Pada Hari Seorang Buta Bisa Melihat, Hal Pertama yang Ia Buang Adalah Tongkat
SERINGKALI manusia mudah melupakan
penopang yang pernah menolongnya di masa sulit. Kutipan ini menyindir realitas
itu: “Pada hari seorang buta bisa melihat, hal pertama yang ia buang adalah
tongkat yang telah membantunya seumur hidup.” Ia menggambarkan sifat manusia
yang kerap meninggalkan orang, alat, atau keadaan yang dulu sangat berjasa,
begitu mereka merasa sudah “cukup kuat” dan tak lagi membutuhkannya.
Tongkat dalam kutipan ini adalah simbol dari segala bentuk
pertolongan: sahabat yang menemani di masa kelam, orang tua yang berkorban
tanpa pamrih, bahkan pengalaman pahit yang membentuk keteguhan hati. Namun saat
keadaan membaik, sering kali semua itu dianggap tidak penting lagi. Di sinilah
letak kelemahan manusia: mudah terjebak pada lupa, bahkan kadang berubah
menjadi sombong.
Pesan moralnya jelas: jangan pernah menyepelekan hal-hal
atau orang-orang yang dulu menopang langkah kita. Rasa syukur sejati adalah
ketika kita tidak melupakan akar yang pernah memberi kita kekuatan, meski kini
kita merasa sudah bisa “melihat” atau berjalan sendiri. Ingatlah, tanpa tongkat
itu, mungkin kita tidak akan pernah sampai pada titik ini. (Sumber: FB Suluksalik)
Baca Juga