- Alarm Keras Bencana Ekologis Batang Toru, Jantung Habitat Orangutan Tapanuli
- Ternyata Mandi di Hutan dapat Menjaga Kesehatan Paru-paru, Begini Penjelasannya
- Seung Tae dan Yayasan Dupamade Asa Raya Salurkan Bantuan di Aceh Tamiang
- Baterai Sebagai Simbol Paradoks Zaman Modern, Antara Energi Bersih dan Limbah Berbahaya
- Hentikan Penggusuran dan Represifitas pada Kelompok Tani Padang Halaban!
- Climb On Student Open Bouldering 2026
- Pioner Cetak Sawah, Reinardus Ndiken Buktikan Masyarakat Adat Merauke Siap Bertransformasi
- Sinema Inklusif Nusantara Membuka Jalan untuk Difabel Berkarya di Industri Film
- Investasi Minerba Sentuh USD6,7 Miliar, Genjot Nilai Tambah SDA Nasional
- Di World Economic Forum Davos, Prabowo Umumkan Indonesia Kekuatan Baru Pangan Dunia
Pioner Cetak Sawah, Reinardus Ndiken Buktikan Masyarakat Adat Merauke Siap Bertransformasi
(1).jpg)
MERAUKE - Keberhasilan Reinardus
Ndiken, pemilik hak ulayat dari Marga Ndiken di Kampung Isano Mbias, Distrik
Tanah Miring, menjadi bukti nyata bahwa masyarakat adat di Kabupaten Merauke
siap bertransformasi menuju pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan.
Melalui Program Cetak Sawah Tahun 2025, lahan seluas 160 hektare milik ulayat
kini mulai memberikan hasil nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat
setempat.
Pada kegiatan panen yang berlangsung di Kampung Isano Mbias,
tercatat panen telah dilakukan pada lahan seluas 2 hektare yang Reinardus
Ndiken usahakan dan kembali berlanjut dengan panen seluas 5 hektare.
Keberhasilan ini menandai Reinardus Ndiken sebagai pemilik hak ulayat pertama
yang secara aktif mengajukan lahannya untuk masuk dalam Program Cetak Sawah
2025.
Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze menegaskan bahwa
transformasi ini sejalan dengan program Swasembada Pangan yang digadang
Presiden Prabowo selaras dengan arah pembangunan daerah yang mendorong
keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam sektor pertanian.
Baca Lainnya :
- Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif0
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan0
- Sejumlah Peneliti Mengembangkan Platform AI untuk Membantu Ketahanan Pangan 0
- Sistem Kandang Berpengaruh pada Kesejahteraan Itik Petelur dan Kualitas Telur0
- Solusi Ketahanan Pangan, Singapura Kembangkan Pertanian Menggunakan Kecerdasan Buatan0
“Masyarakat asli dan saudara-saudara yang ada di Merauke
hari ini adalah masyarakat Merauke. Sinergi dan asimilasi ini harus berjalan.
Dulu mungkin berburu dan meramu, sekarang mulai bergeser ke bercocok tanam,
beternak, bahkan mencetak sawah agar ada nilai ekonomi yang meningkatkan
kesejahteraan,” ujar Yosep, Senin (25/02/2026).
Ia menambahkan, pemerintah daerah terus mengimbau agar
masyarakat lokal sebagai pemilik tanah ulayat tidak hanya dilibatkan, tetapi
juga membuka diri terhadap perubahan yang membawa dampak ekonomi jangka
panjang.
“Ini bukti bahwa masyarakat kita mau terlibat. Dari waktu ke
waktu kita melihat ada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal di Kabupaten
Merauke,” tambahnya.
Sementara itu, Reinardus Ndiken menyampaikan bahwa
keterlibatannya dalam program cetak sawah didorong oleh keinginan untuk
meningkatkan pendapatan pemilik tanah ulayat sekaligus masyarakat sekitar.
“Kita mencetak lahan untuk menambah pendapatan pemilik tanah
dan masyarakat setempat. Dari cetak sawah 160 hektare ini, semua saling
mendukung, mulai dari dinas, kelompok tani, penyuluh, hingga Babinsa,” jelas
Reinardus.
