Sinyal Permintaan Perumahan Melemah Kian Nyata
JAKARTA- Tanda-tanda melemahnya permintaan perumahan kian nyata
setelah Bank Indonesia mengeluarkan Hasil Survei Harga
Properti Residensial (SHPR) terbaru.
Direktur
Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa SHPR
mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan III
2025 tumbuh terbatas.
Hal
ini tecermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan III
2025 yang tumbuh sebesar 0,84 persen secara tahyunan (yoy).
Baca Juga
“Angka
ini sedikit lebih rendah dibandingkan
dengan pertumbuhan triwulan II 2025 sebesar 0,9 persen (yoy),” tulis dia dalam
keterangan resmi, Kamis(5/11/2025).
Ia melanjutkan penjualan unit properti
residensial tipe menengah dan besar juga masih belum kuat di tengah positifnya
penjualan properti residensial tipe kecil. Secara keseluruhan, penjualan unit
properti residensial di pasar primer tercatat mengalami kontraksi sebesar 1,29
persen (yoy), membaik dibandingkan
triwulan sebelumnya yang mencatatkan kontraksi 3,8 persen (yoy).
Di sisi pembiayaan, jelas dia , BI
mendapati sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial masih
berasal dari dana internal pengembang, dengan pangsa mencapai 77,67 persen .
“Dari sisi konsumen, mayoritas pembelian
rumah di pasar primer dilakukan melalui skema pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah
(KPR), dengan pangsa sebesar 74,41 persen dari total pembiayaan,” kata dia.
Pada kesempatan berbeda, Menteri
Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga seakan mengungkapkan sinyal pelemahan
permintaan perumahan. Hal itu terlihat dari penyerapan dana APBN yang
ditempatkan pada deposito di Bank
Tabungan Negara (BTN) baru mencapai 19 persen dari total Rp25 triliun.
“Ini mengambarkan demand sektor perumahan lemah sebetulnya. Mungkin pertumbuhan
ekonomi jalan dulu baru dia ( red- demand
perumahan) tumbuh. Kita tidak bisa paksa orang beli rumah saat income-nya ngak
jelas,” papar Purbaya pada Raker dengan Komite IV DPD RI pada tanggal 3
November 2025.