- Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif
- Kades di Tapteng Ramai-Ramai Surati Presiden, Minta Pelurusan Penyebab Banjir Longsor DAS Aek Garoga
- 8 Desa Wisata di Indonesia Buat Kamu Merasakan Kehidupan Masyarakat Lokal
- Fenomena Antre di Tempat Makan Viral, Worth It atau Sekadar Ikut Tren?
- Apakah Venezuela Masih Jadi Kekuatan Besar di Pasar Minyak Global?
- RDMP Balikpapan: Sumur Mathilda yang Kini Garda Terdepan Energi Indonesia Timur
- Tak Ada Pilihan Lain, Indonesia Harus Menjadi Pengendali Harga Nikel Dunia
- Riset BRIN Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa–Sumatra Tertinggi
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan
Menyusuri Warisan Hidup India: Perjalanan Lintas Budaya Para Konten Kreator

INDIA — India bukan negara yang
bisa dipahami dalam sekali datang. Ia memperkenalkan dirinya perlahan, lewat
jejak batu, ruang sunyi, percakapan sederhana, dan rutinitas yang terus
berjalan. Sejarah dan kehidupan sehari-hari hadir berdampingan. Pengalaman
berlapis inilah yang menjadi inti dari Familiarization Visit of Content
Creators and Social Media Influencers yang diselenggarakan Kementerian
Luar Negeri India melalui Divisi External Publicity and Public Diplomacy pada
tanggal 10-19 Desember 2025 lalu.
Dalam program ini, para konten kreator dan digital
storyteller dari Indonesia, Jepang, Malaysia, Mongolia, Myanmar,
Singapura, Korea Selatan, Sri Lanka, dan Thailand diajak menyusuri berbagai
wilayah India. Perjalanan ini bukan sekadar tur pengenalan, melainkan ruang
perjumpaan antarmanusia, tempat pengalaman pribadi perlahan membentuk pemahaman
lintas budaya.
New Delhi: Awal Perjalanan Sejarah
Baca Lainnya :
- Hadir di Bundaran Ocarina Batam, Cita Rasa Bangka Kini Lebih Dekat Lewat Lempah Kuning Muara0
- Taichung, Kota yang Menyatu dengan Budaya, Garis Pantai, dan Kreativitas0
- SAPA BALI 2025: Mewujudkan Pariwisata Bali yang Bebas TAR0
- Bakung: Tradisi Lisan Masyarakat Adat Dayak Bahau Busang 0
- Soft Opening Horison Resort Tulip Puncak Elegance in Culture, Complete in Stay, Harmony in Nature0
Perjalanan dimulai di New Delhi, ibu kota yang menyimpan
jejak kekuasaan berlapis dari berbagai zaman. Kunjungan ke Makam Humayun
membuka perjalanan dengan suasana tenang dan reflektif. Dibangun pada abad
ke-16, kompleks ini memperlihatkan filosofi arsitektur Mughal yang menekankan
keseimbangan, keteraturan, dan hubungan antara ruang dan alam. Taman makam ini
kerap disebut sebagai pendahulu Taj Mahal, sekaligus pintu masuk menuju masa
lalu kekaisaran India.
Dari sana, rombongan melanjutkan perjalanan ke Qutub Minar.
Menara batu yang menjulang ini berdiri di tengah kompleks bangunan kuno yang
mencerminkan fase awal kekuasaan Islam di India utara. Ukiran ayat-ayat
Al-Qur’an berdampingan dengan sisa struktur Hindu dan Jain, menampilkan sejarah
yang tidak tunggal, melainkan terbentuk dari pertemuan, pergeseran, dan
penyesuaian budaya.
Sore hari dihabiskan di Museum Nasional. Di ruang-ruang
pamerannya, ribuan tahun peradaban India dirangkum melalui artefak Lembah
Indus, patung Buddha, manuskrip kuno, hingga peninggalan era kolonial. Museum
ini menegaskan satu gagasan penting: India tidak dibangun oleh satu narasi
besar, melainkan oleh banyak kisah yang saling berkelindan.
Menjelang malam, suasana berubah saat rombongan mengunjungi
Kuil Akshardham. Meski baru dibangun pada abad ke-21, kompleks ini berakar kuat
pada tradisi lama. Ukiran batu yang detail, pameran interaktif, dan tata ruang
modern menunjukkan bagaimana nilai spiritual tetap hidup dan relevan di tengah
zaman yang terus berubah.
Negara, Iman, dan Ingatan Kolektif
Hari kedua membawa rombongan menelusuri fondasi negara dan
kehidupan sosial India. Di Rashtrapati Bhawan, kediaman resmi Presiden India,
peserta melihat bangunan yang dulu menjadi simbol kekuasaan kolonial Inggris.
Kini, tempat ini berdiri sebagai penanda kedaulatan India sebagai negara
demokratis.
Suasana kemudian bergeser di Gurudwara Bangla Sahib, salah
satu pusat ibadah Sikh terpenting di Delhi. Di balik kemegahan bangunan dan
kolam sucinya, inti dari tempat ini terletak pada dapur umum atau langar.
Duduk bersama di lantai dan menyantap makanan yang sama, para peserta merasakan
langsung nilai kesetaraan dan pelayanan yang menjadi ajaran utama Sikhisme.
Perjalanan berlanjut ke India Gate, monumen peringatan bagi
tentara India yang gugur dalam Perang Dunia I. Terletak di jantung kota,
monumen ini bukan hanya ruang mengenang sejarah, tetapi juga bagian dari
kehidupan publik yang terus berlangsung.
Hari ditutup dengan jamuan makan malam bersama Juru Bicara
Resmi Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal. Dalam suasana informal,
diskusi berkembang tentang peran kreator digital, cara membangun narasi lintas
budaya, dan bagaimana pengalaman personal kini menjadi bagian penting dari
diplomasi publik.
Dari Perkotaan Menuju Ruang Sunyi dan Perenungan
Pada hari ketiga, perjalanan beralih dari pusat politik
menuju jantung spiritual India. Rombongan terbang ke Bodh Gaya, Bihar, tempat
yang disucikan umat Buddha dari berbagai penjuru dunia. Ritme perjalanan pun
melambat, memberi ruang untuk refleksi.
Kunjungan dimulai di Patung Buddha Raksasa, sosok monumental
yang duduk bermeditasi di ruang terbuka. Meski berukuran besar, patung ini
memancarkan ketenangan dan welas asih, mengingatkan pada pesan damai ajaran
Buddha.
Rombongan kemudian mengunjungi Kuil Indosan Nipponji, yang
mencerminkan hubungan spiritual antara India dan Jepang. Desainnya yang
sederhana memperlihatkan bagaimana ajaran yang lahir di India menyebar ke Asia
Timur dan kembali dalam bentuk penghormatan lintas budaya. Di Wat Thai
Buddhagaya, nuansa Thailand terasa kuat, memperlihatkan bagaimana Bodh Gaya
menjadi ruang pertemuan berbagai tradisi Buddhis.
Di Museum Arkeologi Bodhgaya, artefak dan patung kuno
menampilkan perjalanan panjang seni dan spiritualitas Buddha. Sejarah tidak
terasa jauh, melainkan hadir sebagai kesinambungan yang masih dijalani hingga
kini.
Pendakian ke Gua Dungeshwari membawa rombongan ke tempat
Siddhartha Gautama diyakini menjalani tapa keras sebelum menemukan Jalan
Tengah. Medan yang terjal menegaskan bahwa pencerahan lahir dari proses
panjang, bukan dari jalan yang mudah.
Menjelang malam, rombongan tiba di Kuil Mahabodhi dan Pohon
Bodhi. Di bawah cahaya redup dan doa-doa lirih, para peziarah dari berbagai
negara duduk dalam keheningan. Pada momen ini, perbedaan latar belakang terasa
memudar.
Bihar: Keteguhan dan Warisan Intelektual
Hari berikutnya menyoroti kisah keteguhan manusia. Di Gunung
Dashrath Manjhi, para peserta mendengar cerita tentang seorang pria yang
memahat jalur di antara bukit demi menghubungkan desanya. Kisah ini
mengingatkan bahwa perubahan besar kerap lahir dari ketekunan individu.
Perjalanan berlanjut ke Reruntuhan Nalanda Mahavihara, salah
satu pusat pendidikan terbesar di dunia pada masanya. Berjalan di antara
sisa-sisa biara dan ruang belajar, para peserta melihat bukti nyata pertukaran
ilmu lintas Asia yang telah berlangsung berabad-abad lalu.
Di dekatnya, Universitas Internasional Nalanda berdiri
sebagai upaya menghidupkan kembali semangat keilmuan tersebut. Masa lalu dan
masa kini bertemu dalam satu lanskap yang sama.
