Produktivitas Padi Tembus 10,43 Ton/Ha, PM-AAS Buktikan Modernisasi Pertanian Tingkatkan Hasil Panen
PENERAPAN Pertanian Modern - Advanced
Agriculture System (PM-AAS) menunjukkan hasil nyata dalam meningkatkan
produktivitas padi. Pada kegiatan panen di lahan penerapan PM-AAS yang digelar
Selasa (4/8) di Desa Kedungneng, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah,
hasil ubinan mencapai 10,43 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare, hampir
dua kali lipat dibandingkan rata-rata produktivitas petani setempat yang selama
ini berkisar 5�6 ton per hektare.
Melalui PM-AAS, berbagai inovasi budidaya dipadukan dalam
satu sistem produksi yang mengoptimalkan penggunaan varietas unggul,
mekanisasi, pemupukan berimbang, pengelolaan air, hingga pendampingan intensif
kepada petani.
Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan
hasil panen, tetapi juga efisiensi biaya produksi, peningkatan produktivitas
lahan, serta kesejahteraan petani. Keberhasilan tersebut sejalan dengan arah
kebijakan Kementerian Pertanian dalam mempercepat modernisasi pertanian sebagai
fondasi menuju swasembada pangan nasional.
Baca Juga
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan
bahwa PM-AAS merupakan salah satu strategi utama Kementerian Pertanian dalam
mempercepat peningkatan produksi pangan nasional. Menurutnya, metode ini telah
melalui proses penelitian dan pengujian selama hampir dua tahun dengan hasil
yang mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Sejalan dengan arahan Mentan Amran, Kepala Badan Perakitan
dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry mengatakan bahwa PM-AAS
merupakan pendekatan budidaya yang mengintegrasikan seluruh komponen teknologi
dalam satu sistem produksi yang saling mendukung.
Mulai dari penggunaan varietas unggul spesifik lokasi,
mekanisasi pertanian, pengelolaan hara dan air yang tepat, hingga pendampingan
budidaya secara intensif, seluruh komponen tersebut dirancang untuk
menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi sekaligus meningkatkan efisiensi
usaha tani.
"Pilot project yang kami lakukan di berbagai
daerah menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Karena itu tahun ini PM-AAS
mulai diperluas di seluruh Indonesia dengan target penerapan mencapai satu juta
hektare. Harapannya, produktivitas meningkat dan pendapatan petani ikut
terdongkrak," kata Fadjry Djufry.
Keberhasilan penerapan PM-AAS juga dirasakan langsung oleh
petani. Salah satunya Setia, wanita tani asal Desa Kedungneng, Kabupaten
Brebes. Ia mengaku sempat meragukan rekomendasi budidaya yang diterapkan karena
berbeda dengan cara bertani yang selama ini biasa dilakukan.
Namun, keraguan tersebut berubah menjadi keyakinan setelah
melihat pertumbuhan tanaman yang semakin baik hingga akhirnya menghasilkan
panen yang memuaskan.
"Alhamdulillah hasilnya bagus. Awalnya saya tidak
percaya karena biasanya cara saya bertani tidak seperti ini. Tapi semakin hari
pertanamannya tumbuh semakin bagus, dan ke depan Insya Allah saya mau lanjut
lagi," ungkap Setia.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa keberhasilan
PM-AAS tidak hanya diukur dari meningkatnya produktivitas, tetapi juga dari
semakin tingginya kepercayaan petani untuk mengadopsi inovasi dan teknologi
sebagai bagian dari praktik budidaya sehari-hari.
Keberhasilan tersebut tercermin pada pelaksanaan panen di
Desa Kedungneng. Hasil ubinan menunjukkan produktivitas mencapai 10,43 ton GKP
per hektare. Peningkatan tersebut dicapai melalui penerapan paket teknologi
PM-AAS secara utuh, mulai dari sistem tanam jajar legowo, pemupukan berimbang,
hingga pengelolaan pengairan berselang atau metode Alternate Wetting and Drying
(AWD).
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan
produktivitas merupakan hasil penerapan teknologi budidaya secara terpadu sejak
tahap persiapan lahan hingga panen. Dengan penerapan yang konsisten dan
pendampingan yang berkelanjutan, teknologi PM-AAS mampu meningkatkan potensi
hasil sekaligus memperbaiki efisiensi penggunaan input produksi.
Sementara itu Asisten II Sekretaris Daerah Kabupaten Brebes,
Ineke Tri Sulistyowaty menyebut modernisasi pertanian menjadi kebutuhan untuk
menjawab tantangan pembangunan pertanian ke depan.
"Kami percaya bahwa masa depan pertanian tidak cukup
hanya mengandalkan kerja keras, tetapi juga harus didukung oleh inovasi,
teknologi, kolaborasi, dan kelembagaan petani yang kuat," ujarnya.
Dukungan pemerintah daerah tersebut menjadi bagian penting
dari kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam mempercepat modernisasi
pertanian. Di tingkat implementasi, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian
(BRMP) Jawa Tengah terus memastikan penerapan PM-AAS berjalan optimal melalui
perluasan area, pendampingan teknis, dan penguatan kapasitas sumber daya
manusia pertanian.
Kepala BRMP Jawa Tengah, Arif Surahman, menjelaskan bahwa
penerapan PM-AAS di Jawa Tengah akan terus diperluas sebagai bagian dari upaya
mendukung modernisasi pertanian nasional.
Hingga September 2026, penerapan PM-AAS di Jawa Tengah
ditargetkan menjangkau 138.284 hektare lahan, sejalan dengan target nasional
penerapan PM-AAS pada satu juta hektare lahan padi.
Selain penyediaan dukungan alat dan mesin pertanian, program
ini juga telah meningkatkan kapasitas sekitar 4.000 petani dan 300 aparatur
melalui pelatihan, pendampingan, serta penguatan penerapan teknologi di
lapangan.
Arif menambahkan bahwa keberhasilan PM-AAS tidak hanya
diukur dari peningkatan hasil panen, tetapi juga dari meningkatnya kemampuan
petani dalam menerapkan teknologi budidaya modern secara mandiri.
Oleh karena itu, BRMP Jawa Tengah terus memperkuat kegiatan
demonstrasi lapang, pelatihan, dan pendampingan agar inovasi yang dihasilkan
benar-benar diadopsi oleh petani dan mampu memberikan manfaat secara
berkelanjutan.
Keberhasilan penerapan PM-AAS di Brebes menunjukkan bahwa
modernisasi pertanian mampu memberikan dampak nyata bagi petani melalui
peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani. Ke depan, BRMP akan terus
memperluas penerapan PM-AAS di berbagai sentra produksi sebagai bagian dari
upaya mendukung percepatan swasembada pangan nasional yang berkelanjutan.
