Tempe Nonkedelai Berpotensi Perkuat Ketahanan Pangan dan Kesehatan Masyarakat
INDONESIA memiliki beragam jenis
kacang-kacangan lokal yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku tempe
nonkedelai. Selain menjadi alternatif sumber protein, produk fermentasi ini
juga berpotensi menjadi pangan fungsional yang mendukung kesehatan masyarakat sekaligus
memperkuat ketahanan pangan nasional.
Periset Postdoctoral Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan
(PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ririn Krisnawati, menjelaskan
bahwa tempe merupakan produk fermentasi yang dibuat menggunakan kapang Rhizopus
spp. Praktik pembuatan tempe dari bahan selain kedelai telah lama dikenal dan
menjadi bagian dari kearifan lokal di berbagai daerah di Indonesia.
“Tempe nonkedelai merupakan bagian dari kearifan lokal yang
berkembang di berbagai daerah. Masyarakat telah lama memanfaatkan sumber daya
pangan lokal melalui teknologi fermentasi,” ucap Ririn, pada Jumat (19/6).
Baca Juga
Menurutnya, kedelai masih menjadi bahan baku utama industri
tempe nasional. Namun, kebutuhan kedelai Indonesia yang mencapai sekitar 2,8
juta ton per tahun belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri sehingga
ketergantungan terhadap impor masih tinggi. “Kondisi ini membuat pasokan dan
harga bahan baku rentan terhadap fluktuasi pasar global,” jelasnya.
Ririn menyebutkan sejumlah kacang-kacangan lokal yang
berpotensi digunakan sebagai bahan baku tempe, antara lain kacang tolo, koro
benguk, koro pedang, kecipir, dan kacang hijau. Pemanfaatan komoditas tersebut
dinilai dapat menjadi strategi diversifikasi pangan sekaligus meningkatkan
nilai ekonomi hasil pertanian daerah.
Ia juga menjelaskan bahwa proses fermentasi tempe yang
melibatkan kapang Rhizopus oligosporus atau Rhizopus microsporus mampu mengubah
komponen kimia bahan baku menjadi senyawa yang lebih mudah dicerna tubuh.
Selama fermentasi, protein kompleks dipecah menjadi peptida
dan asam amino yang lebih sederhana sehingga lebih mudah diserap. Fermentasi
juga menurunkan kandungan senyawa antinutrisi seperti fitat dan inhibitor
tripsin yang dapat menghambat penyerapan zat gizi.
“Fermentasi tidak hanya meningkatkan kecernaan protein,
tetapi juga menghasilkan berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan
manfaat kesehatan,” kata Ririn.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tempe nonkedelai
memiliki aktivitas antioksidan yang meningkat setelah proses fermentasi.
Kandungan senyawa fenolik yang lebih tinggi berperan dalam menangkal radikal
bebas dan melindungi sel dari stres oksidatif.
Selain itu, beberapa jenis tempe nonkedelai juga diketahui
memiliki aktivitas antibakteri dan berpotensi membantu mengendalikan kadar gula
darah melalui penghambatan enzim α-glukosidase dan α-amilase yang berperan
dalam pencernaan karbohidrat.
Ririn menambahkan, tempe berbahan koro benguk dan koro
kratok juga menunjukkan potensi antihipertensi. Peptida yang terbentuk selama
fermentasi dapat menghambat aktivitas Angiotensin Converting Enzyme (ACE)
sehingga berpotensi membantu menjaga tekanan darah tetap normal.
Berbagai metabolit bioaktif seperti daidzein, kaempferol,
asam p-kumarat, dan senyawa fenolik lainnya juga dikaitkan dengan potensi
antikanker serta manfaat kesehatan lainnya.
Perkembangan riset tempe nonkedelai kini tidak lagi terbatas
pada analisis kandungan gizi. Peneliti mulai memanfaatkan pendekatan
metabolomik, metagenomik, dan volatilomik untuk memahami lebih dalam proses
fermentasi serta pembentukan senyawa bioaktif.
Pendekatan tersebut memungkinkan identifikasi ribuan
metabolit yang terbentuk selama fermentasi, mikroorganisme yang berperan dalam
menentukan kualitas tempe, hingga senyawa volatil yang memengaruhi aroma dan
cita rasa produk.
“Riset modern membuka peluang untuk mengembangkan tempe
nonkedelai sebagai pangan fungsional berbasis bukti ilmiah dan bernilai tambah
tinggi,” ujar Ririn.
Ia menegaskan bahwa tempe nonkedelai memiliki prospek besar
untuk mendukung sistem pangan berkelanjutan apabila diproduksi secara higienis
dan melalui proses fermentasi yang tepat.
“Pemanfaatan kacang-kacangan lokal dinilai dapat mengurangi
ketergantungan terhadap impor kedelai, memperkuat ketahanan pangan nasional,
sekaligus mendorong inovasi produk pangan sehat berbasis fermentasi,” pungkas
Ririn. (ky, nh/Ed:trs)
