Saat Anak Muda Menjaga Hutan, Dari Slogan Menjadi Gerakan Nyata
Api belum menyala, tapi peringatan sudah berkobar. Di tengah prediksi musim kemarau yang datang lebih cepat dan potensi El Nino pada 2026, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menyalakan alarm, generasi muda harus berdiri paling depan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Seruan itu menggema dalam Youth Talk Take Action (YTTA) Seri 3 Tahun 2026 bertema “Don’t Let It Burn: Aksi Generasi Muda Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan” yang digelar hybrid, Selasa (8/4/2026). Bagi Wamenhut, slogan itu bukan tempelan kampanye.
Baca Juga
“Don’t Let It Burn bukan sekadar slogan. Ini adalah seruan, peringatan, sekaligus komitmen bersama untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan yang berdampak luas, tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga kesehatan, ekonomi, dan reputasi bangsa,” tegas Rohmat.
Karhutla bukan cerita baru. Peristiwa itu datang hampir setiap tahun, membawa asap yang melintasi batas wilayah, mengganggu kesehatan, merusak ekosistem, dan meninggalkan jejak kerugian yang tak sedikit. Namun di balik ancaman yang berulang itu, muncul wajah-wajah baru yang menawarkan harapan, generasi muda.
Karena itu Rohmat sangat menekankan bahwa Don’t Let It Burn bukan sekadar slogan. Tetapi sebuah panggilan yang kini dijawab oleh anak-anak muda dari berbagai daerah, yang memilih turun langsung ke lapangan, bukan hanya bersuara di media sosial.

(data diolah, grafis porosbumi.com)
Perubahan besar sering kali dimulai dari kesadaran kecil. Bagi banyak anak muda, isu lingkungan bukan lagi topik jauh yang hanya dibicarakan di ruang kelas. Tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dari udara yang dihirup hingga masa depan yang ingin mereka wariskan.
Komunitas-komunitas peduli lingkungan pun bermunculan. Mereka menggelar edukasi di desa-desa rawan karhutla, mengajak masyarakat memahami bahaya membuka lahan dengan cara membakar, hingga memanfaatkan teknologi sederhana untuk memantau titik api.
Di beberapa wilayah, anak-anak muda bahkan terlibat dalam patroli rutin bersama aparat dan masyarakat setempat. Mereka belajar membaca tanda-tanda alam, mengenali potensi kebakaran sejak dini, dan bergerak cepat sebelum api membesar.
Ada satu hal yang perlahan berubah dalam pendekatan penanganan karhutla, fokus tidak lagi hanya pada pemadaman, tetapi pada pencegahan. Di sinilah peran generasi muda menjadi sangat krusial.
Dengan energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi, mereka menghadirkan cara-cara baru dalam menjaga hutan.
Kampanye digital, video edukatif, hingga gerakan berbasis komunitas menjadi alat untuk menyebarkan pesan lebih luas. Mereka memahami bahwa mencegah satu titik api jauh lebih berarti daripada memadamkan ratusan hektare lahan yang sudah terbakar.
Upaya ini tentu tidak berdiri sendiri. Pemerintah, masyarakat lokal, dan berbagai organisasi terus membangun kolaborasi yang kuat. Anak muda hadir sebagai penghubung, menjembatani komunikasi, membawa perspektif segar, sekaligus menggerakkan partisipasi lebih luas.
Pendekatan yang inklusif ini menciptakan rasa memiliki bersama. Bahwa hutan bukan hanya milik negara atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab semua pihak. Bagi generasi muda, menjaga hutan bukan hanya soal hari ini. Ini tentang masa depan, tentang udara bersih, tentang keberlanjutan sumber daya, tentang kehidupan yang tetap seimbang.
“Don’t Let It Burn” pada akhirnya bukan hanya pesan untuk mencegah api. Namun menjadi simbol kepedulian, komitmen, dan keberanian untuk bertindak. Ketika anak-anak muda memilih untuk berdiri di garis depan, menjaga hutan dari bara yang tak terlihat, harapan itu terasa semakin nyata. Bahwa suatu hari, kabut asap tak lagi menjadi cerita tahunan, melainkan kenangan yang berhasil ditinggalkan. (yans)
