Potret Hangat dan Spirit Kebersamaan Halalbihalal Klub Indonesia Hijau
DUA puluh orang bukan jumlah yang sedikit jika datang dari titik yang berjauhan. Ada yang datang dari USA, Borneo, Bandung, bahkan ada yang baru pulang dari kejuaraan Paralayang di Turky. "Itulah kami, Klub Indonesia Hijau (KIH), organisasinya tua tapi semangatnya masih pada muda," tutur Yoki salah satu anggota KIH Bogor.
Halalbihalal KIH kali ini l, seperti biasa, ide dadakan dan terjadilah. Satu persatu datang, termasuk juga Emil, si tuan rumah yang menginap di Jakarta selama mudik dari Washington DC. Dengan semangat "Menjaga Persahabatan, Merawat Silaturahmi" Dian dan Melani melontarkan ide kumpul-kumpul di rumah Emil.
Bukan sekadar soal makanan atau kemeriahan acara, yang paling utama adalah niat untuk berkumpul dan menjaga tali silaturahmi. Waktu boleh berlalu, kesibukan boleh bertambah, tapi persaudaraan harus tetap terjaga.
Duduk bersama, berbagi cerita, saling menyapa, dan kembali menghangatkan kenangan lama. Tidak harus mewah, tidak harus sempurna, yang penting hadir dan saling menguatkan kebersamaan.
KIH adalah organisasi nirlaba dan wadah sukarelawan yang berfokus pada pelestarian lingkungan, aktif sejak 1989 dan bermarkas di Bogor. KIH memiliki perwakilan di berbagai kota, pun begitu yang berkumpul pada acara ini dulu homebase-nya di sejumlah kota yang berbeda: KIH Bogor, KIH Jakarta dan KIH Jogja.
20 orang ini adalah bagian kecil dari yang rajin hadir di whatsapp group, di mana anggotanya dari Papua hingga ke Sumatera Utara. Beberapa kegiatan bernafaskan pelestarian lingkungan yang telah dilakukan KIH antara lain penanaman mangrove yang dilakukan Regional Sumatera Utara dan Regional Jakarta, kegiatan edukasi masyarakat, menjadikannya salah satu penggerak aktif konservasi alam di Indonesia.
Kehangatan pagi hingga sore hari ini didukung cuaca Bogor yang gerimis kecil, seolah tidak mengijinkan KIHers untuk pulang dan berpisah. Sembari menikmati kudapan dan bertukar cerita satu sama lain, menceritakan pengalamannya ketika berkegiatan di alam bebas, ada yang terus kotak katik, never stop exploring.
Masing masing menceritakan kegiatan pendidikan lingkungan yang dilakukan KIH di berbagai daerah. Sedikit bernostalgia, sebelum ada tumbler yang hype seperti saat ini, kang Iwang menceritakan sudah pernah coba-coba pakai kaleng bekas oli. Sampai ada yang memanfaatkan slayer untuk menyaring air keruh agar bisa layak minum. Lebih tepatnya layak minum dengan suasana gelap supaya tak terlihat keruh.
Kekonyolan mungkin telah tergulung waktu, tapi apapun profesi kami sekarang, di manapun kami berada, ternyata sel-sel kami menyimpan memori tentang satu ajaran yang sama, yaitu bagaimana kami memperlakukan alam dengan selayaknya, tutur Dea salah satu KIH Jogja yang kini tinggal di Bogor.
Pada akhirnya, nilai dari sebuah pertemuan bukan pada apa yang tersaji di meja, tetapi pada hati yang tetap terhubung dalam persahabatan. Rencana ke depan Mas Gendon Perintis Paralayang, Kang Anas Ridwan pemilik Boogie Outdoor serta Pioneer Arung Jeram, Yoki Hadiprakarsa pendiri Rangkong Indonesia, Asep dan Irma pegiat trail running serta lainnya ingin melakukan kegiatan Camping, semoga makin ramai yang datang, tutup Dea. (fadlik al iman)
