- Pertanian Organik Memicu Peningkatan Penggunaan Pestisida di Lahan Konvensional, Ini Penjelasannya
- Pertamina Buka Mudik Gratis ke Lebih dari 15 Kota, Catat Tanggal Pendaftarannya
- MIND ID Dukung Penuh Swasembada Energi Sebagai Pilar Pembangunan
- Mineral Kritis Komponen Utama Energi Masa Depan, MIND ID Perkuat Ekosistem
- Gejolak Timur Tengah, Pertamina Prioritaskan Keselamatan Pekerja dan Perkuat Mitigasi Operasional
- Panggung Hijau di Tengah Euforia, XLSMART Sulap Konser Jadi Ajang Zero Waste Berkelanjutan
- Ramadan Tanpa Khawatir, Telkomsel Siaga 24 Jam Temani Pelanggan hingga Idulfitri 2026
- Bangun Pagi dan Gaya Hidup Aktif Dapat Mencegah Penyakit Saraf Mematikan
- Pastikan Gizi Terjaga, Menko Pangan Tinjau Langsung Pelaksanaan MBG di Lampung Tengah
- Dari Sawah ke Panggung Dunia, Obsesi Besar Mentan Amran untuk Kedaulatan Pangan Indonesia
Mineral Kritis Komponen Utama Energi Masa Depan, MIND ID Perkuat Ekosistem

Keterangan Gambar : Foto ilustrasi produksi bauksit (foto Ant)
JAKARTA-- Percepatan transisi energi nasional sebagaimana
tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan
Energi Nasional (KEN) menempatkan sektor mineral dan batubara sebagai fondasi
penting dalam mendukung pengembangan energi bersih.
Sekertaris
Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Yudha menegaskan, peningkatan porsi
energi surya dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) ke depan tidak dapat
dilepaskan dari kebutuhan mineral kritis yang menjadi komponen utama sistem
energi masa depan.
“Kalau kita
melihat peta transisi energi dalam PP KEN, energi surya akan mempunyai porsi
sangat besar, PLTN juga signifikan pada 2060. Dengan begitu, mineral-mineral
untuk baterai dan komponen pendukungnya ada di sektor Minerba. Itu mendukung
langsung transisi energi,” ujar Satya.
Baca Lainnya :
- Pastikan Gizi Terjaga, Menko Pangan Tinjau Langsung Pelaksanaan MBG di Lampung Tengah0
- Dari Sawah ke Panggung Dunia, Obsesi Besar Mentan Amran untuk Kedaulatan Pangan Indonesia 0
- Mentan Amran Gaspol Jaga Swasembada, Indonesia Bersiap Ekspor Beras0
- Selama Ramadan Kementan Gencar Lakukan Sidak untuk Memastikan Pasokan dan Harga Kebutuhan Pokok Aman0
- Karbon Biru, Harta Karun Ekologis dari Pesisir untuk Masa Depan Bumi0
Menurut dia,
keterkaitan antara kebijakan energi nasional dan sektor minerba bersifat dua
arah. Di satu sisi, mineral kritis seperti nikel, bauksit, tembaga hingga
material ikutan menjadi bahan baku utama teknologi energi bersih. Di sisi lain,
proses hilirisasi di sektor minerba sendiri membutuhkan pasokan energi yang
andal dan berkelanjutan.
“Smelter tidak
mungkin berjalan tanpa listrik, apalagi ke depan kita berbicara listrik yang
lebih hijau dan sustainable. Jadi sektor energi dan minerba ini saling
menopang,” kata Satya.
Ia menambahkan,
dalam skenario KEN terbaru, transisi energi tidak hanya berbicara mengenai
bauran pembangkit, tetapi juga kesiapan rantai pasok mineral yang menopang
teknologi energi bersih. Peningkatan kapasitas pembangkit energi surya,
pengembangan PLTN, hingga sistem penyimpanan energi akan meningkatkan kebutuhan
terhadap mineral strategis yang selama ini dikelola sektor pertambangan
nasional.
“Agenda kita
adalah agenda transisi. Kalau energi surya porsinya besar, kalau PLTN masuk
signifikan, maka kebutuhan mineral untuk baterai, kabel, komponen listrik, itu
otomatis meningkat. Artinya sektor Minerba berada di jantung ekosistem
transisi,” ujarnya.
Dalam konteks
tersebut, peran holding industri pertambangan seperti MIND ID menjadi krusial.
Sebagai entitas yang membawahi sejumlah BUMN tambang strategis, MIND ID dinilai
memiliki posisi sentral dalam memastikan ketersediaan dan pengolahan mineral
kritis guna mendukung transformasi energi nasional.
Satya
menegaskan, keberhasilan kebijakan energi nasional tidak bisa dilepaskan dari
kesiapan industri dalam menyediakan bahan baku strategis sekaligus menjalankan
hilirisasi bernilai tambah.
“Sehebat apa pun
skenario energi nasional, itu tidak lepas dari supply dan demand. Siapa yang
men-supply? Siapa yang memakai? Industri adalah pengguna energi terbesar
sekaligus penyedia bahan baku penting bagi transisi. Karena itu kolaborasi
antara pembuat kebijakan dan pelaku industri menjadi sangat penting,” katanya.
Ia menambahkan,
Dewan Energi Nasional berperan merumuskan arah kebijakan, sementara
implementasinya bergantung pada sinergi lintas sektor, termasuk industri
minerba. Dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen dan komitmen menuju net
zero emission 2060, penguatan ekosistem mineral kritis menjadi bagian tak
terpisahkan dari strategi ketahanan energi nasional.
“Transisi energi
ini bukan hanya soal mengganti sumber energi, tetapi juga membangun fondasi
industrinya. Dan di situlah peran sektor Minerba, termasuk MIND ID, menjadi
strategis,” ujar Satya.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

