Ritual Adat Joka Ju Nggela di Ende: Merawat Relasi Manusia, Alam, Leluhur dan Sang Pencipta
KOMUNITAS Masyarakat Adat Nggela
di Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur menggelar ritual
adat Joka Ju untuk menjaga keseimbangan kehidupan serta mempererat hubungan
sosial, spiritual, dan budaya di tengah masyarakat.
Ritual adat yang berlangsung selama lima hari sejak 4-9 Juli
2026 ini terasa istimewa karena turut dihadiri Sekretaris Jenderal AMAN Rukka
Sombolinggi, Bupati Ende Yoseph Benediktus Badeoda serta para tokoh adat
lainnya. Kehadiran mereka sebagai bentuk dukungan terhadap Masyarakat Adat
dalam upaya pelestarian adat dan budaya lokal dengan penguatan terhadap Hak-hak
Masyarakat Adat di Kabupaten Ende.
Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Flores Bagian Tengah
Kristoforus ‘Rio’ Ata Kita mengatakan kehadiran AMAN dalam ritual adat Joka Ju
merupakan bentuk dukungan langsung kepada komunitas Masyarakat Adat Nggela
dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Leluhur.
Baca Juga
Dikatakannya, Joka Ju bukan sekadar ritual adat tahunan,
melainkan sebuah ruang untuk merawat relasi yang harmonis antara sesama manusia
dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan leluhur serta manusia
dengan Sang Pencipta.
“Nilai-nilai yang terkandung dalam Joka Ju mengajarkan
Masyarakat Adat untuk hidup dalam harmoni dan keseimbangan. Inilah warisan
penting yang terus dijaga oleh Masyarakat Adat Nggela,” kata Rio Ata kita usai
ritual.
Ritual adat Joka Ju diawali dengan prosesi Joka Kowa Goba
atau ritual untuk menghantar semua jenis penyakit termasuk hama di kampung
untuk dibuang ke laut. Setelah itu, dilanjutkan dengan Dedo atau ritual
mengusir setan atau nitu pai yang ada di dalam kampung.
Kemudian, lanjut Wanda Feko Genda atau tarian adat untuk
meramaikan kampung yang sudah menyelesaikan ritual adat selama satu tahun, lalu
dilanjutkan Gawi Leja atau hiburan Masyarakat Adat di kampung dalam pelaksanaan
ritual adat Joka Ju yang dilaksanakan selama empat hari. Pada hari ke lima
kembali melaksanakan aktivitas seperti sedia kalanya.
Upacara adat Joka Ju ditutup dengan Goro Taga atau sebuah
permainan penutupan berupa hiburan yang melibatkan banyak orang seperti tarik
tambang, dan sebagainya.
Dalam ritual adat Joka Ju, seluruh tahapan dilaksanakan
dengan khidmat dan melibatkan para Mosalaki, Masyarakat adat, serta tamu yang
datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan kekayaan budaya yang masih
lestari hingga saat ini.
Rio Ata mengatakan pada pelaksanaan ritual adat Joka Ju
tahun ini, Masyarakat Adat Nggela merasa sangat istimewa karena perayaan
Ekaristi dalam rangkaian pelaksanaan ritual adat dipimpin langsung oleh Uskup
Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD.
Disebutkan, kehadiran Sang Gembala di tengah umat yang juga
Masyarakat Adat ini menjadi simbol atas dukungan Gereja Katolik terhadap
keberadaan Masyarakat Adat di Kabupaten Ende yang merupakan bagian dari
identitas budaya Masyarakat Adat di wilayah Nusa Bunga.
Sementara itu, Mosalaki Sao Ria, Aloysius Soka menerangkan
tradisi Joka Ju akan terus diwariskan kepada generasi penerus sehingga
Masyarakat Adat Nggela meyakini bahwa ritual adat tersebut membawa dampak pada
kebaikan, keselamatan, dan perlindungan bagi seluruh komunitas.
“Joka Ju adalah warisan peninggalan leluhur yang tetap hidup
dalam komunitas. Masyarakat Adat Nggela percaya, ritual adat ini akan membawa
berkat serta menjauhkan Masyarakat Adat dari berbagai hal buruk yang dapat
mengganggu kehidupan bersama,” tuturnya.
Aloysius mengatakan pelaksanaan Joka Ju tahun ini juga
menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara yang hadir untuk
menyaksikan secara langsung tradisi adat yang masih terpelihara dengan baik.
Kehadiran para wisatawan menunjukkan bahwa adat dan budaya
Masyarakat Adat memiliki daya tarik dalam sektor pariwisata yang kuat sekaligus
menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya bumi Nusa Bunga kepada dunia.
Melalui penyelenggaraan Joka Ju, katanya, komunitas
Masyarakat Adat Nggela kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga,
melestarikan, dan mewariskan nilai-nilai adat dan budaya leluhur kepada
generasi mendatang.
”Tradisi ini tidak hanya menjadi identitas Masyarakat Adat,
tetapi juga menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang patut
dihormati, dilindungi, dan diwariskan secara berkelanjutan,” ujarnya. (redemptus
deda tore)
