Logo Porosbumi
16 Mar 2026,
16 March 2026
LIVE TV

Waspada Kemarau Dini, Kementan Dorong Petani Manfaatkan Padi Adaptif

Reporter: Yani Andriyansyah 16 Mar 2026, 13:30:28 WIB
Waspada Kemarau Dini, Kementan Dorong Petani Manfaatkan Padi Adaptif
Jenis padi Inpago 4 digadang-gadang bisa menjadi salah satu varietas unggul yang bisa diandalkan saat musim kemarau. (dok.Kementan)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini,musim kemarau 2026 diproyeksikan tiba lebih cepat. Sebagian besar wilayah Nusantara—dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua—bersiap menghadapi ancaman kekeringan yang mengintai lahan pertanian.


Namun, di tengah potensi tantangan ini, Kementerian Pertanian (Kementan) tak tinggal diam. Dengan sigap, mereka mendorong strategi mitigasi komprehensif agar ketahanan pangan nasional tetap kokoh. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh pemerintah daerah. Ini bukan sekadar antisipasi, tapi langkah strategis, ujarnya. 


Prioritas utama adalah pemetaan wilayah rawan kekeringan, diikuti penguatan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) yang tak boleh alpa. Tak hanya itu, optimasi pengelolaan air—melalui irigasi modern, pompanisasi, dan perpipaan—juga digencarkan. Percepatan tanam di berbagai sentra produksi menjadi kunci, memastikan siklus tanam tidak terganggu oleh iklim yang tak menentu.


Varietas Padi Adaptif, Pahlawan di Musim Kering

Inovasi menjadi jantung strategi Kementan. Mentan Amran menekankan pentingnya pemanfaatan varietas padi genjah dan tahan kekeringan. Petani kita perlu senjata ampuh,tegasnya. 


Nama-nama seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, dan Cakrabuana—atau varietas sejenis lainnya—didengungkan sebagai solusi. Varietas-varietas unggul ini dirancang khusus untuk tetap berproduksi optimal meski dengan ketersediaan air terbatas, dan yang terpenting, memiliki umur panen yang relatif singkat.


Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, menjelaskan lebih lanjut di balik layar riset ini. Kami telah bekerja keras menghasilkan varietas-varietas unggul yang adaptif terhadap kondisi kekeringan, jelas Fadjry. 


Ia menyontohkan varietas seperti Inpari 38 hingga Inpari 46 dan kelompok padi gogo Inpago, yang memang dirancang untuk tetap produktif di bawah cekaman kekeringan. Sementara itu, varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana menawarkan keunggulan panen lebih cepat, membantu tanaman lolos dari puncak periode kemarau.


Pemanfaatan varietas adaptif ini, lanjut Fadjry, bukan sekadar solusi instan, melainkan bagian integral dari strategi teknologi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem produksi padi di tengah dinamika iklim global yang terus berubah. 


Kami mendorong pemanfaatan varietas unggul tahan kekeringan ini secara lebih luas, khususnya di wilayah rawan kekeringan atau sawah tadah hujan. Ini demi menjaga produksi padi nasional dan memperkuat ketahanan pangan, pungkasnya.


Melalui BRMP, Kementan terus berinovasi, mengembangkan varietas unggul adaptif, dan menerapkan teknologi budidaya tepat guna di tingkat petani. Dengan langkah proaktif dan pemanfaatan teknologi yang cerdas, Indonesia optimistis mampu menghadapi tantangan kemarau yang lebih awal, memastikan setiap butir nasi tetap hadir di meja makan keluarga Indonesia. (yans)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```