Hari ditutup dengan kunjungan ke Vishwa Shanti Stupa dan
Danau Ghora Katora, ruang alam yang tenang untuk mengakhiri rangkaian
perjalanan di Bihar.
Odisha: Dari Refleksi Moral ke Kejayaan Seni
Hari keenam membawa rombongan ke Bhubaneswar, Odisha. Di
World Skill Center, peserta melihat fokus India pada pendidikan vokasi dan
pengembangan generasi muda sebagai bagian dari pembangunan masa depan.
Di Dhauligiri, Prasasti Batu Ashoka dan Shanti Stupa
menandai titik balik sejarah Perang Kalinga, ketika Kaisar Ashoka memilih jalan
tanpa kekerasan. Tempat ini menjadi simbol bagaimana refleksi moral dapat
mengubah arah sejarah.
Eksplorasi berlanjut ke Gua Udayagiri dan Khandagiri, tempat
pertapaan para biksu Jain di masa lalu. Puncak perjalanan hadir di Kuil
Matahari Konark. Dirancang sebagai kereta batu raksasa untuk Dewa Matahari,
kuil ini menunjukkan keunggulan seni dan pengetahuan India kuno. Meski sebagian
runtuh, kemegahannya tetap terasa.
Sembilan Hari Kebersamaan
Sembilan hari memang singkat, tetapi cukup untuk membuat
wajah-wajah asing menjadi akrab. Bergerak bersama dari kota ke kota, kuil ke
museum, bandara ke penginapan, para peserta perlahan memahami ritme satu sama
lain. Dari perkenalan formal, tumbuh kebersamaan lewat makan bersama, kelelahan
yang sama, dan momen-momen hening yang dibagi bersama.
Khim dari Thailand menggambarkan perjalanan ini sebagai
pengalaman yang personal dan penuh energi positif. Bukan hanya tempat-tempat
yang ia kunjungi, tetapi juga orang-orang yang ia temui membuat setiap hari
terasa bermakna.
Jerry Cho dari Korea Selatan melihat perjalanan ini sebagai
kesempatan langka untuk menyaksikan masa lalu, masa kini, dan masa depan India
dalam satu rangkaian. Keberagaman agama yang hidup berdampingan membuat India
terasa lebih dekat dan tidak lagi abstrak.
Afiq Rahim dari Malaysia merasakan bahwa kunjungan ini jauh
melampaui tur pengenalan biasa. Interaksi dengan komunitas lokal dan sistem
kepercayaan yang berbeda memberinya pemahaman baru tentang bagaimana India
menjaga warisan kuno sambil terus bergerak maju.
Bagi Bulga dari Mongolia, perjalanan ini memiliki makna
emosional yang mendalam. Ini adalah pengalaman terbang dan bepergian ke luar
negeri pertamanya. Sebagai jurnalis, ia melihat India melampaui judul berita.
Momen di Gurudwara Bangla Sahib, dengan pesan sederhana tentang kesederhanaan
hidup, menjadi kenangan yang terus melekat.
Dari Indonesia, Pandhu mengenang perjalanan ini dengan rasa
syukur. Persahabatan yang terjalin dan kesempatan melihat lapisan-lapisan kuno
India dari dekat menjadi pengalaman berharga. Momen favoritnya ada di Nalanda,
saat masa lalu dan masa kini berdiri berdampingan, mencerminkan esensi India
itu sendiri.
Selama sembilan hari, perbedaan kebangsaan dan profesi
perlahan memudar. Yang tersisa adalah pengalaman bersama: menunggu penerbangan,
berjalan di bawah matahari yang sama, duduk bersila bersama, dan berdiri hening
di tempat-tempat di mana sejarah dan keyakinan bertemu.
Ketika perjalanan berakhir dan setiap orang kembali ke
negaranya masing-masing, itinerary memang selesai. Namun kebersamaan itu tidak.
Ia berlanjut dalam ingatan, percakapan, dan cerita yang akan terus dibagikan.
Melalui suara-suara inilah, India hadir bukan sebagai satu narasi tunggal,
melainkan sebagai pengalaman hidup yang dibentuk oleh perjumpaan.
Pada akhirnya, perjalanan familiarisasi ini tidak mengajak
peserta mengagumi India dari kejauhan. Ia mengundang mereka berjalan bersama,
cukup lama untuk menumbuhkan pemahaman, secara pelan dan kolektif.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)


.jpg)

.jpg)

.jpg)

