- Selat Hormuz Mencekam, RI Terancam, Kok Bisa? Alarm Keras untuk Transisi Energi Nasional
- Update Perang AS-Israel Vs Iran, 2 Maret 2026: Strategic Intelligence & Battle Damage Assessment
- Memantau Cuaca Secara Cepat dan Akurat Berbasis Fisika dan AI
- Kemenag RI dan British Council Perkuat Guru Bahasa Inggris Madrasah
- Pertanian Organik Memicu Peningkatan Penggunaan Pestisida di Lahan Konvensional, Ini Penjelasannya
- Pertamina Buka Mudik Gratis ke Lebih dari 15 Kota, Catat Tanggal Pendaftarannya
- MIND ID Dukung Penuh Swasembada Energi Sebagai Pilar Pembangunan
- Mineral Kritis Komponen Utama Energi Masa Depan, MIND ID Perkuat Ekosistem
- Gejolak Timur Tengah, Pertamina Prioritaskan Keselamatan Pekerja dan Perkuat Mitigasi Operasional
- Panggung Hijau di Tengah Euforia, XLSMART Sulap Konser Jadi Ajang Zero Waste Berkelanjutan
Presiden: Capaian Sektor Pertanian Bukti Nyata Kemandirian Indonesia
(1)2.jpg)
BALIKPAPAN — Presiden Prabowo
Subianto menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan contoh nyata kerja
pemerintah yang berprestasi dan membanggakan, sekaligus menjadi fondasi
tumbuhnya kepercayaan diri bangsa. Keberhasilan tim pertanian, menurut Presiden
Prabowo, membuktikan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri sebagai
bangsa yang berdaulat dan percaya diri.
Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan
sambutan pada peresmian Kilang Minyak Refinery Development Master Plan (RDMP)
Balikpapan, Senin (12/01/2026). Presiden menegaskan bahwa capaian sektor
pertanian memiliki arti strategis bagi bangsa, tidak hanya dari sisi produksi
pangan, tetapi juga dalam membangun kepercayaan diri nasional.
“Saya kira harus diakui prestasi dan pekerjaan daripada tim
ekonomi kita, tim pertanian kita membanggakan. Ya. Dan ini bukan kita apa
menepuk dada, tapi ini harus kita lakukan. Kita harus jadi bangsa yang percaya
diri. Kita harus jadi bangsa yang bangga dengan prestasi kita. Kita tidak boleh
jadi bangsa yang rendah diri, bangsa yang selalu merasa kalah, merasa selalu
tidak mampu bersaing sama bangsa lain. Kita tidak boleh. Di setiap bidang
kehidupan kita harus menjadi bangsa yang kuat, bangsa yang percaya diri, bangsa
yang mampu berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujar Presiden Prabowo.
Baca Lainnya :
- Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya di Asia Tenggara0
- Perkuat Program MBG, BGN Bidik Angka Stunting Tahun Ini Hilang0
- Solusi Ketahanan Pangan, Singapura Kembangkan Pertanian Menggunakan Kecerdasan Buatan0
- Dari Kebun Buah di Eropa hingga Jantung Malaysia, Mencecap Cita Rasa Abadi Apel Prancis0
- OpenAI Perkenalkan ChatGPT Health untuk Menjawab Pertanyaan Medis0
Presiden menjelaskan bahwa keberhasilan di sektor pertanian
merupakan hasil kerja keras, konsistensi kebijakan, serta sinergi lintas
kementerian dan lembaga sejak awal masa pemerintahannya. Target besar
swasembada pangan yang sebelumnya dipatok empat tahun, justru mampu dicapai
jauh lebih cepat dari perencanaan awal.
“Waktu saya mengambil alih ke pimpinan nasional setelah saya menerima mandat dari rakyat, saya dilantik tanggal 20 Oktober. Saya beri target kepada tim saya untuk swasembada beras dalam waktu 4 tahun. Ternyata kita berhasil dalam 1 tahun. Ini sesuatu yang tidak diduga-duga oleh siapapun. Ini hasil kerja keras daripada tim kita dari sinergi kabinet yang saya pimpin. K/L – K/L bekerja sama semuanya. Kita memangkas regulasi yang tidak masuk akal,” kata Presiden Prabowo.
