- Alarm Keras Bencana Ekologis Batang Toru, Jantung Habitat Orangutan Tapanuli
- Ternyata Mandi di Hutan dapat Menjaga Kesehatan Paru-paru, Begini Penjelasannya
- Seung Tae dan Yayasan Dupamade Asa Raya Salurkan Bantuan di Aceh Tamiang
- Baterai Sebagai Simbol Paradoks Zaman Modern, Antara Energi Bersih dan Limbah Berbahaya
- Hentikan Penggusuran dan Represifitas pada Kelompok Tani Padang Halaban!
- Climb On Student Open Bouldering 2026
- Pioner Cetak Sawah, Reinardus Ndiken Buktikan Masyarakat Adat Merauke Siap Bertransformasi
- Sinema Inklusif Nusantara Membuka Jalan untuk Difabel Berkarya di Industri Film
- Investasi Minerba Sentuh USD6,7 Miliar, Genjot Nilai Tambah SDA Nasional
- Di World Economic Forum Davos, Prabowo Umumkan Indonesia Kekuatan Baru Pangan Dunia
Ekosistem Baterai Terintegrasi: Strategi Indonesia Perkuat Daya Saing Industri

Keterangan Gambar : Kompleks lokasi pabrik baterai terintegrasi di Karawang Jawa Barat. (foto istimewa)
JAKARTA- Indonesia terus memperkuat daya saing industri
melalui percepatan ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai
(KBLBB). Kehadiran pabrik baterai yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir
dinilai bukan sekadar upaya transisi energi, melainkan langkah strategis dalam
meningkatkan daya saing manufaktur dan posisi Indonesia sebagai pemain salah
satu kunci di rantai pasok global.
Pemerintah melalui
Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID saat ini tengah memacu Proyek
Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi. Salah satu proyek yang kini
dijalankan adalah pembangunan Fasilitas Produksi Baterai Cell di Karawang, yang
merupakan hasil kerja sama perusahaan patungan (joint venture) antara MIND ID
melalui PT Industri Baterai Indonesia (PT IBI) dengan konsorsium Contemporary
Amperex Technology Co., Limited, Brunp, Lygend (CBL) dengan membentuk PT
Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).
Hingga Januari 2026,
instalasi Battery Manufacture Equipment telah rampung, sehingga fasilitas ini
dijadwalkan memulai operasi komersial pada akhir tahun ini dengan kapasitas
awal 6,9 GWh, dan diproyeksikan meningkat hingga 15 GWh pada 2028.
Baca Lainnya :
- Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Karawang Dorong Peningkatan Nilai Tambah0
- Optimasi Hilirisasi Bauksit Nasional Ciptakan Nilai Tambah Hingga USD3,8 Triliun0
- Menakar Swasembada Alumunium RI dengan Cadangan Bauksit Terbesar ke-6 Dunia0
- Presiden Dorong Hilirisasi Gambir, PTPN Group Siap Perkuat Nilai Tambah Komoditas Rakyat0
- Layanan Mutu KKP Dilengkapi Sertifikasi ISO, Ekspor Perikanan Diyakini Tumbuh Positif di 20260
Sekretaris Jenderal
Asosiasi Ekosistem Kendaraan Listrik (AEML), Rian Ernest, menilai kehadiran
pabrik baterai lokal ini memiliki peran strategis lebih dari sekadar unit
produksi.
Menurutnya, fasilitas
Fasilitas Produksi Baterai Cell ini berfungsi sebagai anchor atau jangkar yang
akan menarik gerbong investasi pendukung lainnya sehingga semakin memperkuat
ekosistem industri di dalam negeri.
Menurutnya akan semakin
banyak korporasi yang tertarik membangun industri di Indonesia mulai dari
penyedia material, komponen, hingga industri daur ulang.
Rian menekankan bahwa
dampak instan yang akan dirasakan industri adalah kepastian pasokan bagi para
produsen kendaraan (OEM/assembler).
Kehadiran standar
kualitas yang jelas di dalam negeri dipercaya bakal menurunkan hambatan masuk
bagi pemasok lokal serta mempercepat pembangunan SDM di bidang teknologi tinggi
yang berdampak langsung pada daya saing industri. jelasnya.
Dia menambahkan,
Indonesia bukan lagi sekadar negara yang bergantung pada ekspor mineral tambang
mentah. Kekayaan alam sudah mampu diolah menjadi sebuah produk jadi yang dapat
digunakan langsung oleh konsumer, sehingga menjadi pengungkit bagi kinerja
pertumbuhan ekonomi di masa depan.
"Itu adalah modal
tawar kita. Tapi nilainya baru benar-benar naik jika sudah menjadi produk
bernilai tinggi. Ukuran daya saing kita bukan lagi berapa ton bijih nikel yang
dihasilkan, melainkan kualitas sel baterai dan kemampuan industri yang
konsisten serta memenuhi standar pabrikan global," ujar Rian dalam
keterangan resminya, Selasa (20/1).
Senada dengan hal
tersebut, Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development
Universitas Indonesia (RESSED UI), Ali Ahmudi, menegaskan bahwa industrialisasi
baterai dalam negeri adalah langkah mendesak untuk menekan harga kendaraan
listrik di tingkat konsumen.
“Jika komponen utamanya
bisa ditekan harganya karena diproduksi di dalam negeri melalui efisiensi
logistik, otomatis harga EV akan turun. Proyek hilirisasi ini harus berlanjut
agar kita tidak hanya menjual tanah, tapi menjual produk dengan nilai tambah
belasan kali lipat,” tegas Ali.
Ali memandang
ketergantungan pada produk luar harus segera diakhiri melalui transfer
teknologi. Ia mendorong agar pemain global yang membawa teknologi ke Indonesia
wajib membangun basis produksinya di tanah air, sehingga ikut meningkatkan daya
saing industri Indonesia.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

