- Polda Kepri Dukung Kampanye 24 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Batam
- Wanita ini Ubah Sampah Jadi Alat Tukar Bernilai Ekonomi, Contoh Nyata Warga Bantu Warga
- Sari Kreasi Boga Incar Cuan Bisnis Agrifood
- Dongkrak Kunjungan Wisatawan, Gold Coast Ferry Terminal Buka Rute Baru Batam-Singapura
- Pray Sumut dan Sumbar, SARMMI Galang Donasi Bencana Banjir
- Telkomsel Kembali Gelar Jaga Bumi, Tanam 12.731 Pohon Baru dan Serap 824 Ton Emisi Karbon
- Pengamat: Indonesia Swasembada Beras, Stok Dunia Tertinggi Sepanjang Sejarah, Harga Global Anjlok!
- Presiden Prabowo dan Ratu Maxima Bahas Transformasi Inklusi dan Kesehatan Keuangan
- Desa Wisata Sumberoto Kini Makin Menyala Dengan Tenaga Surya
- Abies Bakery, Toko Roti Dengan Standar Higienitas Produksi Buka di Bundaran Ocarina Batam Centre
Direktur Belantara Foundation Dolly Priatna: Konservasi Mangrove Inti Dari Upaya Mitigasi Iklim
.jpg)
BOGOR – Direktur Eksekutif Belantara
Foundation, Dr Dolly Priatna saat mengungkapkan ekosistem mangrove merupakan
salah satu ekosistem pesisir yang paling berharga dan produktif di bumi ini.
Secara global, ekosistem ini mendukung keanekaragaman hayati, menstabilkan
garis pantai, dan menopang sektor perikanan.
Ekosistem ini merupakan sistem penyangga kehidupan bagi
masyarakat, pelindung alami terhadap bencana, serta semakin menjadi komponen
penting dari strategi iklim nasional dan internasional, karena ekosistem
mangrove lebih efisien dalam menyerap dan menyimpan karbon dibandingkan
kebanyakan hutan terestrial.
“Aspek mangrove yang paling menarik dalam konteks perubahan
iklim adalah fungsinya sebagai ekosistem karbon biru. Karbon biru merupakan
karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir dan laut, termasuk mangrove, padang
lamun, dan rawa pasang surut,” kata Dolly dalam Seminar/Webinar Internasional
yang dikemas dalam kegiatan Belantara Learning Series Episode 14 (BLS Eps.14)
dengan tema “Mangrove Ecosystems and the Future of Blue Carbon” pada Kamis, 20
November 2025.
Baca Lainnya :
- BEI Bimbing 169 Perusahaan Tekan Emisi Karbon 0
- Indonesia Belum Layak Jual Karbon, Jika Belum Cukup Berkomitmen Menurunkan Emisi0
- Negara Berkembang Butuh USD1,4 Triliun Tekan Karbon, Negara Maju Hanya Janjikan USD300 Miliar0
- Aktivis Ragu Soal Komitmen Pengakuan Hutan Adat 1,4 Juta Ha 0
- IDXCarbon Jajakan Unit Karbon 90 Juta Ton Co2e Hingga Ke Brazil 0
“Dengan demikian, ketika ekosistem mangrove rusak atau
terdegradasi, karbon yang tersimpan dalam jumlah besar juga akan dilepaskan
kembali ke atmosfer. Peran ganda inilah yang menempatkan konservasi mangrove
sebagai inti dari upaya mitigasi iklim,” imbuh Dolly, yang juga merupakan
pengajar di Program Studi Manajemen Lingkungan Universitas Pakuan.
Ekosistem mangrove dan karbon biru, lanjut Dolly, menawarkan
peluang luar biasa bagi Indonesia, yaitu untuk melindungi kawasan pesisir,
mendukung masyarakat, dan berkontribusi secara signifikan bagi solusi iklim
global.
“Dengan berinvestasi dalam konservasi, memberdayakan
masyarakat lokal, dan mengintegrasikan karbon biru ke dalam kebijakan nasional,
Indonesia dapat memimpin dunia dalam menunjukkan bagaimana solusi berbasis alam
menciptakan masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” pungkas Dolly.
Diketahui, BLS Eps.14 adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan
Belantara Foundation bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Manajemen
Lingkungan Sekolah Pascasarjana dan Prodi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Pakuan. BLS Eps. 14 secara luring
dipusatkan di Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas
Pakuan di Bogor.
Peserta luring berasal dari enam universitas kolaborator
yang mengadakan acara bertemakan “Nonton dan Belajar Bareng” BLS Eps.14 bagi
mahasiswa dan dosen di masing-masing universitas. Enam universitas tersebut
yaitu Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Andalas, Universitas
Sumatera Utara, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Nusa Bangsa.
Adapun BLS Eps. 14 secara daring melalui aplikasi Zoom.
