- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
- Dari London, Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penertiban Kawasan Hutan
- Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan
KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
4.jpg)
JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum
(PU) tengah menyiapkan rencana strategis penanganan 23 muara sungai yang
tersebar di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan
Sumatera Barat. Tahapan ini merupakan bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi
pascabencana guna memulihkan kapasitas pengendalian air dan memperlancar aliran
sedimen ke laut.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa penanganan muara
sungai di wilayah terdampak bencana di Sumatera memerlukan pendekatan teknis
yang cermat dan spesifik. Metode penanganannya tidak dapat disamaratakan antara
satu sungai dengan sungai lainnya.
Menurut Menteri Dody, berdasarkan survei lapangan, sebagian
besar muara sungai besar yang mengalami pendangkalan berat akibat sedimentasi
bencana memerlukan penanganan menggunakan kapal keruk (dredger).
Baca Lainnya :
- Dari London, Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penertiban Kawasan Hutan0
- Hentikan Operasi Tambang Nikel PT STS di Halmahera Timur dan Pulihkan Kerusakan Lingkungan0
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan0
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan0
- Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya di Asia Tenggara0
“Sebagian besar pembersihan muara itu membutuhkan dredger.
Tidak bisa cukup hanya menggunakan alat berat biasa seperti ekskavator atau
metode percepatan lainnya. Memang ada muara tertentu yang bisa ditangani
tanpa dredger, contohnya di Krueng Meureudu, tetapi dari total 23
muara, mungkin hanya sekitar satu sampai tiga lokasi yang bisa menggunakan pola
yang sama,” ujar Menteri Dody.
Berdasarkan hasil inventarisasi dan survei teknis yang
dilakukan Kementerian PU, tercatat ada 23 muara sungai terdampak bencana di
tiga provinsi tersebut. Di Provinsi Aceh, terdapat 8 muara terdampak.
Rinciannya: 1 muara sedang ditangani, 2 muara masuk dalam rencana penanganan,
dan 5 muara belum tertangani.
Sementara itu di Provinsi Sumatera Utara, terdapat 11 muara
terdampak. Rinciannya: 8 muara dalam rencana penanganan dan 3 muara belum
ditangani. Sedangkan di Provinsi Sumatera Barat, terdapat 4 muara terdampak.
Rinciannya: 3 muara telah ditangani dan 1 muara dalam rencana penanganan.
Menteri Dody menjelaskan bahwa penggunaan kapal keruk (dredger)
juga tidak dapat dilakukan serta-merta tanpa perencanaan yang matang. Tahapan
desain mutlak diperlukan untuk menentukan lokasi pembuangan material hasil
pengerukan (disposal area), apakah akan dimanfaatkan untuk memperkuat
tanggul, ditempatkan menjauh ke laut, atau untuk kebutuhan teknis lainnya.
“Kalau materialnya mau dijadikan tanggul, desainnya juga
harus benar. Jangan sampai saat terjadi banjir berikutnya, tanggulnya tidak
cukup kuat. Karena itu, untuk muara-muara besar, prosesnya masuk ke tahap
rehabilitasi dan rekonstruksi, bukan lagi sekadar tanggap darurat,” jelas
Menteri Dody.
Sembari menyusun rencana strategis rekonstruksi
muara sungai, Kementerian PU saat ini juga masih memprioritaskan penanganan
cepat pada infrastruktur air yang bersentuhan langsung dengan kehidupan
masyarakat. Fokus utama saat ini adalah perkuatan tanggul eksisting, khususnya
pada sungai yang melintasi kawasan perkotaan, serta normalisasi sungai pada
titik-titik kritis untuk melancarkan aliran air.
“Untuk muara-muara yang relatif kecil dan bisa ditangani
tanpa dredger, itu akan kita kerjakan dalam beberapa hari ke depan.
Namun untuk muara yang besar, pengerjaannya harus menunggu desain selesai agar
penanganannya tepat dan berkelanjutan,” jelas Menteri Dody.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)
Sumatera II Medan, Feriyanto Pawenrusi, menyatakan bahwa kondisi muara memegang
peranan vital dalam sistem pengendalian banjir dari hulu ke hilir. Penyempitan
dan pendangkalan muara berpotensi memperlambat aliran sungai, sehingga
berpotensi menyebabkan air sungai meluap ke permukiman, dan meningkatkan risiko
banjir berulang.
“Kondisi muara ini sangat menentukan. Kalau muara tersumbat,
sebaik apapun normalisasi sungai di hulu, air tetap sulit keluar ke laut.
Karena itu penanganan muara harus menjadi bagian penting dari sistem
pengendalian banjir secara menyeluruh,” jelas Feriyanto.
Kementerian PU memastikan penanganan muara ini akan
diintegrasikan secara penuh ke dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi
pascabencana. Hal ini bertujuan agar fungsi hidrologi sungai dan muara dapat
pulih optimal serta mampu memitigasi risiko bencana hidrometeorologi di masa
mendatang. Program kerja ini merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak -
Berdampak” dalam menjalankan ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

