- Baterai Ponsel Cepat Habis Padahal Nggak Dipakai? Ini 5 Biang Keroknya yang Bikin Kamu Kaget
- Jangan Kaget! Villa Hantu di Lombok Ini Justru Bikin Kamu Ketagihan, Ini Lho Alasannya
- 5 Aspirasi Gen Z Singkawang Ini Ngena Banget yang Bikin Menko AHY Kagum, Apa Saja Sih?
- Dari Penjual Es Lilin hingga General Manager, 5 Rahasia Sukses Kepemimpinan Anak Papua
- Selat Hormuz Mencekam, RI Terancam, Kok Bisa? Alarm Keras untuk Transisi Energi Nasional
- Update Perang AS-Israel Vs Iran, 2 Maret 2026: Strategic Intelligence & Battle Damage Assessment
- Memantau Cuaca Secara Cepat dan Akurat Berbasis Fisika dan AI
- Kemenag RI dan British Council Perkuat Guru Bahasa Inggris Madrasah
- Pertanian Organik Memicu Peningkatan Penggunaan Pestisida di Lahan Konvensional, Ini Penjelasannya
- Pertamina Buka Mudik Gratis ke Lebih dari 15 Kota, Catat Tanggal Pendaftarannya
Forest Defender Camp 2025: Desakan Masyarakat Adat untuk Melindungi Hutan Hujan Terakhir Indonesia
.jpg)
Aditya Darmadi & Hesti Permata Aulia
Greenpeace Indonesia
Baca Lainnya :
- BCA Digital Gandeng Food Bank Indonesia Gelar Gerakan Pemulihan Pangan0
- Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Mendorong Kepunahan Populasi Orangutan0
- Menanam, Merawat dan Menjaga Pohon: Life Style yang Terpinggirkan di Era Postmodernisme0
- Deforestasi, Saatnya Negara Tegas Perbaiki Pengelolaan Hutan 0
- Raja Dirgantara Kembali ke Langit Jawa: Pelepasliaran Elang Jawa di TNGGP0
SELAMA bertahun-tahun, Masyarakat Adat di berbagai
wilayah Indonesia terus memperjuangkan hak mereka atas hutan yang menjadi
sumber kehidupan. Industri ekstraktif yang tidak bertanggung jawab telah
merampas hutan mereka untuk dijadikan perkebunan atau tambang. Namun, di tengah
kondisi tersebut, masih ada wilayah yang mampu menjaga hubungan harmonis
antara manusia dan hutan. Kampung Manggroholo dan Sira di Tanah Papua adalah
salah satunya.
Tahun ini, tim Greenpeace kembali lagi dengan misi yang
sama, yakni berbagi serta membersamai perjuangan hak-hak Masyarakat Adat dan
pelindungan alam melalui kegiatan Forest Defender Camp (FDC) yang kedua pada
tanggal 23-26 September 2025. Aditya Darmadi, salah satu tim Greenpeace yang
bertugas menyelenggarakan FDC 2025, menjelaskan bahwa acara kali ini berbeda
dengan FDC sebelumnya. Selain Pemuda Adat Papua, acara kemah tahun ini
juga dihadiri oleh Pemuda Adat Cekungan Kongo, Amazon, dan Borneo.
Perjalanan Menuju Lokasi Perkemahan
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace
Papua yang terus menghadapi tekanan industri
ekstraktif. Papua adalah benteng terakhir hutan hujan Indonesia, rumah
bagi lebih dari 271 suku Masyarakat Adat dan ruang hidup yang menjadi
sumber pangan, obat, identitas budaya, serta perlindungan ekologis. Kampung
Sira dan Manggroholo dipilih sebagai lokasi FDC, karena kampung ini merupakan
kampung pertama di Tanah Papua yang mendapatkan Hak Pengelolaan Hutan Desa
(HPHD). Tak hanya itu, Masyarakat Adat Knasaimos juga pernah memperoleh pengakuan
wilayah adat seluas 97.441 hektar dari Bupati Sorong Selatan.
Adit menceritakan perjalanan panjangnya menuju lokasi
perkemahan. Sekitar 40 orang tim Greenpeace dari Jakarta dan 200 peserta
dari berbagai negara dan daerah Papua bergerak menuju Kampung Sira. Setelah
penerbangan tengah malam dari Jakarta menuju Sorong, perjalanan dilanjutkan ke
Teminabuan hingga akhirnya masuk ke hutan Sira. Meski melelahkan, Adit terkesan
melihat suasana matahari terbit di atas Raja Ampat yang menjadi pengingat
tentang betapa kayanya alam Papua yang sedang diperjuangkan.
“Flight dari Soetta sampai ke Bandara DEO di
Sorong itu 5 jam, lalu kami naik mobil dari Sorong ke Teminabuan sekitar 3 jam
36 menit. Itu jalanannya sepi dan kita pakai mobil besar yang memang cocok
untuk medan perjalanan. Kesan pertama di Sorong, aku sempat ngerasain sunrise di
atas Raja Ampat dan itu bagus banget, ” utasnya.
