Buku 45 Tahun GAPKI: Menguak Industri Sawit RI yang Dulu Anak Bawang, Kini Raksasa Dunia
DI balik posisi teguhnya Indonesia
sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia hari ini, ada jejak
sejarah panjang dan berliku yang belum banyak diketahui publik. Semuanya kini
terekam jelas dalam buku bertajuk “45 Tahun GAPKI untuk Negeri”.
Dalam puncak perayaan HUT ke-45 Gabungan Pengusaha Kelapa
Sawit Indonesia (GAPKI) di Jakarta, Selasa (29/4/2026), Dewan Pembina GAPKI,
Joko Supriyono, secara eksklusif membedah isi buku yang merangkum epik
perjalanan industri sawit sejak 1981 hingga era modern saat ini. Acara ini
turut disaksikan oleh Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, serta
deretan pemangku kepentingan industri sawit nasional.
Drama di Balik Layar Penyusunan Buku
Baca Juga
Joko Supriyono blak-blakan menyebut bahwa menyusun rekam
jejak lebih dari empat dekade ini bukanlah misi yang mudah. Tantangan
terbesarnya: keterbatasan dokumen arsip sejarah! “Merangkai sejarah dari tahun
1981 hingga sekarang bukan hal mudah, karena banyak sumber dan dokumen yang
sudah tidak lengkap,” ungkap Joko.
Untuk memastikan validitas dan keaslian sejarah, tim
penyusun harus turun gunung melakukan penelusuran mendalam. Mereka mewawancarai
langsung para saksi hidup, yakni para pendiri dan pengurus GAPKI periode
pertama, seperti Pak Suwito dan Pak Udayan, demi menjaga agar narasi yang
disajikan tetap autentik dan tidak melenceng dari fakta.
Era 80-an: Mengejar Ketertinggalan dari Malaysia
Salah satu fakta menarik yang diungkap dalam buku ini adalah
peran krusial tokoh ekonomi legendaris nasional, Prof Sumitro Djojohadikusumo.
Di fase awal pembentukan GAPKI, pemikiran beliau sangat memengaruhi dinamika
industri minyak goreng dan arah kebijakan ekspor nasional kala itu.
Buku ini juga merekam sebuah ambisi besar di awal tahun
1980-an. Pada masa itu, industri sawit modern Indonesia masih berstatus ‘anak
bawang’ dan tertinggal jauh dari negara tetangga, Malaysia. “Pada awal 1980-an,
produksi kita masih jauh di bawah Malaysia. Namun saat itu, sudah ada tekad
kuat dari para pelaku industri untuk mengejar dan bahkan melampaui mereka,”
cerita Joko penuh semangat. Dan terbukti, tekad tersebut kini menjadi
kenyataan.
3 Fase Krusial Transformasi Kelapa Sawit RI
Untuk memudahkan pembaca memahami evolusi industri ini, buku
“45 Tahun GAPKI untuk Negeri” membagi perjalanan kelapa sawit Indonesia ke
dalam tiga babak utama, yakni Fase Pembangunan Awal (1981–1999): Masa di mana
fondasi industri mulai dibangun dari nol, diiringi dengan berbagai penyesuaian
kebijakan dan pembukaan lahan.
Lalu, Fase Ekspansi (2000–2015): Era keemasan di mana
industri sawit nasional tumbuh pesat, memperluas jangkauan pasar, dan mulai
mendominasi peta komoditas global. Kemudian, Fase Keberlanjutan/Sustainability
(2016–2025): Periode paling menantang yang memaksa industri untuk beradaptasi
dengan standar lingkungan global dan praktik bisnis yang ramah lingkungan.
Tantangan Berat di Depan Mata
Menurut Joko, fase keberlanjutan saat ini adalah ujian
terberat bagi industri sawit. Predikat sebagai eksportir minyak sawit terbesar
di dunia rupanya datang dengan konsekuensi yang tak main-main. “Saat ini kita
menghadapi tantangan besar. Dari dalam negeri, kita harus beradaptasi dengan
regulasi yang kerap berubah-ubah. Sementara dari luar negeri, kita dihantam
oleh isu proteksionisme dan tuntutan sustainability (keberlanjutan) yang
semakin ketat,” paparnya.
Oleh karena itu, kewaspadaan dan kemampuan beradaptasi
menjadi kunci mutlak agar daya saing sawit Indonesia tidak luntur. Lewat
kehadiran buku “45 Tahun GAPKI untuk Negeri”, Joko menaruh harapan besar agar
karya ini tidak sekadar menjadi pajangan, melainkan menjadi referensi berharga.
Sebuah kompas bagi pemerintah, pelaku industri, hingga generasi penerus (Gen Z
dan Milenial) untuk meracik strategi dan menentukan arah masa depan industri
sawit nasional yang lebih gemilang.
