- Inovasi Hijau Terbaik Januari 2026, dari Rumput Laut hingga Drone Pemadam Kebakaran
- Membaca Ulang Sejarah Maritim Indonesia Lewat Pendekatan Artistik dan Kuratorial Lintas Negara
- Waspada! Polusi Plastik Bisa Menyebabkan Lingkungan Air Jadi Berbahaya
- Ekspresi Cat Air Merayakan Seni Membumi
- Mentan Tegaskan Pers Sebagai Pilar Demokrasi Sekaligus Mitra Swasembada Pangan
- Dua Hari Diet Sederhana Dapat Membantu Menurunkan Kadar Kolesterol Jahat
- Sejatinya Ketahanan Pangan Harus Dibangun, Bukan Tumbuh
- Perusahaan Tambang Pelat Merah Wajib Perkuat Operasional Bertanggung Jawab
- Alarm Keras Bencana Ekologis Batang Toru, Jantung Habitat Orangutan Tapanuli
- Ternyata Mandi di Hutan dapat Menjaga Kesehatan Paru-paru, Begini Penjelasannya
Membaca Ulang Sejarah Maritim Indonesia Lewat Pendekatan Artistik dan Kuratorial Lintas Negara

CRIMSON GILT
menyingkap riwayat kelam kolonial maritim Indonesia, menempatkannya
berdampingan dengan warisan perdagangan bilateral Jepang, dan narasi kejayaan
maritim Belanda; untuk kembali diingat, dilihat, dan dicatat dalam pemahaman
holistik yang reflektif dan kritis. Proyek ini dibuat dalam seri pameran kapal
VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang dipresentasikan di tiga negara:
Jepang, Indonesia, dan Belanda. Masing-masing mengambil tempat bersejarah,
yaitu kantor dagang VOC di Hirado, Museum Bahari di Jakarta, dan Museum Maritim
Nasional di Amsterdam. Dalam konteks ini, ruang adalah bagian dari narasi yang
menyimpan ingatan kolonial; sehingga pertemuan antara karya dan ruang menjadi
signifikan.
Museum Bahari Jakarta terletak di
tepi Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Gedung ini dibangun sejak abad
ke-17, dulunya digunakan untuk menyimpan rempah dan barang dagangan VOC yang
diangkut melalui jalur laut. Setelah Jepang mengambil alih, fungsinya berubah
menjadi gudang logistik militer. Sepeninggal Jepang, gedung ini sempat
digunakan sebagai gudang PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan PTT (Pos,
Telegraf, dan Telpon). Baru sejak 1977, ruang ini diklaim sebagai museum
maritim yang menyimpan arsip pelayaran Nusantara. Riwayat fungsi yang berlapis
ini memperlihatkan bagaimana perdagangan maritim—di Indonesia khususnya—sejak
awal terjalin erat dengan penguasaan ruang, kontrol logistik, dan praktik
penaklukkan.
Vincent Ruijters dalam proyek ini
menciptakan ilusi kapal yang tampak melayang, melalui sebuah instalasi tekstil
berskala ruang (site-specific). Kapal tersebut adalah replikasi dari
model kapal Amsterdam, yang dibangun pada tahun 1748, dan tenggelam
dalam pelayaran pertamanya menuju Batavia (sekarang Jakarta). Kapal ini
memiliki dimensi sejarah berlapis yang kontradiktif—dirayakan dan dikecam.
Dirayakan dalam narasi kejayaan Belanda dan Jepang, tetapi dikecam sebagai ikon
kejahatan eksploitatif yang mengawali tiga setengah abad penjajahan Indonesia.
Bahkan, setelahnya, dan setelahnya lagi. Kontradiksi ini oleh Vincent
diartikulasikan melalui pola warna kapal.
Baca Lainnya :
- Ekspresi Cat Air Merayakan Seni Membumi0
- Garis yang Mencari Ibu0
- Fenomena Sosial Kontemporer dan Mengusik Ketidaksadaran Kolektif Masyarakat0
- Lakon Pandawa Nawasena: Tradisi Wayang Orang dalam Sentuhan Lintas Generasi 0
- HUT ke 24 PD, SBY Melukis Only The Strong Langsung di Hadapan Ratusan Kader Demokrat0
Di Museum Bahari Jakarta, kapal
dibuat berwarna merah di bagian depan dan berwarna emas di bagian dalam,
menandai penderitaan yang eksplisit dan kekayaan yang dikuras. Bagi Indonesia,
dulu, kapal adalah bagian dari identitas. Kapal sejak lama menghubungkan
kerajaan-kerajaan di Nusantara, digunakan sebagai medium pertukaran gagasan
antar-pulau, bahkan menjadi pondasi terbentuknya jaringan budaya, ekonomi, dan
politik.
Kedatangan VOC ke Nusantara
kemudian mengubah esensi fungsi kapal dari medium perjumpaan dan pertukaran
menjadi alat ekspansi imperium untuk memonopoli jalur laut, mengontrol
distribusi rempah, bahkan memaksakan perjanjian dagang. Hal ini, ditambah politik
dalam negeri di masa-masa berikutnya, telah membuat kapal kehilangan posisi
simboliknya sebagai identitas bangsa. Lebih dari itu, kedatangan VOC yang
membuka pintu penjajahan di Indonesia memiliki dampak sosial dan politik jangka
panjang yang relevan sampai hari ini.
VOC dalam pola praktik
kolonialnya memperkenalkan klasifikasi ras yang kaku: di mana Eropa diposisikan
sebagai penguasa, Timur Asing—seperti Cina, Arab, dan India—sebagai perantara
ekonomi, dan pribumi sebagai tenaga kerja atau subjek kolonial. VOC
jugalah yang memperkenalkan pola politik sentralistis dan politik pecah-belah.
Praktik-praktik tersebut di kemudian hari mewariskan stereotip etnis,
stratifikasi sosial, politik identitas, dan kecenderungan otoritarian yang
menjadi akar dari berbagai konflik dalam negeri.
Narasi di atas penting dalam
memantik dialog trilateral antarnegara dalam jaringan maritim VOC, sebagai
upaya menyamakan persepsi dan ingatan kolektif, atau, lebih jauh lagi,
menyembuhkan luka sejarah. Mengingat perbedaan perlakuan VOC terhadap Jepang dan
Indonesia berdampak pada perbedaan persepsi fundamental.
Jepang tidak pernah mengenal sisi
VOC yang menjajah. Itulah sebabnya karya instalasi kapal di Hirado dibuat dalam
dimensi karya dengan warna-warna yang berubah. Dari sisi depan, kapal
diselimuti warna emas metalik. Namun ketika pengunjung berjalan menembus atau
melewatinya, warna itu bertransformasi menjadi merah darah yang suram.
Proyek ini menjadi medium
historiografi dengan membaca ulang sejarah, mengaktifkan ingatan ruang, dan
membuka ruang dialog fundamental; membuktikan bahwa selain memiliki fungsi
estetika, seni juga menjadi ruang produksi pengetahuan dan refleksi sejarah, sekaligus
berperan sebagai medan negosiasi untuk memori kolektif.
Pameran ini telah diselenggarakan
di Jepang pada tahun 2025, dan akan berlanjut di Belanda. Waktu penyelenggaraan
pameran di Jepang dan Indonesia diselaraskan oleh Hirado Dutch Trading Post dan
Museum Bahari. Presentasi di Hirado Dutch Trading Post berlangsung dalam
konteks peringatan 400 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Belanda,
sebuah relasi yang bermula di Hirado pada tahun 1609. Pameran di Jakarta
ditempatkan menjelang peringatan 500 tahun Jakarta (1527–2027), sebuah momentum
penting untuk memicu peningkatan refleksi publik dan institusional terhadap
sejarah kolonial kota ini.
Kedua institusi secara sadar
menempatkan Crimson Gilt dalam kerangka diplomatik dan historis yang
lebih luas, menegaskan relevansi proyek tersebut dalam dinamika pertukaran
budaya internasional yang terus berlangsung. Dalam narasi Crimson Gilt,
Kapal Amsterdam tidak tenggelam, justru melanjutkan perjalanan ke Hirado,
kemudian dengan berdaulat membawa ruh VOC mengarungi lintasan pelayaran pulang.
Dari Hirado, ke Jakarta, dan kembali ke Amsterdam. Menutup babak panjang
sejarah penjajahan Indonesia. Sebab, penjajahan tidak lagi relevan. Baik
terhadap negeri orang, maupun negeri sendiri.
Tentang Vincent
Ruijters
Vincent Ruijters, PhD, adalah
seniman yang fokus pada praktik seni instalasi site-specific dan seni
pertunjukan. Dalam karya-karyanya, ia mengintegrasikan unsur puitis,
konseptual, dan teknologi. Berbasis di Amsterdam, Vincent aktif berpameran
secara internasional di berbagai negara, termasuk Indonesia, Jepang, Korea
Selatan, dan Amerika Serikat.
Vincent lahir pada tahun 1988 dan
dibesarkan di Den Haag. Ayahnya berkebangsaan Belanda, sementara ibunya
berdarah Tionghoa-Indonesia. Keluarga dari ibu Vincent menetap di Indonesia
selama tujuh generasi, sebelum melarikan diri ke Belanda akibat pembantaian
massal di tahun 1965–66, di mana komunitas Peranakan, bersama kelompok-kelompok
lain, menjadi korban. Saat kecil, Vincent diberitahu bahwa dirinya adalah
“setengah Indonesia”, dan kepindahan keluarga ibunya ke Eropa dilakukan secara
sukarela. Baru setelah dewasa, ia mencari tahu sendiri tentang asal-usul
identitasnya sebagai “Peranakan”, berikut alasan tragis di balik migrasi
keluarganya.
