Direktur Belantara Foundation Dolly Priatna: Konservasi Mangrove Inti Dari Upaya Mitigasi Iklim

By PorosBumi 23 Nov 2025, 10:47:43 WIB Lingkungan
Direktur Belantara Foundation Dolly Priatna:  Konservasi Mangrove Inti Dari Upaya Mitigasi Iklim

BOGOR – Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr Dolly Priatna saat mengungkapkan ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang paling berharga dan produktif di bumi ini. Secara global, ekosistem ini mendukung keanekaragaman hayati, menstabilkan garis pantai, dan menopang sektor perikanan.

Ekosistem ini merupakan sistem penyangga kehidupan bagi masyarakat, pelindung alami terhadap bencana, serta semakin menjadi komponen penting dari strategi iklim nasional dan internasional, karena ekosistem mangrove lebih efisien dalam menyerap dan menyimpan karbon dibandingkan kebanyakan hutan terestrial.

“Aspek mangrove yang paling menarik dalam konteks perubahan iklim adalah fungsinya sebagai ekosistem karbon biru. Karbon biru merupakan karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir dan laut, termasuk mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut,” kata Dolly dalam Seminar/Webinar Internasional yang dikemas dalam kegiatan Belantara Learning Series Episode 14 (BLS Eps.14) dengan tema “Mangrove Ecosystems and the Future of Blue Carbon” pada Kamis, 20 November 2025.

Baca Lainnya :

“Dengan demikian, ketika ekosistem mangrove rusak atau terdegradasi, karbon yang tersimpan dalam jumlah besar juga akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Peran ganda inilah yang menempatkan konservasi mangrove sebagai inti dari upaya mitigasi iklim,” imbuh Dolly, yang juga merupakan pengajar di Program Studi Manajemen Lingkungan Universitas Pakuan.

Ekosistem mangrove dan karbon biru, lanjut Dolly, menawarkan peluang luar biasa bagi Indonesia, yaitu untuk melindungi kawasan pesisir, mendukung masyarakat, dan berkontribusi secara signifikan bagi solusi iklim global.

“Dengan berinvestasi dalam konservasi, memberdayakan masyarakat lokal, dan mengintegrasikan karbon biru ke dalam kebijakan nasional, Indonesia dapat memimpin dunia dalam menunjukkan bagaimana solusi berbasis alam menciptakan masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” pungkas Dolly.

Diketahui, BLS Eps.14 adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan Belantara Foundation bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana dan Prodi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Pakuan. BLS Eps. 14 secara luring dipusatkan di Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan di Bogor.

Peserta luring berasal dari enam universitas kolaborator yang mengadakan acara bertemakan “Nonton dan Belajar Bareng” BLS Eps.14 bagi mahasiswa dan dosen di masing-masing universitas. Enam universitas tersebut yaitu Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Andalas, Universitas Sumatera Utara, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Nusa Bangsa.

Adapun BLS Eps. 14 secara daring melalui aplikasi Zoom. Jumlah peserta yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang digelar secara hibrid ini sebanyak 908 peserta, yang terdiri dari 527 peserta daring dan 381 peserta luring. Meski mayoritas peserta daring berasal dari Indonesia, seminar yang dilaksanakan secara hibrid ini juga diikuti oleh peserta internasional dari berbagai negara seperti Pakistan, India, Bangladesh, Thailand, dan Timor Leste.

Dalam kesempatan ini, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (Menteri LH/BPLH), Dr Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., MP, diwakili oleh Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Perairan Darat pada Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan, Puji Iswari, S.Hut., M.Si.

Puji Iswari mengatakan bahwa terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 (PP 27/2025) tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove, telah memberikan kepastian hukum bagi seluruh pemangku kepentingan dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove sekaligus memenuhi komitmen internasional, dengan menegaskan bahwa pengelolaan harus berbasis Kesatuan Lanskap Mangrove yang mencerminkan keterkaitan darat–laut, kondisi biofisik, serta aspek sosial ekonomi.

“Implementasinya membutuhkan langkah konkret, kolaborasi, dan inovasi dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat. Melalui PP 27/2025 dan sekitar 13 regulasi turunannya yang disiapkan KLH/BPLH, kebijakan ini diharapkan menjadi pendorong nyata bagi perbaikan kualitas ekosistem mangrove, pengurangan kerusakan ekologis, dan warisan lingkungan yang berharga bagi generasi mendatang”, tegas Direktur Puji.

Salah satu pembicara kegiatan ini, Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN, Dr Virni Budi Arifanti mengemukakan bahwa pengelolaan mangrove perlu didasarkan pada scientific-based evidence serta melibatkan partisipasi semua pihak termasuk masyarakat lokal.

“Jasa lingkungan, sosial dan ekonomi dari ekosistem mangrove merupakan aset yang perlu dijaga keberlanjutannya dan dioptimalkan untuk kehidupan manusia dan generasi yang akan datang”, tegas Virni.

Rektor Universitas Pakuan, Prof Dr rer.pol., Ir Didik Notosudjono, M.Sc., IPU, Asean Eng., dalam keynote speech-nya mengatakan bahwa akademisi berperan sebagai katalisator utama dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove, menyediakan pengetahuan, inovasi, dan pendidikan untuk memastikan mangrove terus berkembang.

“Dengan mengintegrasikan sains, masyarakat, dan kebijakan, ekosistem mangrove dapat dilestarikan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan, yang akan memberikan manfaat bagi ketahanan ekologi dan kesejahteraan manusia,” kata dia.

Regional Coordinator Coastal and Marine, Asia IUCN Secretariat, Maeve Nightingale, M.Sc. pada paparannya mengatakan bahwa Asia adalah rumah bagi hutan mangrove, dengan lebih dari 40% hutan mangrove dunia terdapat di kawasan ini. Dari 20 negara dengan luas hutan mangrove terluas di dunia, 8 di antaranya berada di kawasan Asia Pasifik, dan Indonesia sendiri menyumbang hampir seperempat dari seluruh hutan bakau di planet ini.

“Mangrove di Asia semakin penting karena keanekaragaman spesiesnya yang sangat tinggi, dengan lebih dari 50 dari 73 spesies berada di hotspot keanekaragaman hayati mangrove ini,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Prof. Dr. Sri Setyaningsih, M.Si., yang menjadi tuan rumah acara, berharap bahwa seminar internasional ini dapat menjadi wadah bagi semua pihak untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta gagasan baru, tentang ekosistem mangrove dan masa depan karbon biru.

“Kami berterima kasih kepada Belantara Foundation dan mitra lainnya, yang telah mendukung penuh acara ini sehingga berjalan dengan lancar dan sukses. Semoga seminar internasional ini membawa manfaat besar bagi upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove di Indonesia,” pungkasnya.

Turut hadir sebagai narasumber yang berbagi pengalaman dalam pengelolaan ekosistem mangrove di negaranya masing-masing secara berturut-turut yaitu Prof. M. Monirul H. Khan, Ph.D., yang merupakan Kepala Department of Zoology, Jahangirnagar University, Bangladesh; Prof. Dr. Irfan Aziz, Direktur MAK Institute of Sustainable Halophyte Utilization, University of Karachi, Pakistan; serta Kanchan Pawar, IFS., Divisional Forest Officer, Mangroves Division South Konkan, Maharashtra, India. Acara diskusi seminar/webinar internasional ini dipandu oleh Prof Dr Sata Yoshida Srie Rahayu dari Program Studi Biologi FMIPA Universitas Pakuan. (fadlik al iman)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment