Logo Porosbumi
27 Apr 2026,
27 April 2026
LIVE TV

Indonesia Kaya Potensi Geopark, Butuh Riset dan Pengelolaan Berkelanjutan

PorosBumi 27 Apr 2026, 08:37:52 WIB
Indonesia Kaya Potensi Geopark, Butuh Riset dan Pengelolaan Berkelanjutan

PENGEMBANGAN geopark di Indonesia terus menunjukkan kemajuan signifikan, baik dari sisi jumlah maupun pengakuan internasional. Namun, di balik capaian tersebut, terdapat tantangan serius yang perlu menjadi perhatian, terutama terkait kualitas pengelolaan, riset, serta keberlanjutan kawasan geopark.

Sam Permanadewi, Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG), menegaskan bahwa geopark tidak semata-mata diperuntukkan bagi aktivitas ekstraktif, melainkan sebagai kawasan yang melestarikan, menjelaskan, dan mempromosikan bumi dalam kerangka warisan geologi atau geoheritage. Dengan kekayaan geodiversitas yang berada di atas rata-rata dunia, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan aspek geologi, hayati, dan budaya dalam pengembangan geopark.

“Kecantikan warisan geologi dan geopark itu adalah sejarah bumi bertaraf internasional yang berkaitan erat dengan aspek hayati dan budaya setempat. Untuk menemukan hubungan itu tentu diperlukan kajian mendalam, atau dengan kata lain, riset,” ujar Sam dalam Webinar DIGDAYA #21: Pengelolaan Sumber Daya Bumi Berkelanjutan, yang diselenggarakan oleh PRSDG - Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, pada Selasa (21/4) hybrid, di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun.

Dalam paparannya dengan tema “Geopark Indonesia dan Pengembangannya”, Ia menjelaskan, berbagai riset telah dilakukan untuk mengidentifikasi geosite bernilai internasional, termasuk di Belitung Timur, Silokek (Sumatera Barat), dan Bojonegoro (Jawa Timur) sebagai bagian dari usulan menuju UNESCO Global Geopark. Riset tersebut melibatkan kolaborasi lintas pihak, mulai dari pengelola geopark, pemerintah daerah, hingga perguruan tinggi lokal seperti Universitas Bojonegoro, UPN, dan UNP Padang.

Lebih lanjut, Sam mengingatkan bahwa status geopark global tidak hanya membawa prestise, tetapi juga kewajiban. Salah satunya adalah pembayaran iuran tahunan kepada UNESCO yang nilainya tidak kecil dan kerap menjadi tantangan bagi daerah.

“Keuntungan geopark global itu bukan langsung berupa pemasukan finansial. Manfaat utamanya adalah promosi internasional. Indonesia dipromosikan sebagai negara yang memiliki kawasan bernilai dunia, tetapi setiap tahun tetap ada kewajiban iuran,” jelasnya.

Menurutnya, tidak semua daerah harus berorientasi pada status internasional. Jika pariwisata dan pengelolaan geopark nasional sudah berjalan baik, manfaatnya tetap dapat dirasakan oleh masyarakat tanpa beban tambahan.

“Yang terpenting adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungannya. Ketika masyarakat tahu nilai geologi daerahnya, mereka akan merawat, mengembangkan atraksi, dan pada akhirnya pariwisata tumbuh secara alami,” tambah Sam.

Menutup diskusi, moderator Prahara Iqbal menegaskan bahwa pengembangan geopark ke depan tidak boleh hanya berfokus pada jumlah dan pengakuan, melainkan juga kualitas pengelolaan dan keberlanjutan. Ia berharap diskusi ini dapat memperkuat pemahaman bahwa geopark adalah investasi pengetahuan dan lingkungan, sekaligus warisan bagi generasi mendatang.

“Geopark harus menjadi ruang pembelajaran bersama, bukan sekadar label. Sinergi antara riset, pemerintah, pengelola, dan masyarakat menjadi kunci agar geopark benar-benar memberi manfaat jangka panjang,” ujar Peneliti Ahli Muda PRSDG. (kg/ed:jml)

 

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```