Hilirisasi Mineral dan Pengembangan Ekosistem Baterai, Pemerintah Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA-Pemerintah
mempercepat pengembangan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electric
vehicle/EV) terintegrasi dari hulu ke hilir sebagai strategi utama mendorong
hilirisasi mineral dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Proyek kolaborasi Grup MIND ID,
PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan konsorsium Huayou (HYD) ini diharapkan
menjadi motor bagi peningkatan daya saing industri nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah terus mendorong
pengembangan ekosistem rantai industri baterai secara terintegrasi, mulai dari
pertambangan nikel, smelter, high pressure acid leaching (HPAL), produksi precursor
dan katoda, hingga manufaktur sel baterai.
Baca Juga
Dengan total nilai investasi
proyek diperkirakan mencapai US$ 7 miliar hingga US$ 8 miliar, pemerintah terus
melanjutkan pengembangan fasilitas baterai dari tahap awal berkapasitas 10
gigawatt (GW) yang telah beroperasi sejak 2023.
Ke depan, kapasitas produksi akan
ditingkatkan dengan tambahan 20 GW guna memperkuat posisi Indonesia dalam
rantai pasok global industri baterai dan kendaraan listrik.
“Kita ingin proyek ini memberikan
nilai tambah maksimal bagi bangsa. Hilirisasi harus menjadi pengungkit
pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat industri strategis di dalam
negeri,” ujar Bahlil usai penandatanganan kerangka kerja sama (Framework
Agreement) oleh konsorsium ANTAM-IBI-HYD, Jumat (31/1/2026).
Bahlil menjelaskan rantai
industri ekosistem baterai kendaraan listrik memiliki dampak yang sangat besar
terhadap kemajuan ekonomi.
Bukan hanya meningkatkan nilai
tambah mineral, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan memperkuat
ketahanan energi nasional.
Bahlil menerangkan, Indonesia
memiliki sumber bahan baku nikel, yang nantinya akan dipasok oleh PT Aneka
Tambang Tbk (ANTAM) yang berkolaborasi dengan konsorsium.
Pemerintah pun menargetkan
kepemilikan mayoritas tetap berada di tangan negara, dengan porsi di atas 50%,
bahkan di kisaran 60%–70%.
“Ini implementasi Pasal 33.
Kekayaan alam harus dikelola negara dan diprioritaskan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama
Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif menyatakan, kerja sama
ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi sekaligus membangun
kemandirian teknologi baterai di dalam negeri.
“Sejak awal, misi utama IBC adalah
menyukseskan proyek Dragon dan Titan. Kerja sama dengan Huayou ini merupakan
kelanjutan dari proyek Titan, setelah sebelumnya bersama LG. Kami ingin
memastikan bahwa hilirisasi ini benar-benar memberikan nilai tambah optimal
bagi Indonesia,” kata Aditya.
Menurut Aditya, kolaborasi ini
tidak hanya berorientasi pada pembangunan kapasitas produksi, tetapi juga
penguatan penguasaan teknologi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia
nasional.
“Harapannya, partnership ini
menjadi learning curve bagi Indonesia, sehingga ke depan kita tidak hanya
menjual sumber daya, tetapi juga mampu memproduksi baterai dengan teknologi
kita sendiri,” pungkasnya.