India-Indonesia: Hubungan Kuno yang Terjalin Melalui Sejarah, Budaya, dan Kehidupan Sehari-Hari
DR MANISH SHRIVASTAVA
Penulis dan profesional asal India¸berbasis di
Jakarta
Baca Juga
JAUH sebelum ada kedutaan besar,
kunjungan kenegaraan, atau perjanjian diplomatik, hubungan India dan Indonesia
telah dimulai dari laut. Para pedagang, biksu, cendekiawan, perajin,
pendongeng, dan peziarah tidak hanya membawa barang dagangan melintasi samudra.
Mereka juga membawa bahasa, aksara, kepercayaan, kisah-kisah, tradisi kuliner,
serta cara pandang terhadap kehidupan.
Di tengah lalu lintas manusia dan gagasan itu, sosok Resi
Agastya turut memasuki imajinasi masyarakat Nusantara. Di Pulau Jawa, ia
dikenang sebagai guru yang membawa ajaran Hindu, disiplin, dan nilai-nilai
spiritual. Kehadirannya dalam tradisi candi, termasuk di Prambanan, menunjukkan
betapa dalamnya pengaruh pemikiran India yang kemudian bertransformasi menjadi
bagian dari identitas Indonesia sendiri.
Kerajaan-kerajaan kuno semakin mempererat hubungan tersebut.
Sriwijaya di Sumatra berkembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha yang
memiliki hubungan erat dengan Universitas Nalanda di India. Di Jawa dan Bali,
kisah Ramayana dan Mahabharata menemukan kehidupan baru melalui tari, teater,
seni pahat, penamaan, hingga berbagai ritual budaya.
Bagi seorang India yang berdiri di hadapan Candi Borobudur
atau Prambanan, sering kali muncul perasaan yang sulit dijelaskan.
Kisah-kisahnya terasa akrab, tetapi cara masyarakat Indonesia menghidupkannya
benar-benar memiliki karakter yang khas.
Barangkali penyair besar India, Rabindranath Tagore, juga
merasakan hal serupa ketika mengunjungi Jawa dan Bali pada tahun 1927. Sebagai
seorang penyair, ia mampu melihat hal-hal yang sering luput dari perhatian para
pelancong. Ia menyaksikan candi, tari, musik, ritual, dan kehidupan masyarakat
desa.
Namun yang paling membekas baginya adalah bagaimana
keindahan begitu menyatu secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Tagore
menemukan gema India di Indonesia, tetapi setiap gema itu telah memperoleh
suaranya sendiri.
Kisah-kisah epik tetap hidup, namun bergerak dengan
kelembutan budaya Jawa. Pemikiran Hindu tetap bertahan, tetapi di Bali
berkembang melalui upacara adat, sesajen, kehidupan komunal, dan penghormatan
terhadap alam.
Musik gamelan memiliki kesabarannya sendiri. Tarian
berbicara melalui keheningan. Gerak tubuh berlangsung perlahan, ekspresi tetap
tenang, tetapi pesannya mampu menyentuh hati. Saya sendiri berkali-kali
merasakan pengalaman serupa.
Di Indonesia, masa lalu jarang hadir secara mencolok. Ia
hidup tenang di balik nama-nama orang, upacara adat, candi, tradisi keluarga,
bahkan dalam cara masyarakat memaknai waktu. Perjuangan kemerdekaan kemudian
memberikan makna emosional yang lebih dalam bagi kedekatan kedua bangsa.
India dan Indonesia sama-sama pernah merasakan pahitnya
penjajahan. Masyarakat di kedua negara memahami bagaimana rasanya ketika tanah,
perdagangan, pendidikan, bahkan martabat bangsa berada di bawah kendali pihak
asing.
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945
dan harus berjuang panjang memperoleh pengakuan internasional. India menyusul
meraih kemerdekaan dua tahun kemudian. Saat itu, berbagai bangsa di Asia sedang
merebut kembali suara dan identitas mereka setelah berabad-abad hidup di bawah
kolonialisme.
Dukungan India terhadap Indonesia bukan semata-mata lahir
dari kepentingan diplomatik. Dukungan itu juga tumbuh dari kesamaan pengalaman
sejarah, dari rasa hormat satu peradaban tua terhadap peradaban tua lainnya
yang sedang berusaha kembali menemukan tempatnya di dunia.
Laut memang memisahkan kedua negara. Bahasa dan pengalaman
kolonial pun berbeda. Namun makna kebebasan yang dirasakan masyarakat keduanya
sangatlah serupa. Setelah sama-sama merdeka, hubungan India dan Indonesia
memperoleh bentuk resmi melalui berbagai kerja sama antarnegara.
Namun bagi mereka yang pernah hidup di kedua negeri ini,
hubungan tersebut selalu terasa melalui hal-hal sederhana. Saya menemukannya
dalam nama-nama seperti Dewi, Putri, Indra, Wisnu, dan Surya. Saya melihatnya
dalam pertunjukan Ramayana di Jawa, ketika cerita berasal dari India, tetapi
gerak tari, irama musik, dan suasananya sepenuhnya milik Indonesia.
Saya juga menemukannya di Bali. Seorang pengunjung dari
India mungkin mendengar mantra-mantra yang familiar, tetapi akan menyaksikan
cara beribadah, sesajen, kehidupan pura, dan kedisiplinan masyarakat yang
berbeda namun tetap terasa dekat.
Saya merasakannya pula di Jakarta, tempat makanan India,
film Bollywood, yoga, Ayurveda, dunia usaha, pendidikan, dan komunitas India
hidup berdampingan secara harmonis dengan keramahan masyarakat Indonesia,
bahasa Indonesia, tata krama, dan budaya lokal.
Kunjungan resmi dari India ke Indonesia pada bulan Juli ini
menjadi bagian dari tradisi panjang tersebut. Bagi saya pribadi, kunjungan ini
menyentuh sesuatu yang telah saya alami dalam kehidupan sehari-hari selama
bertahun-tahun. Saya datang ke Indonesia sebagai seorang profesional biasa dari
India. Hal pertama yang ditantang negeri ini bukanlah kemampuan saya bekerja,
melainkan cara saya memandang waktu.
Saya datang dengan kebiasaan khas India: ingin bertanya
cepat, mengambil keputusan cepat, menindaklanjuti pekerjaan dengan cepat, dan
menganggap bahwa jika sesuatu sudah jelas bagi saya, maka tentu akan segera
jelas pula bagi orang lain. Indonesia tidak pernah memperdebatkan kebiasaan
itu. Indonesia hanya membuat saya belajar menunggu.
Sebuah percakapan sering kali dimulai dengan secangkir teh.
Sebuah keputusan lahir setelah banyak percakapan kecil. Bahkan sebuah kata
"ya" pun membutuhkan waktunya sendiri. Kata nanti dapat memiliki
begitu banyak makna.
Pada awalnya saya merasa gelisah. Namun perlahan saya
memahami bahwa masyarakat Indonesia bukan sedang menguji efisiensi saya. Mereka
hanya ingin mengetahui apakah saya dapat dipercaya, apakah saya mampu
mendengarkan, dan apakah saya tetap tenang ketika segala sesuatu tidak berjalan
sesuai jadwal yang saya buat.
Saat Idulfitri pertama saya di Indonesia, saya mendengar
ucapan, "Mohon maaf lahir dan batin." Ucapan itu langsung
mengingatkan saya pada tradisi Jain di India yang mengenal ungkapan Micchāmi
Dukkaḍaṃ, yaitu permohonan maaf atas segala kesalahan yang dilakukan, baik
disengaja maupun tidak.
Bahasanya berbeda. Tradisi agamanya pun berbeda. Namun
maknanya terasa sangat akrab. Saya melihat keluarga saling mengunjungi, membawa
makanan, meminta maaf, berbicara dengan lembut, serta menempatkan hubungan
antarmanusia di atas ego pribadi.
Nilai-nilai serupa juga saya temukan dalam keluarga-keluarga
di India, terkadang saat perayaan, setelah terjadi perselisihan keluarga, atau
melalui penghormatan yang diberikan kepada orang tua tanpa perlu dijelaskan
alasannya. Pengalaman-pengalaman kecil inilah yang kemudian menjadi benih
lahirnya buku saya, Sabar, Sambal & Survival.
Kini, setiap kali memikirkan hubungan India dan Indonesia,
yang terlintas justru momen-momen sederhana tersebut. Seorang warga India yang
belajar berbahasa Indonesia sebelum bertamu ke rumah orang Indonesia.
Seorang sahabat Indonesia yang dengan sabar menjelaskan adat
setempat tanpa membuat orang asing merasa canggung. Sebuah meja makan tempat
sambal berdampingan dengan masakan India, dan keduanya terasa sama-sama pantas
berada di sana.
Atau ucapan selamat hari raya yang membawa semangat saling
memaafkan, meski diucapkan dalam bahasa yang berbeda. Indonesia mengajarkan
saya cara baru memahami manusia, tata krama, penghormatan, humor, makanan,
agama, keluarga, bahasa, dan rasa memiliki.
Di India, saya sering mendengar pepatah, "Sabr ka phal
meetha hota hai" yang berarti "buah kesabaran itu manis." Namun
setelah tinggal di Indonesia, saya memahami maknanya secara berbeda. Di sini,
kesabaran tidak pernah diajarkan melalui nasihat.
Kesabaran hadir melalui proses menunggu, secangkir teh,
keheningan, keluarga, makanan, senyuman, dan terkadang sedikit sambal di
sampingnya. Ketika akhirnya kita benar-benar memahaminya, kesabaran bukan lagi
sekadar terasa manis. Ia memiliki rasa.
