- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
- Dari London, Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penertiban Kawasan Hutan
- Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan
Solidaritas Lintas Iman Bantu Masyarakat Adat Perbaiki Jalan yang Dirusak PT Toba Pulp Lestari
.jpg)
SIMALUNGUN - Ratusan orang lintas
iman bersama Masyarakat Adat LAMTORAS Sihaporas memperbaiki jalan menuju ladang
mereka yang dihancurkan oleh PT Toba Pulp Lestari (TPL) untuk memutus akses
warga ke sumber penghidupannya.
Aksi gotong royong yang diiringi dengan doa bersama ini
diinisiasi Sekretariat Bersama Gerakan Oikumenis Untuk Keadilan Ekologis
Sumatera Utara sebagai bentuk seruan moral dan solidaritas lintas iman terhadap
Masyarakat Adat yang terus berjuang mempertahankan tanah leluhur mereka.
Sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan hadir: AMAN Tano
Batak, KSPPM, BAKUMSU, STT HKBP Nomensen, HKI, para suster, frater, pastor,
JPIC Fransiskan Keuskupan Agung Medan, JPIC Kapusin Medan, IAKN, hingga
perwakilan komunitas adat se-Tano Batak. Mereka datang membawa doa dan juga
amarah dan kepedulian.
Baca Lainnya :
- Ahli Waris Beberkan Bukti Kepemilikan, Eksekusi Rumah Mewah di Rosedale Batam Batal0
- Masyarakat Adat Masukih Tolak Penambangan Emas Ilegal di Hutan Adat Kalimantan Tengah 0
- Merawat Tradisi Penyembuhan Dayak Taboyan: Jaga Keseimbangan Alam, Roh, dan Manusia0
- Bea Cukai Batam Gulung Sindikat Penyelundupan Narkoba, Emas, dan Handphone0
- Masyarakat Adat Tolak Munculnya Organisasi Tongkonan Adat Sang Torayan0
Ketua Umum Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis
Sumatera Utara Walden Sitanggang menyatakan kehadiran mereka dalam kegiatan ini
bukan untuk menggantikan tugas negara, tapi karena negara lamban.
“Masyarakat Adat Sihaporas berjuang sendirian mempertahankan
tanah dan sumber hidupnya. Perjuangan mereka menggugah hati, makanya kami turun
tangan,” kata Walden Sitanggang disela aksi gotong royong memperbaiki akses
jalan masuk ke perladangan Masyarakat Adat Sihaporas pada Sabtu, 18
Oktober 2025.
Walden menjelaskan beberapa waktu lalu, anggota Komisi XIII
DPR RI bersama Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara telah mempertemukan
pihak TPL dan Masyarakat Adat LAMTORAS Sihaporas dalam rapat dengar pendapat.
Dalam pertemuan itu, sebutnya, pihak perusahaan TPL berjanji menutup lubang
besar yang mereka gali untuk memutus akses warga.
Namun, imbuhnya, janji itu tak lebih dari kata-kata
kosong. Hingga saat ini, tak satu pun lubang yang telah mereka gali ditutup
oleh TPL. Sebaliknya, Masyarakat Adat justru yang harus menutupnya sendiri
dengan tangan mereka yang penuh luka dan harapan. “Janji TPL hampa. Kami yang
turun memperbaikinya. Ini bukti lemahnya tanggung jawab perusahaan,” ujar
Walden dengan nada kecewa.
Mersi Silalahi, salah seorang Perempuan Adat Sihaporas yang
ikut dalam kegiatan ini menyatakan gotong royong lintas iman ini menjadi simbol
perlawanan spiritual dan ekologis. Dikatakannya, perjuangan Masyarakat Adat
dalam mempertahankan tanah leluhur bukan hanya soal hak milik, tetapi soal
hidup atau mati.
“Kami hanya ingin bertahan hidup dan menyekolahkan anak-anak
kami. Tapi semuanya dipersulit. Tanaman pangan kami diganti eukaliptus, jalan
kami digali,” tutur Mersi Silalahi dengan mata berkaca-kaca.
Masyarakat Adat Sihaporas sedang bergotong
royong memperbaiki jalan yang dirusak PT Tiba Pulo Lestari (TPL), Sabtu
(18/10/2025). Dokumentasi AMAN
Dirusak TPL Lagi
Ironi, beberapa jam setelah Masyarakat Adat menimbun jalan
yang dirusak TPL, sejumlah alat berat kembali merusak jalan yang ditimbun
tersebut pukul 22.00 Wib. Masyarakat Adat menemukan jalan itu kembali dirusak
TPL, sementara petugas keamanan perusahaan itu terus berjaga di sekitar lokasi.
Minggu (19/10/2025) pagi, Masyarakat Adat menemukan ada tiga
titik jalan yang baru diperbaiki kembali digali oleh TPL menggunakan alat
berat. Ketiga titik yang dirusak kembali itu semuanya mengarah ke jalan menuju
ladang Masyarakat Adat. “Kami baru saja menimbun jalan itu kemarin, tapi
malamnya langsung dihancurkan lagi oleh TPL,” ujar Putri Ambarita dari
Sihaporas.
Putri meminta pemerintah dan aparat penegak hukum segera
menindak pihak TPL yang terlibat pengerusakan jalan menuju akses perladangan
Masyarakat Adat Sihaporas. Putri mengatakan negara tidak boleh berpura-pura buta
atas penderitaan yang dialami oleh Masyarakat Adat Sihaporas di Tano Batak.
“Ketika negara diam, solidaritas rakyat harus berbicara.
Ketika pemerintah lamban, iman harus bekerja. Karena keadilan ekologis dan
kemanusiaan tidak boleh ditunda,” ujarnya.
Putri menegaskan bagi Masyarakat Adat Sihaporas, tanah bukan
sekadar ruang hidup, tetapi napas kebebasan dan martabat. “Sayangnya di negeri
ini, kebebasan Masyarakat Adat di Tano Batak terus digerus oleh perusahaan TPL
yang berlindung di balik izin negara,” pungkasnya. (maruli simanjuntak)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

