- Alarm Keras Bencana Ekologis Batang Toru, Jantung Habitat Orangutan Tapanuli
- Ternyata Mandi di Hutan dapat Menjaga Kesehatan Paru-paru, Begini Penjelasannya
- Seung Tae dan Yayasan Dupamade Asa Raya Salurkan Bantuan di Aceh Tamiang
- Baterai Sebagai Simbol Paradoks Zaman Modern, Antara Energi Bersih dan Limbah Berbahaya
- Hentikan Penggusuran dan Represifitas pada Kelompok Tani Padang Halaban!
- Climb On Student Open Bouldering 2026
- Pioner Cetak Sawah, Reinardus Ndiken Buktikan Masyarakat Adat Merauke Siap Bertransformasi
- Sinema Inklusif Nusantara Membuka Jalan untuk Difabel Berkarya di Industri Film
- Investasi Minerba Sentuh USD6,7 Miliar, Genjot Nilai Tambah SDA Nasional
- Di World Economic Forum Davos, Prabowo Umumkan Indonesia Kekuatan Baru Pangan Dunia
Ternyata Mandi di Hutan dapat Menjaga Kesehatan Paru-paru, Begini Penjelasannya
Hutan melepaskan senyawa organik yang dapat meningkatkan kesehatan pernapasan

Keterangan Gambar : Hutan memiliki banyak manfaat, salah satunya sangat berguna bagi kesehatan manusia (gambar dibuat menggunakan AI)
Selama pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu, para ilmuwan Italia mendokumentasikan sesuatu yang menarik, di mana di daerah dengan lebih banyak pohon per kapita, jumlah dan tingkat keparahan kasus COVID-19 lebih rendah dibanding tempat-tempat yang memiliki lebih sedikit pohon. Ini adalah bagian dari penelitian yang berkembang di seluruh dunia, yang menyelidiki apakah waktu yang dihabiskan di hutan dan alam dapat memberikan perlindungan dari infeksi, seperti COVID-19 dan pneumonia, kondisi peradangan, seperti asma, emfisema dan bronkitis, dan bahkan kanker.
Karena itu terapi yang disebut “menyentuh rumput” menjadi penjelasan bagaimana orang harus berhenti sejenak menggunakan perangkat elektronik, terutama smartphone lalu pergi ke luar untuk menikmati alam. Cara ini sekaligus membuktikan dan menjadi bagian dari keyakinan lama bahwa alam itu baik untuk manusia. Melinda Gilhen-Baker, konservasionis Canadian Parks and Wilderness Society di Ottawa, seperti dilansir laman nature mengatakan, orang Celtic kuno selalu punya waktu untuk duduk sejenak di samping tanaman tertentu sebagai obat untuk penyakit tertentu. Sementara di Jepang, ritual mandi di hutan (shinrin-yoku) adalah sebuah praktik tradisional di mana orang rela menghabiskan waktu di hutan demi kesehatan.
Baca Lainnya :
- Seung Tae dan Yayasan Dupamade Asa Raya Salurkan Bantuan di Aceh Tamiang0
- Baterai Sebagai Simbol Paradoks Zaman Modern, Antara Energi Bersih dan Limbah Berbahaya 0
- Pioner Cetak Sawah, Reinardus Ndiken Buktikan Masyarakat Adat Merauke Siap Bertransformasi0
- Sinema Inklusif Nusantara Membuka Jalan untuk Difabel Berkarya di Industri Film 0
- Waspada! Prediksi BMKG Hujan Sedang Hingga Lebat Masih Terjadi di Jabodetabek 0
Alam dan Kesehatan Paru-paru