Perjalanan ke Asia
Tenggara—khususnya Indonesia—ditambah hubungan dengan keluarga besarnya di Asia
membawa Vincent bersentuhan erat dengan budaya kawasan tersebut. Tumbuh dalam
lingkungan yang didominasi budaya Barat, ia merasakan keterputusan dari akarnya
sebagai orang Asia. Ia kemudian memutuskan untuk tinggal di Asia guna memahami
identitas ini lebih mendalam. Keputusan ini membawanya ke Jepang, di mana ia
akhirnya menggabungkan ambisi artistik dengan pendalaman teknologi mutakhir
untuk digunakan dalam karya-karya instalasinya.
Setelah hampir satu dekade
tinggal di Jepang, Vincent kembali ke Belanda. Terinspirasi oleh latar belakang
multikultural dan pengalaman hidup, fokus artistiknya bergeser ke fenomenologi
identitas (hibrida) dan relasi. Perubahan ini melahirkan instalasi Cave
Inside the Body of Shadows dan pertunjukan tari Shadowplay.
Karya-karya tersebut menandai awal eksplorasi artistiknya terhadap akar
Tionghoa-Indonesia.
Eksplorasi tersebut diperdalam
melalui residensi seniman di Gudskul, Jakarta, dan HONF (House of Natural
Fiber) di Yogyakarta. Riset yang dilakukan selama dua residensi ini
menghasilkan karya Selintas Selalu, yang dipamerkan dalam pameran
kelompok tahunan bergengsi Nandur Srawung di Yogyakarta, dan dipilih
untuk merepresentasikan periode penuh gejolak seputar kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 2025, Vincent
bergabung dalam kelompok penasihat Program Pengembangan Pengetahuan Nasional
tentang Sejarah Hindia Belanda/Indonesia (Belanda), menyumbangkan keahliannya
dalam perspektif pascakolonial dan transkultural untuk membantu membentuk keterlibatan
institusional di masa depan terhadap sejarah kolonial.
Berangkat dari kedekatan mendalam
dan berkelanjutan dengan Belanda, Indonesia, dan Jepang, proyek seni terkininya
Crimson Gilt hadir sebagai kelanjutan dari lintasan artistik yang
transnasional dan terlibat secara historis ini.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Periode Pameran
(Untuk Publik)
7 Februari – 7 April 2026
Hari kerja: 09.00 – 15.00
Akhir pekan: 09.00 – 20.00
Senin: Tutup untuk perawatan
rutin
Kamis, 5 Februari
Opening Reception
Waktu: 14.00 – 15.30
Tempat: Ruang Sunda Kelapa,
Museum Bahari Jakarta
Alamat: Jalan Pasar Ikan Nomor 1,
Penjaringan, Jakarta Utara
Journalist Curatorial
Talks
Waktu: 16.00 – 17.30
Tempat: Ruang Ir. H. Djuanda,
Museum Bahari Jakarta
Alamat: Jalan Pasar Ikan Nomor 1,
Penjaringan, Jakarta Utara
Museum Bahari Jakarta akan
mengundang para jurnalis, dan Vincent Ruijters akan memaparkan wawasan serta
latar belakang pameran agar jurnalis memperoleh pemahaman menyeluruh untuk
kebutuhan promosi dan publikasi pameran. (Khusus undangan)
Sabtu, 28 Februari
Public Artist Talks
Waktu: 12.30 – 14.30
Tempat: Ruang Ir. H. Djuanda,
Museum Bahari Jakarta
Alamat: Jalan Pasar Ikan Nomor 1,
Penjaringan, Jakarta Utara
Penyelenggara
Museum Kebaharian,
Scheepvaartmuseum, Hirado Dutch Trading Post
Dukungan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI
Jakarta
Museum Bahari Jakarta
Embassy of the Kingdom of the
Netherlands in Jakarta
Erasmushuis Jakarta
Musee ID
Produksi
Tata Suara: Yoichi Kamimura
Tekstil: Knitwearlab
Akses Transportasi
●
Halte TransJakarta
Balai Kota: naik Bus TransJakarta 1A (Balai Kota – Pantai Maju), turun di Halte
Pakin, lalu berjalan ±400 meter ke Museum Bahari Jakarta.
●
Dari stasiun kereta
di Jakarta: turun di Stasiun Jakarta Kota, berjalan ±150 meter ke Halte Museum
Bank Indonesia, naik Bus TransJakarta 1A (Balai Kota – Pantai Maju), turun di
Halte Pakin, lalu berjalan ±400 meter ke Museum Bahari Jakarta.
Informasi Lokasi
Alamat: Jalan Pasar Ikan Nomor 1,
Penjaringan, Jakarta Utara
Periode Pameran (Publik): 7
Februari – 7 April 2026
Jam Buka:
Hari kerja: 09.00 – 15.00
Akhir pekan: 09.00 – 20.00
Instagram resmi:
@museumkebaharianjkt
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

