Sederet Fakta 1 Jasad Kru Speedboat Rombongan Wartawan yang Hilang Ditemukan di Pulau Enggano
SATU jasad pria yang ditemukan di Pesisir
Desa Kahyapu/Sawang Bengkok, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu,
berhasil diidentifikasi sebagai Surakman (60), kru Kapal Arupadhatu 1 yang
membawa rombongan jurnalis peliput erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda,
dan dinyatakan hilang kontak sejak 7 September 2026.
Temuan jasad korban yang terdampar di Pulau Enggano, berjarak
sekitar 340-360 kilometer dari titik lokasi awal hilangnya kontak Kapal Arupadhatu
1 yang membawa korban bersama 5 jurnalis dan 2 kru lainnya, di perairan Selat
Sunda. Pencarian intensif oleh Tim SAR gabungan ditutup pada Kamis, 17
September 2026.
Diketahui, jasad korban ditemukan warga Pulau Enggano pada Sabtu,
12 September 2026 (bertepatan dengan hari kelima pencarian oleh Tim SAR
Gabungan). Karena kondisi wajah jasad sudah rusak, tubuh mulai membusuk dan
mengeluarkan bau menyengat serta tidak ada warga lokal yang mengenalinya, akhirnya
warga memutuskan untuk langsung memakamkan jasad tersebut pada malam harinya.
Baca Juga
Setelah warga desa mendapatkan informasi resmi mengenai
adanya insiden kapal berpenumpang 8 orang yang hilang kontak di perairan Selat
Sunda. Menyadari adanya kemiripan ciri fisik, warga bersama otoritas setempat
memutuskan untuk menggali kembali makam tersebut, pada Minggu, 13 September
2026,
Jenazah kemudian dievakuasi oleh tim Polda Bengkulu untuk
dibawa ke rumah sakit guna proses identifikasi lebih lanjut. Tim Disaster
Victim Identification (DVI) Biddokkes Polri mengumpulkan sampel DNA (data
antemortem) dari seluruh keluarga korban yang dilaporkan hilang di Banten. Data
primer yang dicocokkan meliputi sidik jari, gigi, dan DNA.
Proses pemeriksaan laboratorium forensik ini memakan waktu
sekitar 10 hari, dari 13-23 September 2026. Pada Rabu, 23 September 2026, Polda
Banten secara resmi mengumumkan bahwa hasil tes DNA terhadap jasad di Pulau
Enggano dinyatakan identik dan cocok secara biologis dengan anak kandung
Surakman. Kepolisian juga memastikan bahwa korban meninggal adalah Surakman,
ABK kapal yang membawa rombongan wartawan.
Pihak berwenang menjadwalkan pemulangan jenazah Surakman
dari Bengkulu menuju Banten melalui Bandara Soekarno-Hatta untuk diserahkan
kepada pihak keluarga. Sementara itu, nasib 5 jurnalis serta 2 kru kapal
lainnya masih belum dapat dipastikan, karena proses pencarian di lapangan belum
menemukan tanda-tanda keberadaan korban lainnya.
BRIN Pelajari Pergerakan Hanyut di Selat Sunda
Berdasarkan Dinamika Laut
Sementara itu, Tim Ocean Climate Research Group (OCRG),
Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, memanfaatkan model transpor
partikel Euler-Lagrangian untuk memetakan pola pergerakan orang yang hanyut di
perairan Selat Sunda. Pemodelan dengan ribuan partikel hipotetik menghasilkan
peta probabilitas yang menggambarkan kemungkinan wilayah penyebaran berdasarkan
dinamika arus, gelombang, dan angin.
Kajian ini dilakukan untuk memberikan informasi ilmiah
tambahan dalam memahami kemungkinan lintasan hanyut delapan orang yang hilang
kontak di Selat Sunda pada 7 September 2026 lalu, saat meliput erupsi Gunung
Anak Krakatau. Tim yang diketuai peneliti PRIMA BRIN Widodo Setiyo Pranowo
menjalankan simulasi menggunakan data arus laut dan sejumlah skenario kondisi
korban serta dorongan angin.
Menurut Widodo, dinamika arus dan gelombang menjadi faktor
penting dalam memperkirakan arah dan kecepatan hanyut. “Kecepatan hanyut yang
dibangkitkan gelombang itu sekitar 40% dari total arus permukaan yang ada di
lokasi itu. Jadi, kondisi arus seperti ini akan sangat penting bagi prediksi
penyebaran korban,” ujar Widodo dalam wawancara pada Jumat, (18/9).
Dalam pemodelan tersebut, tim BRIN menyimulasikan ribuan
partikel hipotetik yang merepresentasikan orang dengan berat badan tertentu dan
menggunakan pelampung. Pergerakannya dihitung secara berkala dengan
mempertimbangkan arus, angin, serta penyimpangan arah akibat bagian tubuh yang
berada di atas permukaan air atau dikenal sebagai leeway. Tim juga
menggunakan skenario berat badan 60 – 70 kilogram, untuk melihat pola sebaran
dan probabilitasnya.
“Hasil pemodelan menunjukkan pentingnya ketepatan informasi
lokasi awal, aua versi koordinat lokasi hilang kontak yang berbeda sekitar 30
kilometer menghasilkan lintasan yang sangat berbeda. Dalam satu skenario,
partikel bergerak ke barat menyusuri pesisir Lampung, sedangkan skenario
lainnya masuk ke arus pantai Samudra Hindia dan bergerak jauh ke arah barat
laut. Ketidakpastian 30 kilometer pada titik awal berkembang menjadi sekitar
221 hingga 292 kilometer pada posisi akhir,” bebernya.
Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, tim menjalankan
delapan skenario dengan mengombinasikan perbedaan lokasi, waktu kejadian, dan
dorongan angin. Hasilnya kemudian digabungkan melalui pendekatan ensembel
menjadi peta probabilitas.
Area yang mencakup 95 persen kemungkinan posisi korban
berkembang dari sekitar 2.700 kilometer persegi pada hari keenam menjadi lebih
dari 10.500 kilometer persegi pada hari ke-14. Widodo menekankan bahwa
pemodelan hanyut perlu didukung data lapangan dan informasi kelautan yang
lengkap.
“Semua parameter atau kejadian di laut secara fisik memang
harus dikumpulkan semua, mulai dari kondisi gelombang, kondisi arus, kemudian
kondisi yang ada di angkasa termasuk angin dan citra satelit. Itu harus
dikumpulkan untuk dianalisis dan dihubungkan dengan kondisi stabilitas kapal,
kelaikan, dan muatannya,” ungkapnya.
Tim OCRG BRIN menegaskan bahwa hasil pemodelan merupakan
alat bantu perencanaan, bukan penentu lokasi korban. Model masih memiliki
keterbatasan, antara lain penggunaan data angin yang diperkirakan dari tinggi
gelombang serta asumsi korban tetap mengapung dengan pelampung. Hasil simulasi
juga belum dapat diuji menggunakan temuan lapangan.
“Kajian ini menunjukkan potensi pemodelan laut untuk
mendukung kesiapsiagaan pencarian dan pertolongan di perairan Indonesia.
Pengembangan protokol pemodelan hanyut, pemasangan pelampung berpenjejak
satelit, model hidrodinamika beresolusi tinggi. Kemudian, pencatatan koordinat
kejadian secara seragam dan terverifikasi menjadi langkah yang dapat
dikembangkan lebih lanjut,” pungkasnya. (frw, kf/ed. ns)
