Logo Porosbumi
Rabu,
08 April 2026
LIVE TV

Orang Indonesia Pertama Naik Haji Ternyata Bukan Ulama, Melainkan Mualaf

PorosBumi 08 Apr 2026, 07:08:49 WIB
Orang Indonesia Pertama Naik Haji Ternyata Bukan Ulama, Melainkan Mualaf

PENELITI asal Belanda, Martin van Bruinessen, dalam artikelnya Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji, menuliskan, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, jumlah orang Nusantara yang berhaji ke Tanah Suci Mekkah, berkisar antara 10 hingga 20 persen dari seluruh jemaah.

Malah pada dasawarsa 1920-an sekitar 40 persen dari seluruh jemaah berasal dari Indonesia. Masih menurut Martin, orang Indonesia yang tinggal bertahun-tahun atau menetap di Mekkah, umumnya untuk menuntut ilmu agama dan jumlah mereka cukup banyak ketika itu.

Bahkan pada tahun 1860, bahasa Melayu menjadi bahasa kedua di Mekkah, setelah bahasa Arab. Adapun orang pertama dari Nusantara yang menunaikan ibadah haji ternyata bukan berasal dari kalangan ulama. Sosok tersebut justru seorang mualaf, sekaligus bangsawan dan saudagar dari tanah Sunda yang hidup pada masa kerajaan.

Kisah ini menjadi bagian penting dalam jejak awal perjalanan haji masyarakat Indonesia ke Tanah Suci. Mengacu pada sejumlah sumber sejarah, tokoh yang disebut sebagai orang pertama dari Indonesia yang berhaji adalah Haji Purwa, atau dikenal juga sebagai Bratalegawa.

Bratalegawa merupakan putra dari Prabu Bunisora, dari Kerajaan Galuh di wilayah Ciamis, Jawa Barat. Ia lahir pada 1272 Saka (1350 M) dan masih memiliki hubungan keluarga dengan Prabu Niskala Wastu Kancana, kakek dari Prabu Siliwangi.

Sejatinya, Bratalegawa menjadi raja menggantikan kakaknya, Prabu Maharaja (1350-1357) yang gugur dalam perang Bubat, yaitu peperangan antara Pajajaran dengan Majapahit. Namun meski terlahir sebagai bangsawan, Bratalegawa menempuh jalan hidupnya sendiri dan menanggalkan tahta kerajaan.

Ia lalu dikenal sebagai saudagar kaya yang aktif berdagang hingga ke berbagai wilayah. Dalam aktivitas perdagangannya, ia berlayar ke Sumatera, Malaka, China, India, Persia, hingga Semenanjung Arab. Dari perjalanan inilah ia membangun relasi luas lintas wilayah dan budaya.

Perjalanan hidup Bratalegawa berubah ketika ia berjumpa perempuan muslimah asal Gujarat, India, bernama Farhana. Keduanya kemudian menikah, dan Bratalegawa memeluk Islam (mualaf). Setelah itu, Bratalegawa bersama istrinya berlayar ke wilayah Arab dan sempat singgah di Arab Saudi. Dalam sejumlah catatan, ia disebut pernah menunaikan ibadah haji di Makkah.

Selama berada di Tanah Suci, ia juga mempelajari berbagai ilmu. Dalam beberapa sumber, Bratalegawa kemudian dikenal dengan nama Haji Baharuddin al-Jawi.
Sekembalinya ke tanah Sunda, ia mendapat sebutan Haji Purwa Galuh dan dikenal sebagai sosok pelopor.

Haji Purwa beserta istrinya kembali ke kerajaan Galuh di Ciamis pada tahun 1337 Masehi. Di Galuh ia menemui adiknya, Ratu Banawati, untuk bersilaturahmi sekaligus mengajaknya masuk Islam. Tetapi upayanya itu tidak berhasil.

Dari Galuh, Haji Purwa pergi ke Cirebon Girang untuk mengajak kakaknya, Giridewata atau Ki Gedeng Kasmaya yang menjadi penguasa kerajaan Cirebon Girang, untuk memeluk Islam. Namun kakaknya pun menolak.

Tercatat Dalam Naskah Kuno

Kisah Bratalegawa tidak hanya beredar secara lisan, tetapi juga tercatat dalam naskah kuno Sunda seperti Carita Parahiyangan dan Naskah Pangeran Wangsakerta. Catatan ini memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh awal dalam sejarah haji Nusantara.

Meski demikian, sejumlah sumber lain menyebut ada tokoh berbeda yang juga diduga sebagai orang pertama dari Indonesia yang berhaji. Dalam buku Naik Haji di Masa Silam Jilid II, disebutkan Laksamana Malaka kemungkinan telah berhaji sekitar tahun 1482.

Selain itu, ada pula nama Pangeran Abdul Dohhar, putra Sultan Tirtayasa, yang disebut berangkat haji sekitar tahun 1630 M bersama rombongan pedagang dan ulama Nusantara.

Bahkan, ada dugaan bahwa masyarakat Nusantara sudah lebih dulu menunaikan ibadah haji jauh sebelum itu. Salah satunya dikaitkan dengan hubungan antara Raja Sriwijaya, Sri Indravarman, dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada abad ke-8.

Pada masa itu, perjalanan haji bukanlah hal mudah. Jemaah harus menempuh perjalanan laut yang bisa memakan waktu hingga dua tahun. Meski penuh risiko dan tantangan, perjalanan tersebut menjadi awal terbukanya akses bagi masyarakat Nusantara untuk menunaikan ibadah haji di Makkah.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```