El Nino Menguji Ketahanan Pangan Indonesia, Bapanas: Pangan Lokal Adaptif Terhadap Perubahan Iklim
FENOMENA El Nino yang berpotensi meningkatkan suhu dan mengubah pola curah hujan menjadi tantangan bagi ketahanan pangan Indonesia.
Di tengah kondisi iklim yang semakin dinamis, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong penguatan pangan lokal sebagai salah satu strategi membangun sistem pangan yang lebih adaptif sekaligus membuka pilihan sumber pangan bagi masyarakat.
Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Hamid Sangadji, mengatakan perubahan iklim tidak hanya menjadi tantangan bagi produksi pangan, tetapi juga membuka ruang bagi petani untuk menyesuaikan komoditas yang dibudidayakan dengan kondisi lingkungan setempat.
“Dengan adanya perubahan iklim ini, sebenarnya memberikan ruang kepada petani atau masyarakat kita untuk memilih melakukan proses budidaya," ujar Sangadji dalam suatu wawancara di Jakarta pada Senin (31/8/2026).
"Pangan itu tidak hanya pada satu sumber karbohidrat, tetapi ada pilihan sumber karbohidrat lainnya, seperti jagung dan umbi-umbian,” sambung Sangadji. Ia menambahkan, keberagaman sumber pangan menjadi penting ketika kondisi iklim tidak lagi mudah diprediksi.
Menurutnya, Indonesia memiliki berbagai pangan lokal yang telah lama dikenal dan dikonsumsi masyarakat, sehingga potensinya perlu kembali diperkuat dalam pola konsumsi sehari-hari.
“Dengan adanya kondisi iklim hari ini, tentunya memberikan alternatif pilihan bagi para petani kita untuk menyediakan pangan bagi masyarakat kita,” katanya.
Sejalan dengan hal tersebut, Bapanas terus mendorong percepatan penganekaragaman konsumsi pangan lokal melalui Perpres Nomor 81 Tahun 2024.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya pangan di setiap daerah sekaligus mendukung tercapainya kemandirian dan ketahanan pangan nasional.
Penganekaragaman pangan juga mulai terlihat dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Berdasarkan data Skor Pola Pangan Harapan (PPH) 2021-2025, konsumsi beras menunjukkan tren penurunan, dari 94,4 kg/kapita/tahun pada 2021 menjadi 87,3 kg/kapita/tahun pada 2025.
Secara berturut-turut, konsumsi beras tercatat sebesar 93,5 kg/kapita/tahun pada 2022, 93,8 kg/kapita/tahun pada 2023, dan 92,1 kg/kapita/tahun pada 2024, sebelum kembali turun menjadi 87,3 kg/kapita/tahun pada 2025.
Sangadji menilai perubahan tersebut menjadi sinyal positif bahwa masyarakat mulai memiliki pilihan konsumsi yang lebih beragam, meskipun beras masih menjadi sumber karbohidrat utama.
“Hari ini memang kita dihadapkan oleh kebiasaan yang mulai terjalin bahwa konsumsi utama adalah beras. Namun, hari-hari ini juga sudah mulai teralihkan dengan memanfaatkan sumber-sumber pangan lokal tadi,” ungkapnya.
Ia mencontohkan kembali populernya pangan rebusan sebagai salah satu pilihan sarapan masyarakat. Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kembali pangan lokal ke dalam pola konsumsi sehari-hari.
“Yang lagi tren hari ini itu bagaimana rebusan menjadi salah satu pilihan. Yang dipilih oleh masyarakat kita untuk beraktivitas pagi dengan sarapannya adalah rebusan. Ini salah satu contoh konkret,” katanya.
Berdasarkan data Bapanas tahun 2025, konsumsi pangan lokal dari kelompok umbi-umbian tercatat antara lain singkong sebesar 10,9 kg/kapita/tahun, ubi jalar 4,0 kg/kapita/tahun, kentang 2,5 kg/kapita/tahun, sagu 0,3 kg/kapita/tahun, dan umbi lainnya 0,6 kg/kapita/tahun.
Sementara itu, konsumsi jagung tercatat sebesar 1,5 kg/kapita/tahun. Beragamnya sumber karbohidrat tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak harus bertumpu pada satu komoditas.
Pemanfaatan pangan lokal juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun pola konsumsi yang lebih beragam sekaligus memperkuat potensi pangan di masing-masing daerah.
“Mungkin kenyang tidak harus nasi, ya. Kita punya alternatif tadi, potensi-potensi pangan lokal yang sudah terbiasa dikonsumsi di masyarakat dan ini kita ingin bangkitkan kembali ke dalam isi piring kita,” pungkas Sangadji.
