Pemadaman Listrik Bergilir, Dosen UGM Dorong PLN Kurangi Ketergantungan pada Batubara
PEMADAMAN listrik bergilir menjadi
permasalahan yang belum berakhir. Intensitas pemadaman lebih yang kerap terjadi
pada beberapa minggu lalu. Pemerintah melalui PLN menyampaikan penyebab
pemadaman bergilir akibat terbatasnya pasokan batu bara. Di sejumlah daerah di
Yogyakarta pun turut mengalami hal demikian. Pemadaman yang terjadi kerap
dilakukan dalam durasi lama.
Menanggapi kasus kebijakan pemadaman bergilir ini, Dosen
Teknik Fisika UGM, Dr. Ir. Rachmawan Budiarto, S.T., M.T., IPU, menilai
persoalan ini bukan hanya masalah ketersediaan batu bara dan teknis pembangkit
saja, tetapi terdapat banyak faktor yang menjadi sebab dari permasalahan
tersebut.
Ia menyebutkan fluktuasi dari harga energi dunia menjadi
penyebab pemadaman bergilir tersebut dilakukan. Selain itu, tata kelola
batubara terkait dengan penetapan harga, kuota atau target produksi, dan
pembagian batubara yang digunakan untuk konsumsi listrik dalam negeri dan
diekspor, serta volume dan spesifikasi batubara itu sendiri, bagi Rachamawan
merupakan penyebab yang kompleks untuk permasalahan adanya pemadaman listrik
bergilir.
Baca Juga
“Teknis pembangkit, ketersediaan batubara yang bergantung
pada volume, kemudian spesifikasi batubara, pengelolaan listrik dalam PLN
terkait masalah subsidi dan kompensasi listrik, itu adalah hal yang kompleks,”
terangnya, Selasa (7/7).
Soal kepastian batubara yang dialokasikan untuk PLN, serta
kemampuan PLN dan negara untuk menyediakan batubara yang sesuai dengan
spesifikasi PLTU milik PLN, Rachmawan menegaskan pasokan listrik yang dimiliki
oleh PLN merupakan sinergi antara pemerintah dengan salah satu pemangku
kepentingan, yaitu para pengusaha batubara.
Pada saat PLN belum memiliki kepastian pasokan batubara,
baik dari segi volume, spesifikasi (tingkat kalori), maupun soal waktu, PLN
harus membeli batubara dengan cara lain. Misalnya, jika diperbolehkan membeli
dengan harga pasar, tantangannya adalah kondisi arus kas yang memungkinkan PLN
untuk menggunakan cara itu.
“Kepastian pasokan batubara yang memiliki spesifikasi
tertentu, kemungkinan membuat PLN harus membeli batu bara dengan cara yang
lain. Nah, itu juga menjadi tantangan tersendiri,” ungkap Rachamwan.
Rachmawan menyebutkan pemadaman bergilir ini bukan hanya
disebabkan permasalahan volume pasokan batubara melainkan pada kualitas atau
spesifikasi batubara. Meskipun Indonesia memiliki banyak pasokan batubara,
namun spesifikas dan kualitas masih kurang.
Ia menegaskan bahwa terdapat tiga kategori batubara
berdasarkan tingkat kalorinya, yaitu kalori rendah, kalori menengah, dan kalori
tinggi. “Cadangan yang paling banyak tersedia di Indonesia adalah batubara
kalori rendah,” sebutnya.
Sementara itu, konsesi PLTU secara umum masih kesulitan,
untuk langsung menyerap atau memakai batubara kalori rendah tanpa adanya
modifikasi pada sistem pembangkitnya. Meski memiliki cadangan batubara
melimpah.
“Jika diminta untuk menyerap atau memakai batubara kalori
rendah harus ada modifikasi. Meskipun cadangan batubara melimpah tapi
permasalahannya adalah pada spesifikasi kualitas batubaranya itu,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rachmawan menerangkan bahwa fokus listrik
harus pada keterjangkauan dan ketersediaannya untuk menjaga kepentingan
masyarakat kelas bawah. Selain itu, listrik harus tersedia untuk aktivitas
produksi agar dunia usaha bisa mendapatkan margin keuntungan yang sesuai. Jika
tarif listrik terlalu mahal, hal itu tidak akan menguntungkan bagi iklim usaha.
Untuk menjaga agar dunia usaha tetap berjalan dengan baik,
masyarakat menengah ke bawah terlindungi, dan lapangan pekerjaan bertambah,
sementara pemerintah saat ini masih harus memberikan subsidi dan kompensasi
energi baik listrik maupun BBM dalam jumlah anggaran yang sangat besar.
Rachmawan menyebutkan bahwa terdapat alternatif yang harus
dilakukan ke depan, antara lain dengan meningkatkan kemampuan PLN untuk
menyerap batubara kalori rendah. Hal ini memerlukan modifikasi tertentu pada
pembangkit dan sistem PLN secara keseluruhan.
Kemudian dengan mempercepat transisi energi.
“Kejadian kemarin menggarisbawahi pentingnya mempercepat
pertumbuhan pemanfaatan energi terbarukan agar kita tidak terlalu bergantung
pada batubara untuk kelistrikan,” ujarnya.
Tidak hanya itu, ia
mendorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari ekspor
batubara serta mengurangi kebutuhan batubara untuk listrik dalam negeri.
Sedangkan alternatif sumber energi terbarukan baseload yang
dapat menggantikan batubara, ia mendorong pemerintah menggenjot pembangkit
Panas Bumi atau Geothermal dan PLTN yang persiapannya mulai terlihat dilakukan
oleh pemerintah. Selain itu, PLTA juga memiliki karakteristik yang mendekati
baseload dan harus dipercepat pengembangannya.
Sementara tenaga surya atau Photovoltaik, meskipun bukan
baseload, tetapi akselerasinya juga sangat bagus untuk dilakukan. Ia
menyebutkan bahwa tantangan utama dalam mempercepat pengembangan energi
terbarukan ini adalah masalah dana.
“Sebenarnya masalah sebagian dari penghematan uang negara
tersebut dapat dialokasikan untuk mempercepat pembangunan energi baru dan
terbarukan. Dengan demikian, ketergantungan kita terhadap batubara dapat
dikurangi dengan lebih cepat,” pungkasnya. (fatihah salwa rasyid)
