Agroklimat Dieng Berpotensi Dukung Tiga Kali Tanam Sayuran
PENELITI Ahli Utama Pusat Riset Iklim
dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris Pramudia,
mengungkapkan bahwa kawasan Dieng yang memiliki iklim sedang dan curah hujan
tinggi dengan ketinggian permukaan 1.200–1.500 meter di atas permukaan laut
(mdpl), berpotensi untuk budi daya pertanian tiga kali tanam dengan komoditas
sayuran dataran tinggi atau tanaman perkebunan dataran tinggi.
Hal tersebut disampaikan Aris saat memaparkan karakteristik
agroklimat dan potensi pertanian di Dieng-Cartenz, dalam Webinar Series ORKM
bertajuk “Urgensi Mempertahankan Salju Dieng-Cartenz sebagai Indikator
Ekosistem & Lingkungan”, Kamis (9/7/2026).
Aris menjelaskan, Dieng berada di dataran tinggi Jawa Tengah
yang mencakup wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, dengan
bentang alam yang didominasi oleh lahan pertanian dan kawasan hutan.
Baca Juga
Sementara itu, Cartenz terletak di Papua Tengah, tepatnya di
kawasan Pegunungan Jayawijaya yang berdampingan dengan Puncak Jaya, pada
ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut dengan kondisi
permukaan yang didominasi batuan.
Dalam penjelasannya, pola curah hujan di Dataran Tinggi
Dieng adalah monsunal, yaitu karakteristik cuaca dengan perbedaan sangat jelas
antara musim hujan dan musim kemarau. Di mana, curah hujan tahunan 3.644 mm per
tahun, dengan jumlah bulan basah delapan bulan dan bulan kering tiga bulan. “Periode
kering dengan intensitas kurang dari 50 mm per sepuluh hari terjadi selama 11
dasarian,” terang Aris.
Sedangkan pola curah hujan di Cartenz adalah pola yang
berfluktuasi basah dan kering lebih dari tiga kali. Sehingga, polanya merupakan
multi-pattern dengan curah hujan tahunan 2.762 mm per tahun, dengan jumlah
bulan basah lebih dari sembilan bulan dan tidak memiliki bulan kering.
“Tetapi dia mengalami periode kering dengan intensitas
kurang dari 50 mm per sepuluh hari atau per dasarian, selama 20 hari atau dua
dasarian,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan potensi pertanian dapat dilihat
dari beberapa metode. Salah satunya pendekatan klasifikasi iklim J.W. Junghuhn.
Klasifikasi ini membagi berdasarkan ketinggian atau kondisi suhu udara
setempat.
Klasifikasi Junghuhn didasarkan pada ketinggian tempat dan
tanaman yang potensial dibudidayakan pada ketinggian tersebut. Zona iklim panas
pada ketinggian 0–600 mdpl dapat dibudidayakan kelapa, karet, tebu, padi,
jagung, tembakau, dan cokelat. Di zona iklim sedang pada ketinggian 600–1.500
mdpl dapat dibudidayakan teh, stroberi, kol, sawi, dan selada.
Di zona iklim sejuk pada ketinggian 1.600–2.000 mdpl dapat
dibudidayakan sayur-sayuran, hutan tanaman industri, kopi, teh, dan kina.
Sementara di zona iklim dingin pada ketinggian lebih dari 2.500 mdpl tidak ada
tanaman yang dapat dibudidayakan. Tanaman yang dapat bertahan hidup di zona ini
adalah lumut dan paku.
Selain itu, dari penelitian sebelumnya, Aris mengutip hasil
analisis potensi pertanian berdasarkan atlas klasifikasi sumber daya
agroklimat. Untuk estimasi temperatur udara rata-rata 22,4–26 derajat Celsius,
alternatif tanaman komoditasnya adalah sereal, kacang-kacangan, buah-buahan,
dan tanaman perkebunan dataran rendah lainnya.
Untuk estimasi temperatur udara rata-rata 18,1–22,4 derajat
Celsius, alternatif tanaman komoditasnya adalah sereal, kacang-kacangan, karet,
dan tanaman perkebunan dataran tinggi.
Lalu, untuk estimasi temperatur udara rata-rata 13–18,1
derajat Celsius, alternatif tanaman komoditasnya adalah sayuran dataran tinggi,
perkebunan dataran tinggi, dan tanaman asli. Adapun untuk estimasi temperatur
udara rata-rata kurang dari 13 derajat Celsius, alternatif tanamannya adalah
tanaman asli.
“Pada atlas, klasifikasi sumber daya agroklimat juga
terdapat klasifikasi berdasar curah hujan tahunan, termasuk bulan kering dan
bulan basahnya, untuk potensi budi daya pertanian dan pilihan atau variasi
alternatif dari pola tanam,” tegasnya.
Berdasarkan hal tersebut, Aris menyatakan Dieng yang
memiliki iklim sedang dan curah hujan tinggi dengan ketinggian permukaan
1.200–1.500 mdpl berpotensi untuk budi daya pertanian tiga kali tanam dengan
komoditas sayuran dataran tinggi atau tanaman perkebunan dataran tinggi.
Lebih lanjut diterangkan, terdapat teknik lainnya, yaitu
pewilayahan komoditas berbasis zona agrokologi dengan mempertimbangkan kelas
lereng dan jenis tanah.
“Kalau lerengnya terjal di atas 40 persen, maka jangan
ditanami, tetapi dibiarkan tumbuh vegetasi alami sebagai lahan konservasi. Jika
lerengnya antara 16–40 persen, bisa untuk perkebunan,” terang Aris.
Jika lerengnya landai antara 8–15 persen, sambungnya, bisa
untuk wanatani atau pengelolaan lahan yang memadukan pertanian atau perkebunan
dengan penanaman pohon berkayu secara bersamaan di area yang sama.
Dan jika lerengnya landai hingga sangat landai atau kurang
dari 8 persen, bisa menjadi lahan pertanian kering atau lahan pertanian basah,”
pungkasnya. Menutup paparannya, Aris juga menerangkan perihal kajiannya terkait
potensi pertanian berdasarkan kebutuhan suhu optimal tanaman dan penilaian
berdasarkan ordo dan kerapatan jaringan sungai. (mg/ed: kg, tnt)
