SMP IL Kapten Fatubaa NTT di Perbatasan Indonesia-Timor Leste Juara Utama Lomba Se-Asia Pasifik
SEBUAH sekolah menengah pertama di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste berhasil mengharumkan nama bangsa usai memenangi lomba dengan menyisihkan hampir 1.000 peserta dari sembilan negara Asia Pasifik.
SMP IL Kapten Fatubaa, yang berada di Desa Fatubaa, Nusa Tenggara Timur, dinobatkan sebagai Juara Utama AIA Healthiest Schools Competition 2026 setelah berhasil mengubah limbah kulit pisang menjadi es krim, kompos, dan pupuk cair yang memberikan manfaat bagi lebih dari 1.000 masyarakat.
Atas prestasi tersebut, SMP IL Kapten Fatubaa berhak membawa pulang penghargaan san uang tunai senilai USD40.000 yang akan digunakan untuk mengembangkan program kesehatan dan keberlanjutan di sekolah.
Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa, SMP IL Kapten Fatubaa merupakan sekolah yang berada di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste. Setiap hari para siswanya harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer melalui jalan berbatu dan menyeberangi sungai tanpa jembatan untuk mencapai sekolah.
Di tengah keterbatasan tersebut, mereka justru melahirkan inovasi berbasis ekonomi sirkular yang kini menjadi inspirasi di tingkat Asia Pasifik. Melalui Huka Upcycling Project (HUP), para siswa mengolah limbah kulit pisang menjadi tiga produk bernilai ekonomi, yaitu es krim, kompos, dan pupuk cair.
Program tersebut melibatkan guru, orang tua, petani, koperasi, hingga masyarakat di wilayah perbatasan dan telah memberikan manfaat kepada lebih dari 1.000 orang.
"Melalui AIA Healthiest Schools Competition, kami melihat bagaimana anak-anak muda mampu mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata," kata Stuart A. Spencer, Head Judge AIA Healthiest Schools Competition sekaligus Group Chief Marketing Officer AIA Group.
SMP IL Kapten Fatubaa menunjukkan bahwa inovasi sederhana dari komunitas lokal dapat menghasilkan dampak besar bagi kesehatan dan lingkungan. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sekolah dengan fasilitas lengkap.
Berangkat dari tantangan sehari-hari di wilayah perbatasan, para siswa mampu menghadirkan solusi yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesehatan masyarakat.
Prestasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak perubahan dan membawa inspirasi hingga tingkat regional. (fadlik al iman)
