Logo Porosbumi
09 Jul 2026,
09 July 2026
LIVE TV

Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Pontianak (MATA-UMP) Kukuhkan Angkatan Nawasena

PorosBumi 09 Jul 2026, 17:57:10 WIB
Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Pontianak (MATA-UMP) Kukuhkan Angkatan Nawasena

DI bawah deru ombak Pantai Gosong, Kabupaten Bengkayang, Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Pontianak (MATA-UMP) sukses mengukuhkan enam Anggota Muda baru pada Minggu (5/7/2026).

Pengukuhan melalui penyematan slayer merah berlogo MATA-UMP ini menjadi oase bagi organisasi yang tengah menghadapi fase krusial. Rangkaian pendidikan panjang ini telah dimulai sejak 9 Mei 2026 melalui penyematan slayer taruna di kampus.

Selama hampir dua bulan, MATA-UMP menerapkan model pendidikan yang adaptif; mengombinasikan disiplin ketat fisik dan materi lapangan dengan formula kedisiplinan yang dinamis, tanpa memudarkan esensi dasar pendidikan alam bebas.

Angkatan baru ini dianugerahi nama "Nawasena" (bahasa Sanskerta: Masa Depan yang Cerah). Nama ini menjadi amanah besar karena di tengah kondisi internal MATA-UMP yang sedang mengalami krisis organisasi, di pundak angkatan Nawasena inilah yang diberi tanggung jawab untuk menyelamatkan dan menghidupkan kembali marwah organisasi.

"Angkatan ini diibaratkan telah melewati 'malam yang gelap dan badai yang dingin' selama masa tempaan fisik dan mental. Kini, mereka berhasil terbit sebagai fajar baru yang membawa kehangatan dan cahaya bagi organisasi," ungkap perwakilan alumni MATA-UMP dengan penuh haru.

Perjalanan panjang ini dipenuhi seleksi alam yang berat, di mana dari total 11 taruna di awal perjuangan, sebanyak 4 taruna (3 dari Fakultas Hukum dan 1 dari FKIP PGPAUD) dengan berat hati tidak bisa melanjutkan kegiatan hingga akhir karena terkendala izin orang tua, tugas kuliah yang padat, serta faktor kesehatan.

Namun, gugurnya beberapa kawan tidak menyurutkan semangat yang ada, justru menyisakan rasa syukur dan sukacita yang membuncah ketika enam jiwa tangguh sisanya berhasil bertahan melewati badai ujian hingga resmi dinyatakan lulus sebagai Anggota Muda.

Kebanggaan luar biasa pun terpancar karena Angkatan Nawasena ini sukses didominasi oleh para srikandi tangguh, yang terdiri dari 5 mahasiswi FKIP PGPAUD dan 1 mahasiswa Fakultas Ekonomi. Mereka adalah Endang Putria (Poteng), Yulyawati (Loncot), Nita Febriani (Mayas), Nurul Syafika (Tapai), Angela Periska (Boncel), dan Aris (Cimeng).

Kehadiran para calon pendidik anak usia dini di medan rimbawan ini membuktikan bahwa ketangguhan mental tidak mengenal gender, sekaligus menutup cerita diksar dengan atmosfer sukacita dan kehangatan baru bak keluarga kandung di rahim MATA-UMP.

Sebelum dikukuhkan di Pantai Gosong, para peserta telah melewati gemblengan materi ruang di kampus, simulasi ruang terbuka, latihan fisik, aplikasi lapangan di Pantai Kura-Kura, hingga eksplorasi medan ekstrem di area Tebing Bunga.

Suara Dari Lapangan: Kesan Anggota Muda

Pendidikan ini menggoreskan arti kehidupan yang mendalam bagi mereka. Endang Putria (Poteng) dan Nurul Syafika (Tapai) sepakat bahwa setiap rasa lelah mengajarkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, dan ketulusan dalam menjaga alam.

Sementara Yulyawati (Loncot) menceritakan serunya dinamika lapangan saat mereka harus berguling, push-up, hingga memasak dengan alat seadanya yang melatih kreativitas tim.

Momen haru dan puitis dirasakan oleh Nita Febriani (Mayas) dan Angela Periska (Boncel) saat berhasil menaklukkan rasa takut di ketinggian tebing.

"Seperti mimpi bisa mencapai titik tertinggi. Rangkulan dari teman dan senior memberikan kehangatan luar biasa. Dari MATA, mimpi saya dimulai," ungkap Mayas.

Boncel menambahkan, di MATA-UMP dirinya memahami makna persaudaraan sesungguhnya. "Rasa takut hilang karena ada kepercayaan yang tumbuh".

Sebagai satu-satunya laki-laki, Aris (Cimeng) mengaku bangga karena hanya di Mapala ia menemukan arti saling melengkapi kekurangan saudara sealiran.

Melalui keberhasilan diklatsar ini, Angkatan Nawasena membawa harapan besar agar api organisasi terus berkelanjutan dari generasi ke generasi.

"Tetaplah rendah hati, karena di hadapan semesta yang luas, kita hanyalah bagian kecil yang berkewajiban menjaga, bukan merusak. Semoga persaudaraan ini takkan luntur," pungkas Boncel.
(siti halijah)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```