- 11 Bandara Perintis Papua Kembali Kondusif
- SMRA Terus Lengkapi Kawasan Terpadu Bernilai Investasi
- Sebuah Kisah Diplomasi Pangan Indonesia, Dari Ladang Nusantara ke Meja Arab Saudi
- Baterai Ponsel Cepat Habis Padahal Nggak Dipakai? Ini 5 Biang Keroknya yang Bikin Kamu Kaget
- Jangan Kaget! Villa Hantu di Lombok Ini Justru Bikin Kamu Ketagihan, Ini Lho Alasannya
- 5 Aspirasi Gen Z Singkawang Ini Ngena Banget yang Bikin Menko AHY Kagum, Apa Saja Sih?
- Dari Penjual Es Lilin hingga General Manager, 5 Rahasia Sukses Kepemimpinan Anak Papua
- Selat Hormuz Mencekam, RI Terancam, Kok Bisa? Alarm Keras untuk Transisi Energi Nasional
- Update Perang AS-Israel Vs Iran, 2 Maret 2026: Strategic Intelligence & Battle Damage Assessment
- Memantau Cuaca Secara Cepat dan Akurat Berbasis Fisika dan AI
Banjir Jabodetabek Bukti Nyata Rentannya Indonesia dalam Ancaman Krisis Iklim
.jpg)
JAKARTA – Perubahan fungsi lahan yang
serampangan serta lambatnya respon pemerintah atas peringatan dini cuaca
ekstrem menjadi penyebab utama bencana banjir yang merendam wilayah Jakarta,
Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) yang beberapa hari ini
berdampak luas pada masyarakat.
Atas kenyataan itu, Greenpeace mendesak pemerintah daerah di
kawasan Jabodetabek serta pemerintah pusat untuk fokus pada upaya mitigasi dan
adaptasi iklim di tengah tingginya frekuensi cuaca ekstrem akibat dampak krisis
iklim, hingga menyebabkan bencana alam terutama banjir.
Bencana banjir di awal Ramadan ini telah memakan banyak
korban. Salah satunya di wilayah Bekasi, di mana banjir merendam 20 titik di 7
kecamatan di Kota Bekasi. Perubahan bentang alam yang drastis di daerah aliran
sungai (DAS) Kali Bekasi menjadi salah satu penyebab parahnya banjir di Bekasi.
Baca Lainnya :
- Budiman Sudjatmiko Antusiasme Hadir Organisasi Sayap Bantu BP Taskin Entaskan Kemiskinan0
- Kejati Sumsel Tetapkan Lima Tersangka Korupsi Sektor SDA Perkebunan Sawit0
- Dari Tokyo, SBY Ajak Masyarakat Dunia Kembali ke Jalur Kerja Sama, Kemitraan, dan Kolaborasi0
- Politisi Golkar Doli Kurnia Hadirkan Forum Politics & Colleagues Breakfast0
- Sinergi KKP-KPKP Menggali Potensi Kelautan dan Perikanan Sumbawa untuk Sejahterakan Masyarakat 0
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan, area terbangun di
tahun 2022 mencakup 42 persen dari total luas DAS Kali Bekasi, yang melalui
daerah-daerah seperti Cibinong, Gunung Putri, Cileungsi, dan Sentul, serta
kediaman Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Kabupaten Bogor. Jumlah ini
meningkat drastis dari 5,1 persen area terbangun di tahun 1990.
“Perubahan fungsi lahan ini mengurangi kemampuan penyerapan
air, sehingga limpasan air ke sungai menjadi sangat besar melebihi kapasitasnya
dan mengakibatkan sungai meluap ke daerah permukiman di Bekasi yang berada di
lokasi yang lebih rendah. Kini, lahan hutan di wilayah DAS Kali Bekasi hanya
tersisa sekitar 1.700 hektar atau kurang dari 2 persen luas wilayah DAS,” ujar
Sapta Ananda Proklamasi, Senior Data Strategist Greenpeace Indonesia.
Juru Kampanye Sosial dan Ekonomi Greenpeace Indonesia Jeanny
Sirait mengatakan, eksploitasi alam dan pembangunan yang serampangan di wilayah
DAS Kali Bekasi seharusnya bisa dicegah jika pemerintah daerah melakukan
pembatasan izin yang berdampak pada eksploitasi lingkungan di kawasan tersebut.
Selain itu, ia juga menilai pemerintah daerah juga perlu lebih sigap merespon
peringatan cuaca dini yang diberikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika (BMKG) sebagai upaya mitigasi bencana.
“Jabodetabek, layaknya Indonesia, kini berada di garis depan
krisis iklim. Peringatan dini dari BMKG seharusnya menjadi sinyal bagi
pemerintah daerah untuk melakukan respon cepat mitigasi bencana, terutama di
tengah peningkatan frekuensi cuaca ekstrem akibat krisis iklim seperti saat
ini. Dengan begitu, pemerintah daerah bisa meminimalisasi jumlah korban, dampak
sosial dan kerugian ekonomi yang harus ditanggung warga,” ujarnya.
Jeanny pun mendorong pemerintah daerah wilayah Jabodetabek
untuk meningkatkan upaya mitigasi dan adaptasi krisis iklim dibanding
mengeluarkan solusi palsu seperti modifikasi cuaca yang hanya akan bertahan
sementara. Menurutnya, pemerintah daerah seharusnya fokus untuk merancang kota
yang tahan iklim, serta mempersiapkan warga dalam menghadapi dampak krisis
iklim.
“Pemerintah daerah pun harus memastikan upaya mitigasi dan
adaptasi dampak krisis iklim dapat dilakukan oleh masyarakat dengan dukungan
penuh negara, terutama bagi komunitas terdampak seperti rakyat miskin kota,
masyarakat di wilayah pedesaan, warga pesisir dan pulau-pulau kecil. Hal ini
bukan hanya akan meningkatkan ketahanan daerah dalam menghadapi krisis iklim,
namun juga mengembangkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat,” tutur
Jeanny.
Upaya adaptasi dan mitigasi dapat dilakukan melalui
pengelolaan DAS terpadu, restorasi kawasan hutan di hulu, memperbanyak sumur
resapan dan biopori, memperluas kawasan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai
resapan air hujan sekaligus mengurangi polusi udara, pemberdayaan masyarakat
dalam upaya mengelola daerahnya, melakukan pembatasan terhadap izin usaha yang
mengeksploitasi lingkungan serta
memastikan pengendalian alih fungsi lahan yang tidak mempertimbangkan daya dukung
dan daya tampung lingkungan.
Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan
Andriyanu menambahkan, pemerintah pusat pun perlu mengambil langkah untuk
memitigasi krisis iklim yang lebih parah.
“Krisis iklim akan semakin memperparah bencana
hidrometeorologi seperti banjir. Untuk itu pemerintahan Prabowo-Gibran harus
membuat terobosan kebijakan jika ingin melindungi warganya dari bencana iklim.
Mengatasi penyebab utama krisis iklim harus menjadi prioritas utama dalam
penyusunan kebijakan energi dan pembangunan, khususnya dengan meninggalkan
energi fosil sepenuhnya,” kata Bondan.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

