advokasinya, sehingga ia menyandang gelar Knight Grand Cross of the Order of St Michael and St George.

Pada bulan April di tahun yang sama, ia menerima penghargaan lingkungan tertinggi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni UN Champions of the Earth Lifetime Achievement Award. Bersama Paus Fransiskus dan Badan Kesehatan Dunia (WHO), ia juga termasuk salah satu nominator untuk Hadiah Nobel Perdamaian 2022.

Ia pun menjadi satu-satunya orang yang berhasil meraih penghargaan BAFTA Inggris di setiap era utama teknologi televisi — mulai dari  era TV hitam-putih, berwarna, HD, 3D, hingga 4K. Di tanah kelahirannya, Britania Raya, ia kerap disebut sebagai "harta nasional” — sebutan yang justru membuatnya kurang nyaman..

Ketertarikan Awal Pada Fosil

David Frederick Attenborough lahir pada 8 Mei 1926 di Inggris sebagai anak kedua dari tiga bersaudara laki-laki. Kakaknya, Richard Attenborough, adalah aktor dan sutradara termasyhur yang dikenal memerankan John Hammond dalam film Jurassic Park dan sekuelnya pada 1997, serta menyutradarai film pemenang Oscar, Gandhi pada tahun 1982.

Ketertarikannya pada arkeologi berakar sejak masa kanak-kanak. Dalam wawancara tahun 2019 dengan majalah Jerman Der Spiegel, ia mengatakan bahwa menemukan sisa-sisa makhluk purba yang "belum melihat cahaya matahari selama 150 juta tahun” terasa bagai sebuah bentuk "sihir.”

Ia kerap mengayuh sepedanya menempuh jarak jauh menuju tambang batu di sekitar tempat tinggalnya, berharap dapat menemukan lebih banyak spesimen.

Pada tahun 1936, ia menghadiri kuliah umum yang dibawakan penulis dan konservasionis Inggris terkenal, Grey Owl, yang meninggalkan kesan mendalam dan semakin menumbuhkan kecintaannya pada dunia alam.

Dulu Pemburu Gorila, Sekarang Jadi Pelindungnya

Setelah lulus dari Universitas Cambridge pada tahun 1947 dengan gelar di bidang ilmu pengetahuan alam, David Attenborough menjalani dua tahun wajib militer di angkatan laut Inggris.

Pada tahun 1950, ia melamar pekerjaan di layanan radio BBC, namun justru ditawari untuk mencoba program pelatihan baru milik lembaga penyiaran tersebut. Meski demikian, para atasannya sempat meragukan penampilannya di televisi, sebagaimana ia ceritakan kepada media Daily Mail pada tahun 2010.

"Empat puluh tahun kemudian saya baru mengetahui bahwa mereka pernah berkata tentang saya saat masih menjadi anak magang: ‘Dia mungkin pria yang sangat menyenangkan, mungkin juga produser yang sangat baik, tetapi jangan lagi disuruh jadi pewawancara di depan kamera karena giginya terlalu besar.'”

Pada akhirnya, Attenborough justru menjadi presenter di depan kamera, ketika ia diminta menggantikan seorang pembawa acara yang jatuh sakit. Seiring waktu, ia menduduki berbagai posisi penting di BBC.

Hingga akhirnya ia menjadi pengendali BBC Two, tempat ia memainkan peranan besar dalam menghadirkan siaran televisi berwarna kepada pemirsa Eropa. Ia pula yang menyetujui produksi besar pertama kelompok komedi Monty Python's Flying Circus pada tahun 1969.

Sang Juara Alam dengan "Bisikan Setengah Suara”

Namun, ia memilih meninggalkan jalur karier manajemen di BBC demi mempersatukan kecintaannya pada alam dengan dunia penyiaran. Ia menjadi narator di setiap episode serial panjang Wildlife on One (1977–2005).

Ia juga menjadi pengisi suara bagi dokumenter alam BBC terkenal lainnya seperti The Blue Planet dan Planet Earth, dengan gaya narasi khas yang pernah digambarkan NPR sebagai "cara bertutur lembut  setengah berbisik yang dipatenkan.”