Sorong dan Teminabuan hanyalah persinggahan, lokasi
perkemahan berada di tengah hutan yang teduh. Hutan lebat, tanah yang selalu
basah karena musim hujan, dan udara lembab membuat peserta benar-benar
merasakan kondisi hidup Masyarakat Adat sehari-hari. Terkadang, untuk memahami
Masyarakat Adat yang terus memperjuangkan hutan mereka, orang harus datang dan
hidup di hutan itu sendiri.
Cerita di Jantung Hutan Papua
Selama empat hari, para peserta belajar langsung dari
penjaga hutan adat. Salah satu sesi paling berkesan bagi Adit adalah sesi
bersama Arkilaus Kladit dari Dewan Persekutuan Adat Knasaimos yang
memperkenalkan tumbuhan endemik dan kegunaannya bagi masyarakat setempat.
Pengetahuan ini menunjukkan bagaimana Masyarakat Adat menjaga alam bukan
hanya demi lingkungan, tetapi juga demi kelangsungan hidup mereka. Para Pemuda
Adat dari berbagai daerah di Papua dan mancanegara juga berbagi keresahan
tentang hutan di kampung mereka, sehingga FDC menjadi ruang untuk menguatkan
solidaritas dan strategi bersama.
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace
Masyarakat Adat Knasaimos sendiri turut menjadi bagian
penting dari kegiatan. Mama-mama sibuk memasak sepanjang hari untuk peserta,
menyajikan papeda dan hidangan lokal yang menjadi simbol keterkaitan budaya
dengan tanah dan hutan. Dari keramahtamahan ini, Adit menyimpulkan bahwa pelindungan
hutan tidak hanya soal ekologi, tetapi juga hubungan emosional dan spiritual
yang telah terbangun dari generasi ke generasi.
Peserta dan tim tidur di gubuk kayu, berbagi ruang, dan
menggunakan air dari sungai terdekat sebagai sumber sanitasi. Pengalaman ini
membuat banyak peserta berbincang, berbagi cerita, dan memahami kondisi kampung
masing-masing. Adit menyebutkan bahwa keresahan Pemuda Adat menjadi informasi
penting yang nantinya akan mereka verifikasi kembali.
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpe
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpe
“Ini camp yang bisa dibilang sangat padat
(kegiatannya) dan diadakan di lingkungan yang tidak familiar dengan kita, tapi
para peserta sangat antusias dan banyak dari mereka yang nyari-nyari kesempatan
untuk ngobrol sama kita di sela-sela santai, mereka cerita tentang keadaan di
kampung mereka. Pemuda-pemuda Adat yang datang ke sana membawa keresahannya
masing-masing soal hutan tempat mereka tinggal dan itu kita jadikan informasi
agar bisa kita cross check nantinya,” tukas Adit.
Di tengah hutan Manggroholo-Sira, FDC 2025 menegaskan
kembali: masa depan hutan Papua berada di tangan Masyarakat Adat, dan dunia
perlu berdiri bersama mereka. Hutan adat bukan hanya benteng terakhir
keanekaragaman hayati, tetapi juga sumber kehidupan dan identitas. Jika
hutan hilang, Masyarakat Adat akan kehilangan rumah dan dunia akan kehilangan
napasnya.
Dari FDC 2025, Adit Belajar…
Puncak dari kegiatan kemah selama empat hari adalah seruan
dari Pemuda Adat Global bagi para pemimpin dunia untuk menjaga iklim global
yang dicatatkan dalam Deklarasi
Sira. Isinya menjadi pijakan moral dan politik bagi perjuangan lingkungan
hidup yang berkeadilan sosial. Lebih lanjut, hasil pertemuan ini turut membuka
jalan bagi keterwakilan suara Masyarakat Adat Indonesia di Konferensi
Perubahan Iklim PBB (COP30), memastikan bahwa suara mereka, yang selama ini
menjaga hutan dengan tangan dan hati, terdengar di forum global tempat
dibuatnya keputusan penting atas iklim dan keberlanjutan hidup kita semua.
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace
Pengalaman di Tanah Papua membawa sebuah pemahaman bagi Adit
bahwa pemerintah seharusnya mengapresiasi Masyarakat Adat yang telah
menjaga hutan. Mereka adalah garda terdepan yang tetap berdiri teguh menjaga
keseimbangan alam dan memastikan generasi mendatang masih dapat menikmati
hijaunya pepohonan. Karena itu, sudah sepantasnya suara mereka didengar,
perjuangan mereka dihargai, dan hak mereka dijaga dengan penuh hormat.
Profil penulis:
*Aditya Darmadi adalah Supporter Care dan Data Entry Officer Greenpeace
Indonesia. Sebelumnya, Aditya mengawali kebersamaannya dengan Greenpeace
sebagai Donor pada tahun 2012, lalu bergabung sebagai Direct Dialogue
Campaigner di tahun 2015.
Hesti Permata Aulia adalah seorang mahasiswi tingkat
akhir jurusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Jurnalistik dari Universitas
Andalas yang sedang menjalankan program internship tahun 2025 di Greenpeace
Indonesia.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

