- Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif
- Kades di Tapteng Ramai-Ramai Surati Presiden, Minta Pelurusan Penyebab Banjir Longsor DAS Aek Garoga
- 8 Desa Wisata di Indonesia Buat Kamu Merasakan Kehidupan Masyarakat Lokal
- Fenomena Antre di Tempat Makan Viral, Worth It atau Sekadar Ikut Tren?
- Apakah Venezuela Masih Jadi Kekuatan Besar di Pasar Minyak Global?
- RDMP Balikpapan: Sumur Mathilda yang Kini Garda Terdepan Energi Indonesia Timur
- Tak Ada Pilihan Lain, Indonesia Harus Menjadi Pengendali Harga Nikel Dunia
- Riset BRIN Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa–Sumatra Tertinggi
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan
Bapanas Optimistis Ketersediaan Pangan Pokok Strategis Mencukupi di 2026 Tanpa Importasi

JAKARTA – Pemerintah telah bersiap
sejak jauh hari dalam memastikan ketersediaan pangan pokok strategis untuk
tahun 2026. Dari sisi kebutuhan konsumsi untuk masyarakat seluruh Indonesia
telah dipastikan sebagian besar pangan pokok strategis memiliki carry over
stock yang kuat dan tidak memerlukan importasi.
Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026 yang diolah
Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama kementerian/lembaga terkait, pangan
pokok strategis seperti beras, jagung, dan gula konsumsi menorehkan carry over
stock dari tahun 2025 yang sangat kuat. Dengan begitu, tidak perlu lagi ada
pengadaan dari luar negeri karena produksi dalam negeri mampu memenuhinya.
"Secara bersama-sama dan mufakat, pemerintah telah
memutuskan tidak perlu ada impor untuk beras dan gula konsumsi serta jagung
pakan untuk tahun 2026. Ketersediaan stok dan produksi secara nasional
dipastikan telah kuat dan mampu memenuhi konsumsi masyarakat," terang
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa
di Jakarta pada Rabu (31/12/2025).
Baca Lainnya :
- Menjaga Ekspor dan Menyiapkan Industri Pangan Melalui Program Makan Bergizi Gratis 0
- Presiden Tegaskan Swasembada Pangan Papua, Mentan Target Cetak 100 Ribu Hektare Sawah0
- Prabowo Targetkan Swasembada Pangan Tiap Kabupaten0
- Dari Durian hingga Stroberi, Riset Hortikultura BRIN Catat Sejumlah Capaian 20250
- Beras Alami Deflasi Saat Paceklik, Harga Petani Tetap Terjaga Baik0
Adapun carry over stock 2025 ke 2026 untuk beras berada di
angka 12,529 juta ton. Ini sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP)
yang dikelola Perum Bulog yang sampai 31 Desember masih ada di angka 3,248 juta
ton.
Dengan carry over stock beras secara nasional tersebut
dikalkulasikan masih dapat memenuhi hampir 5 bulan lamanya di 2026. Ini dengan
asumsi kebutuhan konsumsi beras bulanan di angka 2,591 juta ton.
Bahkan dengan proyeksi produksi beras setahun 2026 di angka
34,7 juta ton, maka stok akhir tahun 2026 beras secara nasional nantinya dapat
semakin kokoh di angka 16,194 juta ton. Kemudian untuk ekspor beras
diperkirakan dapat berada sekitar 71 ton pada tahun 2026. Sementara impor
nihil.
Untuk jagung, carry over stock ke 2026 sebesar 4,521 juta
ton. Ini diperkirakan masih dapat memenuhi hampir 3 bulan kebutuhan bulanan
dengan asumsi 1,421 juta ton. Dengan estimasi produksi jagung setahun 2026 di
angka 18 juta ton, nantinya stok jagung akhir tahun 2026 dapat berada di level
4,581 juta ton.
Selain itu, terdapat perkiraan ekspor jagung di tahun 2026
yang diharapkan dapat mencapai 52,9 ribu ton. Selanjutnya untuk impor jagung
pakan, benih, dan rumah tangga dipastikan tidak ada di 2026.
Beranjak ke gula konsumsi, diperkirakan memiliki carry over
stock ke 2026 sejumlah 1,437 juta ton. Dengan level stok tersebut masih dapat
memenuhi hingga 6 bulan di 2026 dengan asumsi kebutuhan konsumsi bulanan di
236,4 ribu ton.
Produksi gula nasional untuk 2026 diestimasikan dapat
mencapai 2,72 juta ton, sehingga stok akhir tahun 2026 nantinya dapat berada di
1,32 juta ton. Gula konsumsi juga diputuskan tidak ada importasi di tahun
2026.
"Tidak hanya itu, jangan lupa dalam beberapa tahun
terakhir, Indonesia sudah tidak membutuhkan impor untuk kebutuhan konsumsi
bawang merah, cabai, telur ayam ras, dan daging ayam. Indonesia telah
sufficient. Produksi petani dan peternak kita mumpuni," tambah Deputi
Ketut.
Dalam catatan Bapanas, bawang merah di Neraca Pangan 2025
memiliki perkiraan produksi setahun di 1,397 juta ton. Sementara kebutuhan
konsumsi tahunan berada di 1,239 juta ton. Dengan itu, produksi bawang merah
nasional masih dapat mencukupi.
Sementara untuk cabai besar dan cabai rawit, produksi secara
nasional di 2025 masing-masing dapat mencapai angka 1,609 juta ton dan 1,744
juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi setahun di 2025 masing-masing di 920,3
ribu ton dan 904,8 ribu ton. Artinya ada surplus yang cukup antara produksi dan
konsumsi.
Idem pula pada telur dan daging ayam ras. Di 2025, perkiraan
produksinya cukup besar masing-masing 6,532 juta ton dan 4,287 juta ton.
Sementara kebutuhan konsumsi selama setahun di 2025 masing-masing 6,487 juta
ton dan 4,139 juta ton. Ini juga masih ada surplus produksi terhadap konsumsi.
Kepastian tidak adanya importasi untuk pangan pokok
strategis tersebut merupakan konkretisasi komitmen dari Kepala Badan Pangan
Nasional (Bapanas) yang juga sebagai Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran
Sulaiman. Selama ini, Amran selalu menitikberatkan program dan kebijakan yang
ia ambil demi kepentingan petani dan peternak dalam negeri.
"Untuk tahun 2026, sesuai komando Bapak Presiden
Prabowo Subianto, kami terus berkomitmen menjaga petani dan peternak pangan
Indonesia. Petani dan peternak kita tidak boleh rugi. Mereka harus sejahtera.
Hasil kerja keras mereka harus dapat disalurkan secara luas bagi kebutuhan
masyarakat Indonesia," tegas Amran.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)

.jpg)

.jpg)

.jpg)

