Ledakan Ikan Sapu-Sapu Alarm Ekologi Kerusakan Lingkungan
BADAN Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN) mencatat fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu di perairan umum,
khususnya di Jakarta, merupakan sebuah “alarm ekologi” yang menandakan adanya
kerusakan lingkungan dan kontaminasi udara yang serius. Keberadaan spesies ikan
asing invasif ini kini menjadi tantangan besar bagi pelestarian keanekaragaman
hayati ikan asli Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Muda Pusat Riset
Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, dalam Media Lounge Discussion
(MELODI) bertajuk “Di Balik Ikan Sapu-Sapu: Gelombang Spesies Asing di Perairan
Indonesia”, di Media Lounge Gedung B.J Habibie, Thamrin, Jakarta, Kamis (30/4).
Triyanto menjelaskan, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.)
sebenarnya merupakan ikan pendatang asal Amerika Selatan yang masuk ke
Indonesia melalui perdagangan ikan hias. Namun, kemampuan adaptasinya yang luar
biasa di perairan buruk menjadikannya dominan di sungai-sungai yang tercemar.
Baca Juga
“Ikan sapu-sapu ini adalah bio-indikator untuk kerusakan
lingkungan. Jadi jangan salahkan ikan sapu-sapunya dulu. Masalah utamanya
adalah kontaminasi. Selama kontaminasinya tidak kita tutupi dan kita tidak
merehabilitasi perairan sungai, maka ikan invasif akan terus muncul,” ujar
Triyanto.
Ia menambahkan, ikan ini memiliki kemampuan bertahan hidup
di kondisi ekstrem dengan kadar oksigen rendah dan polusi tinggi, kondisi yang
justru mematikan bagi ikan asli Indonesia yang cenderung lebih sensitif atau
“malu-malu”.
Dalam paparannya, Triyanto menyebutkan setidaknya terdapat
50 jenis spesies asing yang terdata di Indonesia, dengan 18 di antaranya
memiliki sifat invasif. Ikan sapu-sapu menjadi salah satu yang paling mencolok
karena dampaknya yang multidimensi, mulai dari ekologi hingga infrastruktur.
“Dampaknya pertama adalah kompetisi sumber daya. Ikan
sapu-sapu lebih rakus dan pertumbuhannya lebih cepat. Mereka menguasai ruang
dan makanan, sehingga ikan lokal kita kalah. Secara fisik, mereka juga merusak
infrastruktur tebing sungai karena kebiasaan membuat lubang untuk bersarang,”
jelasnya.
Selain itu, ikan sapu-sapu memiliki perlindungan tubuh
berupa armor atau lapisan keras berbahan kalsium yang membuatnya meminimalkan
predator alami di perairan Indonesia. “Di Amazon sana ada buaya atau
berang-berang yang memakan mereka. Di sini, predator alaminya hampir tidak ada,
kecuali manusia,” tambah Triyanto.
Terkait maraknya konsumsi ikan sapu-sapu dalam bentuk
makanan pangan seperti siomay atau cilok, Triyanto memberikan penjelasan
edukatif agar masyarakat tidak panik namun tetap waspada. Ia menjelaskan stigma
ikan ini mengandung racun, namun menekankan adanya risiko akumulasi logam berat
jika ikan diambil dari sungai tercemar seperti di Jakarta.
“Ikan sapu-sapu sebenarnya sumber protein. Di Brazil, ini
jadi makanan khas yang enak. Namun, karena di kita mereka hidup di udara
tercemar, mereka menyerap logam berat melalui mekanisme protein
metallothionein. Data kesehatan menunjukkan, seseorang baru akan terpapar
dampak logam berat jika mengonsumsi sekitar 8 kilogram daging ikan tersebut per
minggu secara rutin selama bertahun-tahun,” ungkapnya.
Meski demikian, BRIN mendorong pemanfaatan agar ikan
sapu-sapu lebih diarahkan pada sektor non-pangan untuk mengurangi populasi
aman, seperti pengolahan menjadi pupuk organik cair, pakan ternak, hingga arang
aktif (bio-char).
Triyanto menggarisbawahi upaya pembersihan ikan sapu-sapu di
Jakarta tidak akan efektif apabila tidak dilakukan secara terintegrasi dengan
wilayah penyangga, seperti Depok, Cibinong, dan Bekasi. Menurutnya, keterkaitan
aliran sungai antarwilayah menyebabkan pergerakan telur dan anakan ikan terus
berlangsung dari hulu ke hilir.
“DKI Jakarta ini diduga sebagai daerah pembesaran. Kalau
cuma dibersihkan di Jakarta tapi kota satelitnya tidak berkoordinasi, telur dan
anakan ikan dari hulu akan terus masuk ke Jakarta. Ini akan jadi siklus yang
tidak berhenti,” tegas Triyanto.
Lebih lanjut, ia mengatakan pengendalian spesies invasif
memerlukan strategi nasional yang dilakukan secara bertahap dan terintegrasi,
melalui pemanfaatan teknologi pemantauan berbasis sistem deteksi dini seperti
teknologi akustik (fish finder) untuk memetakan sebaran secara lebih akurat,
serta peningkatan partisipasi masyarakat melalui edukasi agar tidak melepaskan
ikan asing ke perairan umum dan mendorong program penangkapan yang memiliki
nilai ekonomi.
Triyanto mengajak seluruh pihak untuk tidak hanya berfokus
pada penanganan ikan sapu-sapu, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan
perairan sebagai langkah utama dalam mengendalikan spesies invasif. Menurutnya,
kondisi sungai yang bersih menjadi kunci dalam menekan laju pertumbuhan
populasi ikan tersebut.
“Pengendalian ikan asing ini, baik yang asing maupun
invasif, adalah mari kita cegah, kendalikan, dan manfaatkan sesuai
peruntukannya serta mendukung kesehatan dan keberlanjutan sumberdaya”,
tutupnya. (kay, del/ed: tnt)