Serialnya tahun 1979, Life on Earth, membuka cakrawala baru dengan merekam spesies-spesies di habitat alaminya di berbagai benua. Dokumenter itu juga menghadirkan adegan legendaris tanpa naskah ketika seekor gorila gunung berusia tiga tahun bernama Pablo datang lalu dengan manjanya rebahan di atas  tubuh Attenborough.

Pertemuan intim dengan para gorila itu membuatnya mengucapkan kalimat spontan berikut:"Ada lebih banyak makna dan saling pengertian dalam pertukaran tatapan dengan seekor gorila dibandingkan dengan hewan lain mana pun yang saya kenal.”

Lebih Dari 40 Spesies Menyandang Namanya, Tapi Takut Tikus

Para penonton juga kerap terhibur oleh makhluk-makhluk yang berbagi layar dengannya, bahkan dengan kocak kadang mencuri perhatian dari sang naturalis sendiri.

Saat pengambilan gambar The Paradise Birds, seekor burung cenderawasih yang bawel memaksa kru melakukan pengambilan ulang berkali-kali setelah terus-menerus menyela sang presenter dengan suara panggilannya dan gerakan-gerakan memikatnya.

Lebih dari 40 spesies flora dan fauna — baik yang masih hidup maupun telah punah — dinamai menurut namanya. Di antaranya adalah reptil laut prasejarah Attenborosaurus dan capung asal Madagaskar bernama Attenborough's pintail.

Namun ada satu hewan yang benar-benar membuatnya ketakutan. "Saya benar-benar, sungguh sangat membenci tikus. Saya pernah menangani laba-laba mematikan, ular, dan kalajengking tanpa berkedip sedikit pun. Tetapi jika saya melihat tikus, sayalah orang pertama yang akan kabur!” Demikian tuturnya kepada Entertainment Daily pada tahun 2021.

Tak Pernah Kehilangan Harapan

David Attenborough juga memanfaatkan perjalanan kariernya yang panjang dan pengaruh publiknya untuk menyerukan aksi iklim dan perlindungan lingkungan, kerap berbicara di berbagai forum internasional besar.

Namun justru pilihan katanya yang seimbang — mendesak tanpa terasa mengerikan — yang paling menggema di hati para penonton. "Kini kita dapat menghancurkan, atau kita dapat merawat; pilihan itu ada di tangan kita,” ujarnya dalam miniseri Planet Earth tahun 2009.

Pada tahun 2022, ia menerima Champion of the Earth Lifetime Achievement Award dari PBB. Dalam artikel ucapan selamat untuk media daring Tortoise, penulis Simon Barnes menulis: "Jika dunia ini memang akan diselamatkan, maka Attenborough akan menjadi orang yang paling besar jasanya terhadap keselamatan itu dibanding siapa pun yang pernah hidup.”

Realistis Pada Kematian

Dikutip dari Mirror, Sir David Attenborough menikahi istrinya Jane Elizabeth Ebsworth Oriel pada tahun 1950, dan pernikahan mereka bertahan hingga Jane meninggal dunia pada tahun 1997 di usia 70 tahun akibat pendarahan.

Jane dikenal karena kiprah amalnya bagi berbagai tujuan kemanusiaan. David Attenborough tidak pernah menikah lagi setelah kepergian Jane, dan ia berbicara secara terbuka mengenai rasa kehilangan mendalam yang ia rasakan.

Pada tahun 2020, Attenborough mengatakan kepada Anderson Cooper dalam acara 60 Minutes bahwa ia sendiri tidak takut pada kematian. "Saya hanya berharap prosesnya berlangsung cepat, terima kasih banyak.”

Pria yang banyak berbuat baik pada alam ini mengatakan bahwa yang lebih membuatnya gentar adalah "menjadi tak berdaya dan pikun,” seraya mengungkapkan rasa syukur dan keterkejutannya atas kesehatan yang relatif baik, sehingga masih memungkinkannya bekerja dan tetap aktif di usia lanjut. Sesuatu yang tentu diamini para pecintanya.

Karena itu, tak mengherankan bila berbagai dokumenter dijadwalkan memperingati 100 tahun kehidupannya di muka Bumi, termasuk sebuah perayaan di Royal Albert Hall yang menampilkan BBC Concert Orchestra dan para tamu istimewa untuk menghormati sang naturalis beserta kariernya yang gemilang.

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```