Logo Porosbumi
01 Sep 2026,
01 September 2026
LIVE TV

Tanpa Percepatan PSR, Indonesia Berisiko Kekurangan Produksi Sawit Tahun Depan

PorosBumi 01 Sep 2026, 01:26:05 WIB
Tanpa Percepatan PSR, Indonesia Berisiko Kekurangan Produksi Sawit Tahun Depan

GABUNGAN Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperingatkan bahwa Indonesia berisiko mengalami kekurangan produksi minyak sawit (CPO) pada tahun depan apabila program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) tidak segera dipacu dan digenjot.

Risiko defisit produksi ini kian mengancam seiring hadirnya fenomena iklim El Nino yang siap menekan volume panen nasional. Peringatan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, dalam pemaparannya mengenai kondisi terkini dan proyeksi industri sawit nasional.

“Masalah utama yang membebani produksi kita sebenarnya adalah terkendalanya Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Seharusnya produksi kita tahun lalu sudah bisa di atas 60 juta ton apabila PSR itu berhasil," kata Eddy Martono.

"Kendala utamanya ada pada perizinan, padahal dana dari BPDP sudah disediakan tetapi tidak pernah bisa dicapai karena realisasi PSR yang sangat lambat,” tegas Eddy.

Menurut Eddy, jika realisasi PSR tidak segera dipercepat, kapasitas produksi nasional tidak akan mampu menahan beban penurunan akibat dampak cuaca ekstrem.

GAPKI mencatat, ancaman Strong El Nino dan kondisi Positive Indian Ocean Dipole (IOD) yang menyebabkan kekeringan tanpa hujan hingga akhir tahun berpotensi memangkas produksi CPO secara signifikan pada tahun depan.

“Jika tidak terjadi El Nino, perkiraan produksi kita di tahun depan bisa naik menjadi 59,5 juta ton. Namun akibat dampak El Nino, kami memproyeksikan terjadi penurunan produksi sebesar 9,85% atau berkurang sekitar 5 juta ton, sehingga total produksi bisa turun menjadi 53 juta ton,” jelas Eddy.

Kondisi penurunan produksi hingga ke angka 53 juta ton ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena tidak seimbang dengan lonjakan konsumsi dalam negeri.

Konsumsi domestik terus meningkat, di mana sektor biodiesel saja diperkirakan membutuhkan alokasi CPO sebesar 16,5% hingga mencapai lebih dari 17,4 juta ton.

Sebagai konsekuensi dari ancaman kekurangan produksi tersebut, Indonesia terpaksa mengorbankan alokasi ekspor demi mengamankan kebutuhan dalam negeri.

Volume ekspor CPO yang pada tahun lalu mencapai 32 juta ton diproyeksikan bakal merosot menjadi 27 juta ton (turun 5 juta ton).
Penurunan volume ekspor ini berisiko mengurangi penerimaan dana kelolaan BPDP untuk mendukung subsidi biodiesel, baik secara volume maupun secara finansial.

Selain itu, keterbatasan stok juga berpotensi menekan harga CPO domestik dan pada akhirnya berdampak negatif pada harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani.

Oleh karena itu, GAPKI menyambut baik langkah pemerintah yang mulai mempermudah hambatan perizinan PSR. GAPKI menegaskan bahwa akselerasi PSR adalah harga mati agar produktivitas lahan sawit nasional dapat meningkat pesat demi menjaga ketahanan pasokan CPO Indonesia di masa mendatang. (fetri wuryasti)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```