- Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif
- Kades di Tapteng Ramai-Ramai Surati Presiden, Minta Pelurusan Penyebab Banjir Longsor DAS Aek Garoga
- 8 Desa Wisata di Indonesia Buat Kamu Merasakan Kehidupan Masyarakat Lokal
- Fenomena Antre di Tempat Makan Viral, Worth It atau Sekadar Ikut Tren?
- Apakah Venezuela Masih Jadi Kekuatan Besar di Pasar Minyak Global?
- RDMP Balikpapan: Sumur Mathilda yang Kini Garda Terdepan Energi Indonesia Timur
- Tak Ada Pilihan Lain, Indonesia Harus Menjadi Pengendali Harga Nikel Dunia
- Riset BRIN Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa–Sumatra Tertinggi
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan
Optimasi Hilirisasi Bauksit Nasional Ciptakan Nilai Tambah Hingga USD3,8 Triliun

Keterangan Gambar : Indonesia tercatat memiliki total sumber daya bauksit sekitar 7,78 miliar ton. (foto ESDM)
JAKARTA-
Langkah Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam mineral
bauksit, menjadi alumina dan aluminium kini memasuki babak baru yang lebih
progresif melalui ekspansi smelter alumina di dalam negeri.
Salah satu proyek yang
digencarkan oleh pemerintah yakni fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit
terintegrasi yang berlokasi Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini dikelola
oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), yang merupakan inisiasi dari Anggota
Grup MIND ID yakni PT Aneka Tambang Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium.
Kehadiran fasilitas pemurnian
tersebut menjadi tonggak penting dalam transformasi struktur industri
pertambangan nasional, dari yang selama ini didominasi ekspor bahan mentah
menuju industri bernilai tambah guna mendukung pertumbuhan ekonomi 8%.
Baca Lainnya :
- Menakar Swasembada Alumunium RI dengan Cadangan Bauksit Terbesar ke-6 Dunia0
- Presiden Dorong Hilirisasi Gambir, PTPN Group Siap Perkuat Nilai Tambah Komoditas Rakyat0
- Layanan Mutu KKP Dilengkapi Sertifikasi ISO, Ekspor Perikanan Diyakini Tumbuh Positif di 20260
- Kunci Kinerja Positif MIND ID di 2025: Strategi Korporasi dan Penguatan Hilirisasi0
- Hilirisasi Grup MIND ID, Transformasi Pertambangan Berbasis Nilai Tambah0
Adapun, Indonesia tercatat
memiliki total sumber daya bauksit sekitar 7,78 miliar ton. Jika seluruh
cadangan dijual dalam bentuk bahan mentah dengan asumsi harga USD40 per metrik
ton, potensi nilai ekonominya hanya sekitar USD311,2 miliar atau setara Rp5.238
triliun dengan asumsi kurs JISDOR Rp16.834 per USD.
Nilai ekonomi dari sumber daya
alam mineral Indonesia tersebut melonjak ketika bauksit diolah lebih lanjut.
Bila diproses lebih lanjut melalui proses pemurnian, maka 3 ton bauksit akan
menghasilkan 1 ton alumina.
Maka, dari cadangan yang sama,
potensi produksi alumina diperkirakan mencapai 2,59 miliar ton. Dengan asumsi
harga USD400 per metrik ton, nilai ekonominya meningkat sekitar USD1.037 miliar
atau setara Rp17.435 triliun.
Pada tahap produksi aluminium,
setidaknya diperlukan 2 ton alumina untuk menghasilkan aluminium. Dengan
demikian, estimasi produksi sekitar 1,29 miliar ton aluminium dan harga USD3.000
per metrik ton, dan total nilai ekonomi yang dapat diciptakan mencapai sekitar
USD3.885 miliar atau setara Rp65.145 triliun.
Perbandingan tersebut menunjukkan
besarnya potensi value creation yang dihasilkan dari hilirisasi bauksit,
sekaligus menegaskan pentingnya penguatan kapasitas pemurnian alumina sebagai
fondasi industri aluminium nasional.
Direktur Eksekutif Indonesia
Mining and Energy Watch (ISEW), Ferdy Hasiman, menilai bahwa langkah hilirisasi
bauksit yang diinisiasi MIND ID melalui proyek ini menunjukkan transformasi
dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi.
“Di 2025, MIND ID sudah
menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Mereka mulai meninggalkan
pola lama pertambangan ekstraktif dan tampil sebagai garda terdepan dalam
menekan defisit neraca pembayaran melalui hilirisasi berbagai komoditas
mineral,” ujar Ferdy dalam keterangannya, Selasa (13/1).
Kajian International Aluminium
Institute menyebutkan kapasitas pemurnian alumina adalah indikator utama daya
saing industri aluminium suatu negara. Dengan beroperasinya hilirisasi
bauksit-aluminium terintegrasi di Mempawah, Indonesia kini menempati posisi
strategis untuk menyuplai kebutuhan aluminium global, khususnya bagi industri
manufaktur, transportasi, dan energi terbarukan.
Pengamat
ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmi Radhi, juga menyatakan bahwa
keberhasilan hilirisasi di Mempawah menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan
larangan ekspor bijih bauksit mampu dioptimalkan untuk membangun kedaulatan
industri yang berkelanjutan.
Di sisi ekonomi, proyek SGAR
menciptakan dampak berganda di Kalimantan Barat melalui penyerapan tenaga kerja
dan pengembangan infrastruktur.
Secara keseluruhan, penguatan
hilirisasi bauksit melalui SGAR menjadi instrumen jangka panjang pemerintah
untuk mengamankan bahan baku industri strategis sekaligus memperkuat posisi
tawar Indonesia di pasar mineral dunia.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)


.jpg)

.jpg)

.jpg)

