Riset Ungkap Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani dan Urban Farming Efektif Tekan Risiko Stunting
HASIL riset kolaborasi multidisiplin
antara Pusat Riset Kependudukan dan Pusat Riset Wilayah BRIN, bersama
Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Sriwijaya (UNSRI), berhasil
memetakan inovasi sosial di balik keberhasilan pertanian kota dalam memitigasi
risiko stunting.
Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ade Latifa
mengatakan riset ini bukan sekadar kajian pertanian, melainkan analisis
mendalam terhadap inovasi sistem ketahanan pangan berbasis komunitas. Ia
menekankan bahwa kekuatan utama intervensi ini terletak pada pemberdayaan
Kelompok Wanita Tani (KWT).
"Kami melihat KWT bertransformasi menjadi 'laboratorium
sosial'. Inovasi sesungguhnya bukan hanya pada apa yang ditanam, tetapi pada
bagaimana komunitas perempuan mengelola partisipasi, menguatkan solidaritas
sosial, dan menghubungkan hasil panen secara langsung dengan kebutuhan gizi
balita di lingkungan mereka," ujar Ade, pada Kamis (12/3).
Baca Juga
Riset yang didukung penuh oleh skema pendanaan Riset dan
Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM), telah diterbitkan pada jurnal
internasional Discover Food (2026), berjudul ‘The potential role of farmer
women's groups as community-based urban farming in addressing the risk of
stunting’. Hal ini menegaskan peran BRIN terus memperkuat posisinya sebagai
penggerak utama kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) di Indonesia.
Dari sisi kewilayahan, Ade menyoroti pentingnya adaptasi
teknologi di lahan marginal kota. Lamijo, peneliti dari Pusat Riset Wilayah
BRIN menjelaskan bahwa penerapan metode seperti Budikdamber (Budidaya Ikan
dalam Ember) adalah bentuk inovasi teknis yang efisien untuk mengatasi
keterbatasan ruang di kota besar seperti Bandung dan Denpasar.
"Dalam riset ini, kami mendokumentasikan bagaimana
teknologi inklusif seperti Budikdamber memungkinkan rumah tangga menghasilkan
protein hewani dan mikronutrien sekaligus. Inilah kontribusi nyata riset BRIN
dalam menghadirkan solusi teknologi tepat guna yang aplikatif dan murah bagi
masyarakat," ungkap Peneliti BRIN, Lamijo.
Studi ini mengidentifikasi empat prasyarat utama
keberhasilan yaitu partisipasi aktif, upaya bersama penurunan stunting dengan
kader kesehatan, penguatan solidaritas sosial, dan praktik pencegahan risiko
secara langsung. Temuan ini sangat relevan dengan target nasional pemerintah
dalam menurunkan prevalensi stunting, di mana data lapangan menunjukkan
penurunan signifikan di wilayah yang mengintegrasikan kebijakan pangan kota
dengan aksi komunitas melalui pertanian kota (urban farming).
Sebagai lembaga riset dan inovasi nasional, BRIN
memposisikan hasil kolaborasi dengan mitra seperti Sri Rum Giyarsih (UGM) dan
Apit Fathurohman (UNSRI) ini sebagai rujukan strategis bagi kementerian/lembaga
dan pemerintah daerah. Melalui skema RIIM, BRIN berkomitmen untuk terus
menghadirkan riset yang berorientasi pada solusi nyata guna mendukung visi
Indonesia Emas 2045 yang bebas stunting. (kf/ed:jml)
