Ditolak 7 Bank, Tak Mundur Hingga Akhirnya Sukses Mendirikan Cimory
Ditolak 7 Bank, Tak Mundur Hingga Akhirnya Sukses Mendirikan Cimory
BAMBANG Sutantio pria keturunan Tionghoa, yang lahir di Semarang 26 Desember 1958, mendirikan Cimory (PT Cisarua Mountain Dairy Tbk) berawal dari keinginan membantu peternak sapi perah lokal di Cisarua, Bogor, yang kesulitan memasarkan hasil susu segar mereka.
Beliau lahir dari keluarga yang sangat sederhana, dan kesempatannya berkuliah di Jerman didapatkan melalui perjuangan serta kemandirian financial, bukan dari kekayaan orang tua.
Ayah Bambang adalah seorang pedagang kecil di pasar tradisional yang penghasilannya pas-pasan. Saat berkuliah di Technical University of Berlin pada era 1980-an, ia tidak mengandalkan uang kiriman orang tua.
Untuk membiayai uang kuliah dan biaya hidup sehari-hari, Bambang bekerja keras melakoni berbagai pekerjaan paruh waktu (part-time).
Mulai dari mencuci piring, menjadi kuli angkut, hingga pekerja kasar di pabrik pengolahan daging Jerman dikerjakan Bambang. Pekerjaan paruh waktu di pabrik daging di Jerman inilah yang justru menjadi blessing in disguise.
Dari sana, ia menyerap langsung ilmu teknik pengolahan daging, standar higienitas, dan resep sosis autentik Eropa yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Sosis Kanzler pada tahun 1993.
Kembali ke Indonesia mendirikan usaha pengolahan daging sendiri di Indonesia bernama PT Macroprima Panganutama (produsen sosis Kanzler) pada tahun 1993. Di garasi rumahnya dengan hanya 1 orang karyawan.
"Kanzler" diambil dari bahasa Jerman Kanzler (berarti "Kanselir" atau kepala pemerintahan), yang dipilih untuk mencerminkan citra produk berkualitas tinggi dan berkelas superior.
Tahun 2004 Bambang melihat peternak sapi di Cisarua kesulitan menjual susu segar akibat standar kualitas pasar yang ketat dan harga beli murni yang sangat rendah.
Berbekal keahlian teknologi pangan, ia mendirikan Cimory. Nama Cimory adalah akronim dari "Cisarua Mountain Dairy".
Cimory didirikan untuk menampung susu dari peternak lokal dengan harga beli yang menyejahterakan, lalu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah seperti yoghurt dan susu rasa.
Saat berencana membangun pabrik pengolahan susu Cimory di Cisarua, Bogor, Bambang membutuhkan modal usaha yang cukup besar untuk membeli mesin-mesin modern serta fasilitas pengolahan standar tinggi.
Bambang mendatangi berbagai bank satu per satu. Ia mendapatkan penolakan demi penolakan hingga genap 7 bank menolak proposal pengajuan kreditnya.
Karena, di masa itu lini bisnis olahan susu segar seperti yoghurt belum dianggap sebagai industri yang prospektif di Indonesia oleh lembaga perbankan.
Alih-alih mundur, Bambang terus memperbaiki studi kelayakan bisnis dan meyakinkan pihak perbankan. Bank ke-8 akhirnya percaya pada konsep bisnis pemberdayaan peternak lokal serta potensi produk yoghurt yang dibawanya
Bank tersebut lalu menyetujui kucuran kredit modal kerja tersebut. Untuk menyaingi pemain besar susu UHT, Cimory berfokus pada yoghurt siap minum (ready-to-drink yoghurt) dan susu segar pasterisasi rasa khas yang belum banyak digarap pesaing lokal.
Bambang memadukan bisnis olahan susu dengan industri pariwisata. Restoran dan taman wisata edukasi keluarga ini memperkuat reputasi merek Cimory secara alami tanpa bergantung penuh pada iklan media konvensional.
Sosis Kanzler buatan Bambang diracik tanpa bahan pengisi (filler) berlebih, menggunakan bumbu rempah khas Jerman, serta teknik pengasapan alami. kini di bawah naungan PT Cimory tbk.
Pada Desember 2021, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (dengan kode saham CMRY), mencatatkan keberhasilan transformasi dari usaha berbasis pemberdayaan lokal menjadi emiten konsumer berskala nasional.
Saat ini, Bambang Sutantio adalah Pendiri Grup (Founder) dan Presiden Komisaris di Cimory (PT Cisarua Mountain Dairy Tbk) dan Presiden Direktur & CEO Farell Sutantio (putra beliau).
