- Di Rakortas Alih Fungsi Lahan, Mentan Serukan Jaga Sawah dan Perjuangkan Petani Desa Hutan
- Pertamina Group Boyong 35 Trofi PRIA 2026, Bukti Transparansi Komunikasi ke Publik
- Dari Dapur ke Langit, Ketika Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Masa Depan
- Baterai Kalsium Siap Menantang Litium, Jadi Alternatif Energi Terbarukan Masa Depan
- Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah Tawangsari Adakan Penguatan Ideologi
- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
Sektor Pertambangan Jadi Lokomotif Ekonomi Lokal di Berbagai Daerah

Keterangan Gambar : Sektor pertambangan saat ini menyumbang sekitar 8,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. (Dok ESDM)
JAKARTA—
Aktivitas industri tambang di sejumlah daerah penghasil mineral strategis
dinilai tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga mendorong pertumbuhan
ekonomi lokal. Peran ini menghasilkan kontribusi sektor pertambangan dengan
menyumbang sekitar 8,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Ekonom Indef Abra
Talattov mengatakan bahwa pertambangan menjadi salah satu sektor yang menopang
struktur ekonomi Indonesia, terutama di daerah yang bergantung pada sumber daya
mineral.
Menurut Abra, dinamika di
sektor pertambangan lantas harus menjadi perhatian bagi pemangku kebijakan
karena memiliki dampak langsung terhadap kemampuan fiskal nasional dan daerah,
sehingga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.
Baca Lainnya :
- MIND ID Perkuat Komitmen Transisi Energi Lewat Hilirisasi Bauksit0
- Sampah Akan Jadi Rebutan Sebagai Sumber Bahan Bakar 0
- Pertamina Nyalakan Harapan dan Kemandirian Penyintas ODGJ Melalui Pemanfaatan Energi Surya0
- Ikhtiar Hilirisasi Timah: Dari Lumpur Perut Bumi Bangka Jadi Logam Berharga di Cilegon0
- Masa Depan Berkelanjutan Itu Bukan Retorika di Kampung Reklamasi Air Jangkang 0
“Sektor pertambangan ini
menjadi sektor terbesar kelima yang menyumbang PDB kita, sumbangannya sekitar
8,5%. Dan beberapa daerah yang sangat bergantung terhadap sumber daya mineral
ini, ” ujar Abra dalam forum diskusi bertajuk Tata Kelola Pertambangan untuk
Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkelanjutan, baru-baru ini.
Dalam konteks ini, peran
Holding Industri Pertambang MIND ID sebagai induk dari perusahaan pengelola
sumber daya alam mineral strategis nasional terlihat jelas kontribusinya. Grup
MIND ID menjadi penopang bagi penerimaan negara dan daerah sehingga
menggerakkan pertumbuhan ekonomi di daerah operasionalnya.
Perputaran barang dan
jasa, rantai pasok lokal, dan kewajiban fiskal perusahaan memberikan kontribusi
pada pajak dan retribusi daerah, yang kemudian menjadi penggerak utama belanja
publik dan pembangunan infrastruktur.
Di Papua Tengah misalnya,
sektor tambang mendukung fiskal Kabupaten Mimika sebesar Rp407,77 miliar dengan
total penerimaan daerah mencapai Rp5,8 triliun. Struktur penerimaan ini
utamanya bersumber dari aktivitas sektor pertambangan dan berbagai kegiatan
ekonomi terkait yang tumbuh di sekitar daerah operasional PT Freeport
Indonesia.
Kontribusi ekonomi
tambang juga tampak di Sumaetra Selatan, terutama di Kabupaten Muara Enim.
Kabupaten tersebut menetapkan anggaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar
Rp405,24 miliar untuk 2025, dengan realisasi mencapai Rp223,19 miliar atau
lebih dari separuh target hingga Agustus 2025.
Komponen penerimaan
daerah ini utamanya berkaitan dengan kegiatan pertambangan, mulai dari pajak
air permukaan hingga berbagai retribusi yang timbul dari aktivitas logistik,
transportasi, dan pelaku usaha yang mendukung operasi batu bara.
Di Kepulauan Bangka
Belitung, struktur PAD provinsi juga sangat dipengaruhi oleh aktivitas
pertambangan timah. Pemerintah provinsi telah menyepakati bahwa PAD perubahan
2024 sebesar Rp2,4 triliun, yang sebagian besar bersumber dari pajak daerah dan
aktivitas ekonomi yang bergeliat.
Sementara itu,
operasional ANTAM dan Inalum di Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan
Barat, dan Sumatra Utara berkontribusi pada PAD melalui pajak daerah serta
aktivitas ekonomi yang tumbuh dari industri mineral.
Di beberapa kabupaten
seperti Halmahera Timur, Halmahera Tengah, dan Toba, penguatan sektor mineral
berhubungan langsung dengan peningkatan pendapatan dari pajak air permukaan dan
retribusi lokal.
Abra menilai bahwa
hilirisasi menjadi faktor penting dalam mendorong perekonomian daerah. Untuk
itu, Indef tengah mengkaji kebijakan hilirisasi mineral strategis untuk
mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi. “Kami di Indef memang saat ini tengah
melakukan kajian hilirisasi mineral strategis dalam mendukung pertumbuhan
ekonomi yang tinggi,” tuturnya. (Wahyono)
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

