Logo Porosbumi
15 Sep 2026,
15 September 2026
LIVE TV

BRIN Petakan 4,7-6 Juta Hektare Lahan Potensial untuk Perkebunan Penyangga IKN

PorosBumi 15 Sep 2026, 07:48:31 WIB
BRIN Petakan 4,7-6 Juta Hektare Lahan Potensial untuk Perkebunan Penyangga IKN

PENELITI Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Prof Sukarman menyatakan, kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur membutuhkan perencanaan tata guna lahan yang tepat agar mampu mendukung kebutuhan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya lahan.

Hal tersebut disampaikan Prof. Sukarman dalam Webinar EstCrops_Corner #32 bertema “Tata Guna Lahan Mendukung Pengembangan Komoditas Pertanian Berkelanjutan”, Rabu (9/9). Dalam paparannya, Sukarman mengangkat potensi lahan untuk pengembangan perkebunan di kawasan IKN, Kalimantan Timur.

Menurut Sukarman, pengembangan perkebunan di kawasan penyangga IKN tidak cukup hanya melihat luas lahan yang tersedia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai informasi kesesuaian lahan menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan komoditas perkebunan yang tepat dikembangkan di suatu wilayah.

Karakteristik tanah, ketersediaan air, drainase, media perakaran, retensi dan ketersediaan hara, kemasaman tanah, salinitas, hingga risiko erosi, longsor, dan banjir perlu menjadi pertimbangan sebelum suatu komoditas dikembangkan.

BRIN mencatat informasi kesesuaian lahan untuk sejumlah komoditas pertanian di Kalimantan Timur telah tersedia. Untuk komoditas perkebunan, penilaian sebelumnya mencakup kelapa sawit, kakao, dan tebu. Hasil evaluasi tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk atlas kesesuaian lahan dan arahan komoditas pertanian pada masing-masing kabupaten/kota di Kalimantan Timur.

Dari hasil penilaian tersebut, kata Sukarman, diperkirakan terdapat sekitar 4,7-6 juta hektare lahan yang sesuai untuk komoditas perkebunan. Kabupaten Berau, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur termasuk wilayah yang memiliki lahan sesuai relatif luas untuk pengembangan kelapa sawit, kakao, dan tebu.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan perkebunan menghadapi sejumlah faktor pembatas. Beberapa di antaranya adalah kemiringan lereng dan bentuk wilayah yang dapat meningkatkan risiko erosi dan longsor, rendahnya kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa, rendahnya kandungan karbon organik, kondisi tanah masam, serta tekstur tanah yang agak kasar.

Karena itu, Sukarman menegaskan bahwa pemanfaatan lahan untuk perkebunan harus mempertimbangkan faktor pembatas utama agar penggunaan lahan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Faktor pembatas tersebut sekaligus dapat menjadi dasar pemilihan teknologi pengelolaan lahan, seperti penyiapan lahan dan pembuatan teras, penggunaan varietas unggul, serta pemupukan berimbang. “Pemanfaatan lahan untuk perkebunan harus memperhatikan faktor pembatas utama agar penggunaannya dapat berkesinambungan,” jelas Sukarman.

Ia menekankan, informasi kesesuaian lahan untuk sejumlah komoditas perkebunan di Kalimantan Timur masih perlu diperluas. Karet, kopi, kelapa, pala, dan lada belum seluruhnya memiliki informasi kesesuaian lahan yang memadai sehingga membutuhkan kajian lanjutan.

Data sumber daya lahan skala 1:50.000 yang telah tersedia di seluruh wilayah Kalimantan Timur dapat menjadi dasar awal perencanaan. Namun, menurutnya, untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih aplikatif bagi pengelolaan lahan dan budidaya, BRIN mendorong tersedianya data dengan tingkat ketelitian lebih tinggi, yakni skala 1:10.000 atau 1:5.000.

Pemetaan detail tersebut dapat diprioritaskan pada lahan kelas S2 (cukup sesuai) dan S3 (sesuai marginal) serta kawasan yang memungkinkan untuk dimanfaatkan dengan tetap memperhatikan status dan fungsi kawasan. Sebaliknya, lahan kelas tidak sesuai serta kawasan konservasi dan hutan lindung perlu dikeluarkan dari arahan pengembangan.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan perkebunan di kawasan penyangga IKN diharapkan tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari perencanaan kawasan yang berbasis data.

Informasi kesesuaian lahan yang lebih rinci dapat membantu menentukan komoditas yang tepat, lokasi yang tepat, serta teknologi pengelolaan yang sesuai, sehingga produktivitas dapat berjalan beriringan dengan keberlanjutan sumber daya lahan. (sh/ed:ade,ugi)

 

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```