Logo Porosbumi
Rabu,
23 September 2026
LIVE TV

Sederet Fakta 1 Jasad Kru Speedboat Rombongan Wartawan yang Hilang Ditemukan di Pulau Enggano

PorosBumi 23 Sep 2026, 21:36:18 WIB
Sederet Fakta 1 Jasad Kru Speedboat Rombongan Wartawan yang Hilang Ditemukan di Pulau Enggano

SATU jasad pria yang ditemukan di Pesisir Desa Kahyapu/Sawang Bengkok, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, berhasil diidentifikasi sebagai Surakman (60), kru Kapal Arupadhatu 1 yang membawa rombongan jurnalis peliput erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, dan dinyatakan hilang kontak sejak 7 September 2026.

Temuan jasad korban yang terdampar di Pulau Enggano, berjarak sekitar 340-360 kilometer dari titik lokasi awal hilangnya kontak Kapal Arupadhatu 1 yang membawa korban bersama 5 jurnalis dan 2 kru lainnya, di perairan Selat Sunda. Pencarian intensif oleh Tim SAR gabungan ditutup pada Kamis, 17 September 2026.

Diketahui, jasad korban ditemukan warga Pulau Enggano pada Sabtu, 12 September 2026 (bertepatan dengan hari kelima pencarian oleh Tim SAR Gabungan). Karena kondisi wajah jasad sudah rusak, tubuh mulai membusuk dan mengeluarkan bau menyengat serta tidak ada warga lokal yang mengenalinya, akhirnya warga memutuskan untuk langsung memakamkan jasad tersebut pada malam harinya.

Setelah warga desa mendapatkan informasi resmi mengenai adanya insiden kapal berpenumpang 8 orang yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Menyadari adanya kemiripan ciri fisik, warga bersama otoritas setempat memutuskan untuk menggali kembali makam tersebut, pada Minggu, 13 September 2026,  

Jenazah kemudian dievakuasi oleh tim Polda Bengkulu untuk dibawa ke rumah sakit guna proses identifikasi lebih lanjut. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polri mengumpulkan sampel DNA (data antemortem) dari seluruh keluarga korban yang dilaporkan hilang di Banten. Data primer yang dicocokkan meliputi sidik jari, gigi, dan DNA.

Proses pemeriksaan laboratorium forensik ini memakan waktu sekitar 10 hari, dari 13-23 September 2026. Pada Rabu, 23 September 2026, Polda Banten secara resmi mengumumkan bahwa hasil tes DNA terhadap jasad di Pulau Enggano dinyatakan identik dan cocok secara biologis dengan anak kandung Surakman. Kepolisian juga memastikan bahwa korban meninggal adalah Surakman, ABK kapal yang membawa rombongan wartawan.

Pihak berwenang menjadwalkan pemulangan jenazah Surakman dari Bengkulu menuju Banten melalui Bandara Soekarno-Hatta untuk diserahkan kepada pihak keluarga. Sementara itu, nasib 5 jurnalis serta 2 kru kapal lainnya masih belum dapat dipastikan, karena proses pencarian di lapangan belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban lainnya.

 

BRIN Pelajari Pergerakan Hanyut di Selat Sunda Berdasarkan Dinamika Laut

Sementara itu, Tim Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, memanfaatkan model transpor partikel Euler-Lagrangian untuk memetakan pola pergerakan orang yang hanyut di perairan Selat Sunda. Pemodelan dengan ribuan partikel hipotetik menghasilkan peta probabilitas yang menggambarkan kemungkinan wilayah penyebaran berdasarkan dinamika arus, gelombang, dan angin.

Kajian ini dilakukan untuk memberikan informasi ilmiah tambahan dalam memahami kemungkinan lintasan hanyut delapan orang yang hilang kontak di Selat Sunda pada 7 September 2026 lalu, saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Tim yang diketuai peneliti PRIMA BRIN Widodo Setiyo Pranowo menjalankan simulasi menggunakan data arus laut dan sejumlah skenario kondisi korban serta dorongan angin.

Menurut Widodo, dinamika arus dan gelombang menjadi faktor penting dalam memperkirakan arah dan kecepatan hanyut. “Kecepatan hanyut yang dibangkitkan gelombang itu sekitar 40% dari total arus permukaan yang ada di lokasi itu. Jadi, kondisi arus seperti ini akan sangat penting bagi prediksi penyebaran korban,” ujar Widodo dalam wawancara pada Jumat, (18/9).

Dalam pemodelan tersebut, tim BRIN menyimulasikan ribuan partikel hipotetik yang merepresentasikan orang dengan berat badan tertentu dan menggunakan pelampung. Pergerakannya dihitung secara berkala dengan mempertimbangkan arus, angin, serta penyimpangan arah akibat bagian tubuh yang berada di atas permukaan air atau dikenal sebagai leeway. Tim juga menggunakan skenario berat badan 60 – 70 kilogram, untuk melihat pola sebaran dan probabilitasnya.

“Hasil pemodelan menunjukkan pentingnya ketepatan informasi lokasi awal, aua versi koordinat lokasi hilang kontak yang berbeda sekitar 30 kilometer menghasilkan lintasan yang sangat berbeda. Dalam satu skenario, partikel bergerak ke barat menyusuri pesisir Lampung, sedangkan skenario lainnya masuk ke arus pantai Samudra Hindia dan bergerak jauh ke arah barat laut. Ketidakpastian 30 kilometer pada titik awal berkembang menjadi sekitar 221 hingga 292 kilometer pada posisi akhir,” bebernya.

Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, tim menjalankan delapan skenario dengan mengombinasikan perbedaan lokasi, waktu kejadian, dan dorongan angin. Hasilnya kemudian digabungkan melalui pendekatan ensembel menjadi peta probabilitas.

Area yang mencakup 95 persen kemungkinan posisi korban berkembang dari sekitar 2.700 kilometer persegi pada hari keenam menjadi lebih dari 10.500 kilometer persegi pada hari ke-14. Widodo menekankan bahwa pemodelan hanyut perlu didukung data lapangan dan informasi kelautan yang lengkap.

“Semua parameter atau kejadian di laut secara fisik memang harus dikumpulkan semua, mulai dari kondisi gelombang, kondisi arus, kemudian kondisi yang ada di angkasa termasuk angin dan citra satelit. Itu harus dikumpulkan untuk dianalisis dan dihubungkan dengan kondisi stabilitas kapal, kelaikan, dan muatannya,” ungkapnya.

Tim OCRG BRIN menegaskan bahwa hasil pemodelan merupakan alat bantu perencanaan, bukan penentu lokasi korban. Model masih memiliki keterbatasan, antara lain penggunaan data angin yang diperkirakan dari tinggi gelombang serta asumsi korban tetap mengapung dengan pelampung. Hasil simulasi juga belum dapat diuji menggunakan temuan lapangan.

“Kajian ini menunjukkan potensi pemodelan laut untuk mendukung kesiapsiagaan pencarian dan pertolongan di perairan Indonesia. Pengembangan protokol pemodelan hanyut, pemasangan pelampung berpenjejak satelit, model hidrodinamika beresolusi tinggi. Kemudian, pencatatan koordinat kejadian secara seragam dan terverifikasi menjadi langkah yang dapat dikembangkan lebih lanjut,” pungkasnya. (frw, kf/ed. ns)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```