- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
LindungiHutan Dorong Tebus Jejak Karbon dengan Penanaman Pohon
.jpg)
SEMARANG — Setiap aktivitas harian
seperti berkendara, menggunakan listrik, atau bepergian dengan pesawat secara
tidak langsung berkontribusi terhadap emisi karbon yang mempercepat krisis
iklim. Menjawab tantangan ini, LindungiHutan mengajak masyarakat untuk lebih
sadar akan jejak karbon mereka, sekaligus menawarkannya solusi nyata melalui
program carbon offset berbasis penanaman pohon.
LindungiHutan, sebuah platform penggalangan dana lingkungan
berbasis digital, mengembangkan fitur carbon offset yang memungkinkan individu
maupun organisasi menghitung dan mengimbangi emisi karbon melalui penanaman
pohon. Program ini menjadi salah satu upaya mendorong keterlibatan publik dalam
aksi iklim, dengan pendekatan yang mudah dijangkau dan berdampak langsung.
“Kami ingin mendorong kesadaran bahwa perubahan iklim bukan
isu besar yang jauh dari kita. Jejak karbon bisa datang dari hal-hal sederhana,
dan carbon offset adalah langkah awal untuk bertanggung jawab secara ekologis,”
ungkap Alma, Product Manager LindungiHutan.
Baca Lainnya :
- Menhut Resmikan Pusat Komando Penegakan Hukum Kehutanan Bali–Nusa Tenggara0
- LindungiHutan Rilis Data CSR Teraktif dalam Aksi Tanam Pohon 20250
- AHY: Ini Call to Action, Kita Tidak Tinggal Diam Saat Bumi Terluka0
- Greenpeace Dorong Tanggung Jawab Produsen untuk Lebih Serius Menangani Sampah Plastik 0
- Untuk Kelestarian Alam, Belantara Foundation Bersama Mitra Tak Lelah Mananam Pohon 0
Menurut laporan Climate Transparency Report 2023, Indonesia
menghasilkan lebih dari 600 juta ton emisi CO₂ per tahun. Dalam skala individu,
satu kali perjalanan Jakarta–Bali dengan pesawat dapat menghasilkan lebih dari
250 kg CO₂ per orang. Di tengah tantangan ini, carbon offset hadir bukan
sebagai pengganti perubahan gaya hidup, tapi sebagai pelengkap aksi mitigasi.
Fitur carbon offset LindungiHutan menggunakan kalkulasi
berbasis standar emisi global dan menyarankan jumlah pohon yang ideal untuk
menyerap emisi tertentu. Setiap pohon yang ditanam diproyeksikan menyerap
rata-rata 4,6 kg CO₂ per tahun, dan perawatannya dilakukan oleh komunitas lokal
di area hutan seperti Pesisir Bedono, Demak, Way Kambas Lampung, dan lokasi
lainnya di seluruh Indonesia
Selain memberikan manfaat ekologis berupa penyerapan karbon,
pohon-pohon ini juga memiliki dampak jangka panjang terhadap restorasi
ekosistem, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga ketahanan pesisir. Di
sisi sosial, LindungiHutan memberdayakan komunitas lokal untuk menyediakan
bibit, melakukan penanaman, dan merawat pohon selama masa hidupnya.
“Setiap pohon yang ditanam bukan hanya menyerap karbon, tapi
juga menyerap harapan masyarakat lokal akan masa depan yang lebih baik,” tambah
Edi, penggerak LindungiHutan dari Pulau Pari.
Selain fungsi ekologisnya dalam menyerap karbon dan
memulihkan ekosistem, penanaman pohon juga melibatkan masyarakat lokal dalam
proses pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan. Dengan demikian, kegiatan ini
tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga mendukung aspek sosial
dan ekonomi di tingkat komunitas.
Seiring meningkatnya urgensi krisis iklim, pendekatan
seperti carbon offset berbasis alam dinilai tetap relevan sebagai bagian dari
upaya transisi menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan. Penting bagi
masyarakat untuk tidak hanya memahami konsep emisi karbon, tetapi juga memiliki
akses ke bentuk partisipasi yang konkret dan terukur.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