Jumlah peserta yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang digelar secara
hibrid ini sebanyak 908 peserta, yang terdiri dari 527 peserta daring dan 381
peserta luring. Meski mayoritas peserta daring berasal dari Indonesia, seminar
yang dilaksanakan secara hibrid ini juga diikuti oleh peserta internasional
dari berbagai negara seperti Pakistan, India, Bangladesh, Thailand, dan Timor
Leste.
Dalam kesempatan ini, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (Menteri LH/BPLH), Dr Hanif
Faisol Nurofiq, S.Hut., MP, diwakili oleh Direktur Perlindungan dan Pengelolaan
Ekosistem Perairan Darat pada Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya
Alam Berkelanjutan, Puji Iswari, S.Hut., M.Si.
Puji Iswari mengatakan bahwa terbitnya Peraturan Pemerintah
Nomor 27 Tahun 2025 (PP 27/2025) tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem
Mangrove, telah memberikan kepastian hukum bagi seluruh pemangku kepentingan
dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove sekaligus memenuhi
komitmen internasional, dengan menegaskan bahwa pengelolaan harus berbasis
Kesatuan Lanskap Mangrove yang mencerminkan keterkaitan darat–laut, kondisi
biofisik, serta aspek sosial ekonomi.
“Implementasinya membutuhkan langkah konkret, kolaborasi,
dan inovasi dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, serta
masyarakat. Melalui PP 27/2025 dan sekitar 13 regulasi turunannya yang
disiapkan KLH/BPLH, kebijakan ini diharapkan menjadi pendorong nyata bagi
perbaikan kualitas ekosistem mangrove, pengurangan kerusakan ekologis, dan
warisan lingkungan yang berharga bagi generasi mendatang”, tegas Direktur Puji.
Salah satu pembicara kegiatan ini, Peneliti Ahli Utama,
Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN, Dr Virni Budi Arifanti mengemukakan
bahwa pengelolaan mangrove perlu didasarkan pada scientific-based evidence
serta melibatkan partisipasi semua pihak termasuk masyarakat lokal.
“Jasa lingkungan, sosial dan ekonomi dari ekosistem mangrove
merupakan aset yang perlu dijaga keberlanjutannya dan dioptimalkan untuk
kehidupan manusia dan generasi yang akan datang”, tegas Virni.
Rektor Universitas Pakuan, Prof Dr rer.pol., Ir Didik
Notosudjono, M.Sc., IPU, Asean Eng., dalam keynote speech-nya mengatakan
bahwa akademisi berperan sebagai katalisator utama dalam perlindungan dan
pengelolaan ekosistem mangrove, menyediakan pengetahuan, inovasi, dan
pendidikan untuk memastikan mangrove terus berkembang.
“Dengan mengintegrasikan sains, masyarakat, dan kebijakan,
ekosistem mangrove dapat dilestarikan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan,
yang akan memberikan manfaat bagi ketahanan ekologi dan kesejahteraan manusia,”
kata dia.
Regional Coordinator Coastal and Marine, Asia IUCN
Secretariat, Maeve Nightingale, M.Sc. pada paparannya mengatakan bahwa Asia
adalah rumah bagi hutan mangrove, dengan lebih dari 40% hutan mangrove dunia
terdapat di kawasan ini. Dari 20 negara dengan luas hutan mangrove terluas di
dunia, 8 di antaranya berada di kawasan Asia Pasifik, dan Indonesia sendiri
menyumbang hampir seperempat dari seluruh hutan bakau di planet ini.
“Mangrove di Asia semakin penting karena keanekaragaman
spesiesnya yang sangat tinggi, dengan lebih dari 50 dari 73 spesies berada di
hotspot keanekaragaman hayati mangrove ini,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas
Pakuan, Prof. Dr. Sri Setyaningsih, M.Si., yang menjadi tuan rumah acara,
berharap bahwa seminar internasional ini dapat menjadi wadah bagi semua pihak
untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta gagasan baru, tentang ekosistem
mangrove dan masa depan karbon biru.
“Kami berterima kasih kepada Belantara Foundation dan mitra
lainnya, yang telah mendukung penuh acara ini sehingga berjalan dengan lancar
dan sukses. Semoga seminar internasional ini membawa manfaat besar bagi upaya
perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove di Indonesia,” pungkasnya.
Turut hadir sebagai narasumber yang berbagi pengalaman dalam
pengelolaan ekosistem mangrove di negaranya masing-masing secara berturut-turut
yaitu Prof. M. Monirul H. Khan, Ph.D., yang merupakan Kepala Department of
Zoology, Jahangirnagar University, Bangladesh; Prof. Dr. Irfan Aziz, Direktur
MAK Institute of Sustainable Halophyte Utilization, University of Karachi,
Pakistan; serta Kanchan Pawar, IFS., Divisional Forest Officer, Mangroves
Division South Konkan, Maharashtra, India. Acara diskusi seminar/webinar
internasional ini dipandu oleh Prof Dr Sata Yoshida Srie Rahayu dari Program
Studi Biologi FMIPA Universitas Pakuan. (fadlik al iman)
.jpg)

.jpg)



.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

