Pelaku Pasar Taksir Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III 2025 Hanya 4,8 Persen
JAKARTA- Indo Premier
Sekuritas (IPOT) menakar Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) akan bergerak fluktuatif pada pekan ini seiring rilis data ekonomi
domestik kunci, termasuk pertumbuhan ekonomi Kuartal III-2025, PMI Manufaktur,
dan inflasi Oktober.
Analis IPOT, Imam Gunadi menyarankan pelaku pasar untuk
fokus pada saham defensif dan emiten berkinerja solid.
Baca Juga
- Tidak ada berita terkait.
"Meskipun pertemuan Presiden Xi Jinping dan Trump serta kebijakan
The Fed yang menghentikan Quantitative
Tightening menjadi sentimen positif, trader perlu waspada terhadap padatnya
rilis data ekonomi domestik pekan ini.
Money management dan risk management
menjadi kunci utama," papar dia, Senin(3/11/2025).
Sedangkan bagi investor jangka panjang, kata dia, musim
rilis laporan keuangan menjadi waktu penting untuk mengevaluasi kinerja
emitennya dan melihat apakah kinerja Q3 sesuai dengan target atau masih jauh
dari target.
“Momen rilis laporan keuangan juga waktu bagi investor untuk kembali
mencari emiten-emiten yang tumbuh atau turn
around dari kinerja historisnya,” jelas dia.
Secara umum dia menilai pergerakan IHSG pada pekan
ini, 3-7 November 2025 akan terpapar pengumuman 3 indikator ekonomi. Pertama,
pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 Indonesia.
Dia mengutip Konsensus Bloomberg yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,8
persen, menandakan potensi perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Apalagi Menteri
Keuangan RI, Purbaya Yudhi
Sadewa telah mengindikasikan bahwa kinerja ekonomi Q3
kemungkinan sedikit lebih rendah dibandingkan Q2-2025 seiring moderasi
aktivitas domestik dan tekanan eksternal.
Kedua, Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) atau indeks kesehatan sektor
manufaktur sebelumnya tercatat melambat dari 51,5 menjadi 50,4. Pelemahan ini
ditengarai disebabkan kenaikan biaya produksi dan melemahnya permintaan ekspor.
Ketiga,Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis
data inflasi awal pekan ini. Konsensus memperkirakan inflasi tahunan akan
melandai menjadi 2,59 persen (yoy) dari 2,65 persen (yoy) pada September,
menandakan stabilitas harga yang relatif terjaga.
Sedangka sentimen
global, menurut dia terkait pertemuan Presiden Xi Jinping dan Donald Trump di Busan, Korea Selatan,
pada 30 Oktober 2025 yang menghasilkan kesepakatan penting. Amerika Serikat
sepakat menurunkan tarif impor produk China dari 57 persen menjadi 47 persen, sementara China
berkomitmen membeli kembali 12 juta ton kedelai AS hingga Januari 2026.
Kesepakatan lain mencakup penundaan pembatasan ekspor rare earth oleh
China selama satu tahun, dan penurunan tarif fentanyl AS dari 20% ke 10%.
Sementara itu dari sisi pasar keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) berpotensi bergerak dinamis mengikuti sentimen dari rilis data ekonomi
domestik.
“Secara teknikal, level 8.354 menjadi batas atas untuk skenario
optimistis, dengan asumsi bahwa rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi
mampu menunjukkan stabilitas fundamental yang cukup baik serta menjaga persepsi
positif investor terhadap daya tahan ekonomi nasional,” pungkas dia.