BRIN Kembangkan Pakan Lokal Berbasis Kecipir, Dorong Pertumbuhan Optimal Gurami
KETERGANTUNGAN industri pakan nasional
terhadap bahan baku impor, khususnya bungkil kedelai, masih menjadi tantangan
serius dalam pengembangan sektor akuakultur Indonesia. Fluktuasi harga global
serta gangguan rantai pasok turut mendorong kenaikan biaya produksi budidaya
ikan. Menjawab persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
menghadirkan inovasi pakan lokal berbasis biji kecipir sebagai alternatif yang
lebih berkelanjutan dan ekonomis.
Peneliti BRIN, Deisi Heptarina, bersama tim mengembangkan
formulasi pakan ikan gurami (Osphronemus goramy) dengan memanfaatkan biji
kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), tanaman legum tropis yang kaya protein
dan memiliki komposisi asam amino yang baik. Tanaman ini tumbuh luas di Asia
Tenggara, termasuk Indonesia, dan hampir seluruh bagiannya memiliki nilai
ekonomi.
“Biji kecipir berpotensi menjadi bahan baku pakan lokal
pengganti sebagian bahan impor karena kandungan nutrisinya yang cukup baik,”
ujar Deisi saat wawancara khusus pada Kamis (30/4).
Baca Juga
Dalam penelitiannya, ia beserta tim menguji tiga jenis
perlakuan tepung biji kecipir, yaitu tepung utuh tanpa pengolahan, tepung
rendah lemak hasil pengepresan minyak, serta tepung rendah lemak yang diperkaya
enzim non-starch polysaccharide (NSP). Uji coba dilakukan pada benih gurami
selama 60 hari dalam sistem pemeliharaan terkontrol.
Hasilnya menunjukkan bahwa pakan berbasis tepung biji
kecipir rendah lemak yang diperkaya enzim NSP memberikan performa terbaik.
Formula ini mampu menghasilkan kecernaan protein hingga 70,01% dan kecernaan
energi mencapai 72,64%, yang menunjukkan bahwa nutrien dalam pakan dapat
dimanfaatkan secara lebih optimal oleh ikan.
Menurut Deisi, penambahan enzim NSP berperan penting dalam
meningkatkan kualitas pakan. “Enzim membantu memecah komponen serat dan senyawa
kompleks, sehingga nutrien lebih mudah dicerna dan diserap oleh ikan,”
jelasnya.
Dari sisi pertumbuhan, Deisi menjelaskan ikan gurami yang
diberi pakan tersebut mencatat laju pertumbuhan spesifik sebesar 1,99% per hari
dengan rasio konversi pakan 1,67, menandakan efisiensi pemanfaatan pakan yang
tinggi. Selain itu, retensi protein mencapai 50,64% dan retensi lemak sebesar
88,84%, menunjukkan bahwa nutrien pakan terserap secara optimal untuk mendukung
pertumbuhan ikan.
Menariknya, tingkat kelangsungan hidup ikan pada seluruh
perlakuan mencapai 100%, yang menegaskan bahwa pakan berbasis kecipir aman dan
mendukung kesehatan ikan. Hal ini juga diperkuat dengan peningkatan aktivitas
enzim pencernaan serta kondisi usus ikan yang lebih baik pada perlakuan pakan
olahan.
Deisi menekankan bahwa proses pengolahan bahan baku menjadi
kunci dalam meningkatkan kualitas kecipir. Tahapan seperti perendaman,
pemanasan, pengepresan minyak, dan penambahan enzim terbukti mampu menekan
kandungan zat antinutrien seperti tanin, asam fitat dan serat kasar yang dapat
menghambat penyerapan nutrien.
“Inovasi ini membuka peluang besar dalam pengembangan pakan
berbasis sumber daya lokal. Selain menekan biaya produksi, pemanfaatan kecipir
juga dapat memperkuat ketahanan sektor perikanan nasional dengan mengurangi
ketergantungan terhadap impor,” ungkapnya.
“Ke depan, inovasi pakan lokal seperti ini diharapkan dapat
dikembangkan lebih luas untuk berbagai komoditas budidaya lainnya. Dengan
dukungan riset berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang besar membangun
industri akuakultur yang mandiri, efisien, dan berdaya saing,” pungkasnya. (sh/ed:ade,ugi)