Ia berharap dukungan infrastruktur, seperti jalan usaha tani
dan pintu air, dapat terus diperkuat agar produktivitas lahan semakin optimal
dan mendukung pelaksanaan panen raya di wilayah sekitar. Dari 160 hektar lahan
yang ada, kini telah 100 hektar petani lainnya yang tergabung dalam dua Brigade
Pangan di Distrik Tanah Miring menggarap lahan.
Dukungan terhadap keberhasilan ini juga disampaikan oleh PJ
Ketua Satgas Swasembada Pangan Papua Selatan, Oeng Anwarudin. Menurutnya, kunci
keberlanjutan swasembada pangan terletak pada penguatan sumber daya manusia,
khususnya petani dan kelembagaan pendukungnya.
“Yang harus kita utamakan adalah petaninya. Kita dorong
pembentukan kelompok tani dan gabungan kelompok tani agar pendampingan lebih
mudah. Kelembagaan pertanian harus dikolaborasikan dengan dinas teknis dan
lembaga jasa keuangan seperti KUR,” ungkap Oeng.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mengingat
keterbatasan jumlah penyuluh, terutama di wilayah pedalaman, sehingga sinergi
semua pihak menjadi kunci keberhasilan.
Komitmen pendampingan juga ditegaskan oleh Komandan Kodim
1707/Merauke, Letkol CZI Dili Eko Setyawan. Ia menyatakan bahwa TNI melalui
Babinsa siap mendukung peningkatan kapasitas petani, khususnya pada lahan-lahan
baru hasil cetak sawah.
“Tugas kami membantu pemerintah daerah melalui pendampingan.
Pengetahuan Babinsa terus kami tingkatkan melalui kerja sama dengan dinas
pertanian, agar bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada petani, terutama
yang baru pertama kali menanam di lahan cetak sawah,” ujarnya.
Dari sisi hilir, dukungan terhadap hasil panen petani juga
diperkuat oleh Perum Bulog. Pimpinan Cabang Bulog Merauke, Karennu, menegaskan
bahwa Bulog menjalankan peran strategis sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 13
Tahun 2016, yakni menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga
pangan, khususnya beras.
“Upaya Bulog dalam penyerapan dan pendistribusian
beras hasil petani berpedoman pada regulasi tersebut. Di tahun 2025, kami
berhasil menyerap setara beras sebanyak 22.200 ton dan gabah sebanyak 186 ton.
Untuk beras, capaian ini meningkat signifikan hingga 141 persen, sementara
gabah naik 156 persen. Ini merupakan capaian tertinggi dalam enam tahun
terakhir Bulog Merauke di Papua Selatan,” ungkap Karennu.
Diketahui pada periode Januari hingga Desember 2025, luas
panen padi Merauke tercatat 78.955 hektare, naik 67,39 persen dibandingkan
2024. Produksi padi gabah kering panen melonjak dari 258.626 ton menjadi
426.828 ton. Sementara itu, produksi beras meningkat dari 124.355 ton menjadi
205.231 ton, atau tumbuh lebih dari 65 persen.
Sejalan dengan itu, Kabupaten Merauke juga menjadi salah
satu episentrum pengembangan pertanian nasional melalui program cetak sawah
skala besar. Hingga saat ini, total capaian cetak sawah di Merauke telah
menembus angka 40.000 hektare, menjadikannya salah satu lumbung pangan
strategis di kawasan timur Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari agenda besar pemerintah
pusat dalam memperkuat ketahanan dan swasembada pangan nasional, sekaligus
membuka ruang transformasi ekonomi bagi masyarakat adat sebagai pemilik sah
tanah ulayat. Keberhasilan cetak sawah berbasis masyarakat, seperti yang
dilakukan Reinardus Ndiken, menjadi bukti bahwa kebijakan nasional mampu
berjalan efektif ketika bersentuhan langsung dengan kearifan lokal dan
partisipasi masyarakat.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

