Sinema Inklusif Nusantara Membuka Jalan untuk Difabel Berkarya di Industri Film
Membangun ekosistem kerja kreatif yang melibatkan difabel secara profesional dalam berbagai peran perfilman

By Yani Andriyansyah 27 Jan 2026, 18:41:42 WIB Humaniora
Sinema Inklusif Nusantara Membuka Jalan untuk Difabel Berkarya di Industri Film

Keterangan Gambar : Penyandang disabilitas juga bisa terlibat dalam industri film (Vanilla Bear Films/Unsplash)


Yayasan Happyself Harmony Family secara resmi memperkenalkan Sinema Inklusi Nusantara, sebuah program pemberdayaan penyandang disabilitas yang membuka lapangan kerja di bidang perfilman dan industri kreatif dengan pendekatan berbasis neuroscience.


Program ini berangkat dari kesadaran bahwa banyak penyandang disabilitas memiliki cara kerja otak yang berbeda—termasuk sensitivitas emosi, pemrosesan sensorik, dan fluktuasi suasana hati—yang kerap tidak selaras dengan lingkungan kerja kantoran yang kaku dan seragam. Pendekatan tersebut sering kali membuat potensi kreatif terpinggirkan, bukan karena ketidakmampuan individu, melainkan karena sistem kerja yang tidak adaptif terhadap keberagaman cara kerja otak.

Baca Lainnya :


Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat sebanyak 932.435 penyandang disabilitas telah bekerja. Angka ini meningkat sekitar 22% dibanding tahun sebelumnya—sebuah kemajuan yang patut diapresiasi. Namun jika dilihat lebih jauh, jumlah tersebut baru setara dengan 0,64% dari total tenaga kerja Indonesia yang mencapai 144,64 juta orang.

 

“Neuroscience menunjukkan bahwa tidak semua otak dirancang untuk bekerja dalam struktur linear dan stabil sepanjang waktu. Banyak individu—termasuk penyandang disabilitas—memiliki otak yang lebih responsif terhadap emosi dan kreativitas. Jika ditempatkan di lingkungan yang tepat, perbedaan ini justru menjadi kekuatan,” ujar Prisca Priscilla, Ketua Yayasan Happyself Harmony Family.


Melalui Sinema Inklusi Nusantara, Happyself membangun ekosistem kerja kreatif yang melibatkan difabel secara profesional dalam berbagai peran perfilman, mulai dari pengembangan ide, penulisan naskah, produksi, penyuntingan, hingga distribusi karya. Lingkungan kerja berbasis proyek, kolaboratif, dan fleksibel ini dinilai lebih selaras dengan cara kerja otak kreatif yang nonlinier dan berbasis emosi.


Pendekatan ini sejalan dengan pandangan World Health Organization (WHO) yang menegaskan bahwa disabilitas merupakan hasil interaksi antara kondisi individu dan lingkungan. Ketika lingkungan dirancang inklusif dan adaptif, hambatan dapat diminimalkan dan potensi individu dapat berkembang secara optimal.


Lebih dari sekadar ruang berekspresi, Sinema Inklusi Nusantara ditargetkan menjadi jalur kemandirian ekonomi. Melalui keterlibatan aktif dalam industri film, diharapkan akan lahir kreator-kreator disabilitas yang mampu mengubah kreativitas dan kepekaan emosional menjadi sumber penghasilan berkelanjutan, sekaligus berkontribusi nyata terhadap kesejahteraan keluarga mereka.


“Film bukan hanya medium cerita, tetapi juga medium kerja dan penghidupan. Ketika penyandang disabilitas diberi ruang untuk berkarya sesuai dengan cara kerja otaknya, mereka tidak hanya menghasilkan karya bermakna, tetapi juga membangun masa depan yang lebih mandiri dan bermartabat,” tambah perwakilan yayasan.


Melalui Sinema Inklusi Nusantara, Yayasan Happyself Harmony Family menegaskan bahwa inklusi sejati bukan tentang belas kasihan, melainkan tentang merancang sistem kerja yang memahami manusia—termasuk cara kerja otaknya—dan memberi kesempatan setara untuk berdaya.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment