- Baterai Kalsium Siap Menantang Litium, Jadi Alternatif Energi Terbarukan Masa Depan
- Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah Tawangsari Adakan Penguatan Ideologi
- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
- Presiden Prabowo: Ketahanan Pangan Jadi Urusan Keamanan Negara
- Polri Akan Membangun 10 Gudang Ketahanan Pangan Baru di 2026
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat
BI Laporkan Uang Beredar Tumbuh 8 Persen Tembus Rp9.771 Triliun

Keterangan Gambar : Ilustrasi Gedung BI-Istimewa
JAKARTA- Bank
Indonesia (BI) menilai likuiditas perekonomian atau uang
beredar dalam arti luas (M2) pada September 2025 tumbuh lebih tinggi dibanding
bulan sebelumnya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso
menyampaikan bahwa pertumbuhan M2 pada
September 2025 sebesar 8 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
“Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus
2025 sebesar 7,6 persen (yoy) sehingga tercatat Rp9.771,3 triliun.” tulis dia dalam
keterangan resmi, Kamis(23/10/2025).
Baca Lainnya :
- Pemerintah Diminta Kejar Konsumsi Susu Setara Negara Jiran 40 Liter Per Tahun0
- Perry Dkk Tahan BI Rate Di Level 4,75 Persen0
- Hero Gozali Dkk Kuras Saldo Laba Pelayaran Jaya Hidup Sebelum Rancang IPO Rp158,4 Miliar0
- Telkom Akan Alihkan Aset Serat Optik Rp35,7 Triliun Ikuti Tren Global0
- 30 Jurnalis Peserta Site Visit Saksikan Langsung Bisnis Tambang Grup MIND ID Hulu hingga Hilir0
Ia melanjutkan, perkembangan
tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,7 persen
(yoy) dan uang kuasi sebesar 6,2 persen (yoy). Perkembangan M2 pada September
2025 dipengaruhi oleh aktiva luar negeri bersih, penyaluran kredit, dan
tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus).
Sedangkan aktiva luar negeri bersih pada September 2025 tumbuh sebesar 12,6
persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya
sebesar 10,7 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.085,3 triliun.
Penyaluran kredit pada September 2025 tumbuh 7,2 persen (yoy),
lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada bulan sebelumnya sebesar 7 persen
(yoy). Sebagai catatan, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman
(Loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang
dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (Debt Securities), tagihan akseptasi (Banker's Acceptances), dan Tagihan Repo.
Selain
itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor
Bank Umum yang berkedudukan di Luar Negeri, dan kredit yang disalurkan kepada
Pemerintah Pusat dan Bukan Penduduk.
Pada sisi lain, tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 6,5
persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Agustus 2025 sebesar 5
persen (yoy). (abdul aziz)
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