Salah satu terobosan besar yang disoroti Presiden Prabowo adalah pembenahan tata kelola pupuk bersubsidi yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan utama petani. Presiden menggambarkan rumitnya birokrasi distribusi pupuk di masa lalu yang membuat petani kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi.
“Dulu pupuk sulit langka para petani menjerit. Pabrik pupuk
milik negara. Pupuk kita subsidi. Tetapi sampai ke petani sangat sulit. Waktu
itu ada 145 peraturan. 145 peraturan. Ada 11 K/L yang harus menyetujui, harus
juga tanda tangan gubernur dan bupati. Jadi dari pabrik sampai ke petani
mungkin dibutuhkan 13 tanda tangan. Bayangkan”
Presiden Prabowo kemudian menegaskan bahwa pemerintah
mengambil langkah tegas dengan memangkas seluruh regulasi yang menghambat,
sehingga distribusi pupuk dapat langsung dirasakan petani di lapangan.
“Kita hilangkan itu semua. 145 peraturan kita hapus dan
sekarang tidak perlu 13 tanda tangan cukup satu tanda tangan, satu instruksi.
Kemudian pupuk itu langsung ke petani dan petani tidak perlu pakai macam-macam,
cukup kartu penduduk, cukup disetujui oleh kepala desa. Benar dia petani di
sini,” jelasnya.
Reformasi tersebut, lanjut Presiden, tidak hanya mempermudah
akses pupuk bagi petani, tetapi juga mencetak sejarah baru dalam kebijakan
harga pupuk nasional, sekaligus menjaga keberlanjutan industri pupuk dalam
negeri.
“Dan akhirnya kita berhasil pertama kali dalam sejarah
bangsa kita, kita berhasil menurunkan harga pupuk sebesar 20%. Sesungguhnya
Menteri Pertanian melaporkan bisa menurunkan 25%. Tapi saya kasih kasih tahu
biarlah pabrik dapat keuntungan 5% sehingga kita turunkan cukup 20%. Tetapi
petani sudah sangat terima kasih. Dan walaupun kita turunkan harga ternyata
volume pupuk naik 700.000 ton. Jadi petani sekarang harga terjangkau, barang
ada,” ungkap Presiden.
Keberhasilan reformasi pupuk tersebut berdampak langsung
pada kinerja sektor perberasan nasional. Presiden Prabowo menyebut kondisi
petani beras saat ini berada pada fase terbaik sepanjang sejarah Republik
Indonesia, baik dari sisi produksi, cadangan, maupun kesejahteraan.
“Ini contoh sekarang juga perberasan. Perberasan
petani-petani beras sekarang penghasilannya naik, nilai tukur petani naik dari
106 menjadi 125 tertinggi selama sejarah Republik Indonesia. Cadangan kita juga
tertinggi, produksi kita, beras kita tertinggi selama sejarah Republik
Indonesia,” kata Presiden Prabowo.
Lebih jauh, Presiden menegaskan bahwa kemandirian pangan
merupakan syarat mutlak bagi sebuah negara merdeka. Ketahanan pangan,
menurutnya, merupakan fondasi penting dalam menjaga martabat bangsa dan
melindungi rakyat.
“Negara merdeka harus bisa menghasilkan pangannya sendiri.
Ini sangat mendasar. Tidak masuk akal suatu negara ingin merdeka kalau
tergantung makan dari luar negara tersebut. Dan ini harus kita yakini,” tegas
Presiden.
Presiden Prabowo menutup penegasannya dengan menyatakan
bahwa keberhasilan sektor pertanian harus menjadi contoh bagi sektor lain dalam
membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan sejahtera, melalui keberanian
melakukan reformasi serta keberpihakan nyata kepada rakyat.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