Mandi di hutan ternyata dapat meningkatkan kesehatan paru-paru (gambar dibuat menggunakan AI)
Budaya di Jepang itu memacu tim peneliti yang berbasis di Tokyo untuk mendirikan bidang kedokteran hutan. Sekarang Jepang telah mengadopsinya sebagai strategi kesehatan nasional, dengan basis terapi di hutan di seluruh Negeri Sakura itu.
Sementara Korea Selatan juga mengoperasikan setidaknya 76 “hutan penyembuhan”, dan mengintegrasikannya denganterapi hutan, seperti berjalan lambat terpandu, bernapas dalam-dalam atau meditasi di hutan, ke dalam Layanan Asuransi Kesehatan Nasional. Dokter di negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, juga kerap meresepkan waktu untuk beraktivitas di hutan sebagai penyembuhan.
Hutan dan alam secara luas dikenal dapat melindungi manusia dari kondisi pernapasan, seperti asma, yang diperburuk oleh polusi udara dari mobil dan industri. Sebagian besar hutan bebas dari sumber polusi, karena partikel yang melayang dari daerah perkotaan dapat dicegat oleh daun. Hutan juga lebih dingin daripada kota, berkat uap air yang dikeluarkan tanaman selama fotosintesis. Sebaliknya, suhu perkotaan yang lebih tinggi dikombinasikan dengan polusi dapat membentuk kabut asap, yang menyebabkan gangguan pernapasan.
Luasnya alam liar—area yang sebagian besar tidak dapat diakses manusia—juga melindungi manusia dari penyakit yang dibawa oleh hewan lain. Aktivitas manusia, termasuk penebangan sepertiga hutan dunia, telah menurunkan lebih dari 75% lahan di bumi, mengancam kemampuannya untuk menopang kehidupan tanaman dan hewan, termasuk manusia. Menurut Gilhen-Baker, ketika orang-orang mulai bermukim ke daerah di mana hewan liar hidup, mereka dapat bersentuhan dengan penyakit baru. Wabah penyakit, seperti COVID-19, menjadi lebih umum, karena itu beberapa ilmuwan menyarankan bahwa restorasi hutan agar dapat memberikan perlindungan.
Menilai Manfaat

Bermeditasi di hutan sangat baik untuk meningkatkan kekebalan tubuh (gambar dibuat menggunakan AI)
Banyak penduduk kota mengatakan bahwa mendaki dan berkemah di alam membuat mereka merasa lebih tenang dan tidak terlalu stres, meski hanya melakukan sesuatu yang sederhana namun menyenangkan. Penelitian lain menunjukkan, ketika kita berada di bawah dedaunan pohon di hutan, mendengar burung berkicau atau aliran air sungai akan menenangkan sistem saraf otonom, meningkatkan suasana hati dan fungsi kekebalan tubuh. Efek menenangkan ini bukan murni pandangan subjektif.
Ahli imunologi Qing Li yang memimpin laboratorium penelitian hutan di Nippon Medical School di Tokyo dan telah melakukan eksperimen lapangan selama 30 tahun. Li dan peneliti lainnya telah mengukur penurunan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, denyut nadi dan tekanan darah setelah orang menghabiskan waktu di alam.
Hasilnya, respons fisik tersebut tidak hanya meningkatkan suasana hati dan kesehatan jantung, tetapi juga memiliki manfaat yang lebih luas bagi tubuh. Lebih lanjut dia menjelaskan, tubuh manusia bukan sebagai kumpulan sistem yang terpisah, tetapi seperti hutan itu sendiri. Berisi ekosistem yang kompleks dengan reaksi yang saling terkait. Melalui penelitiannya, dia mendeteksi perubahan pada sistem saraf, kekebalan, dan inflamasi setelah orang menghabiskan waktu di hutan. Dia berpendapat bahwa dampak terukur pada satu sistem memengaruhi kinerja yang lain. Selain itu,alam juga menawarkan obat yang sebenarnya.
Hutan yang menyebarkan bau harum seperti pinus, lemon atau rempah-rempah berasal dari phytoncides—senyawa biokimia yang dipancarkan sistem kekebalan tanaman untuk melindungi diri dari serangga, bakteri, protozoa, dan jamur. Sistem kekebalan tubuh manusia terbukti bereaksi positif terhadapnya.
Bahan aktif

Beraktivitas di dalam hutan dapat mengurangi stres (gambar dibuat menggunakan AI)
Komponen utama phytoncides adalah terpene, yang membentuk sebagian besar senyawa organik volatil biogenik (biogenic volatile organic compounds/BVOC). Menurut Michele Antonelli, yang mempraktikkan pengobatan pencegahan dan integratif di Reggio Emilia, Italia, zat-zat tersebut bukan hanya dapat melawan parasit tanaman, tetapi juga bermanfaat bagi mamalia.
Siapa pun yang menghabiskan waktu di hutan menghirup BVOC, dapat dideteksi dalam darah. Penelitian menunjukkan bahwa beberapa terpene memiliki sifat antibakteri, antijamur, dan antivirus. Karen itu dalam pandangan Antonelli, menghirup terpene tertentu dapat secara langsung membantu memerangi infeksi, terutama di saluran udara.
Produsen terbesar terpene dan BVOC lainnya adalah tumbuhan runjung, seperti pinus, cedar, dan pohon cemara. Konsentrasi senyawa di udara meningkat seiring dengan suhu, menunjukkan bahwa mandi di hutan tengah hari dapat memaksimalkan paparan seseorang. Konsentrasi terpene mencapai puncaknya di musim semi, tetapi satu studi kecil menemukan bahwa bahkan selama musim dingin, ketika tingkat terpene surut, mandi di hutan menurunkan tekanan darah dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Bukan hanya pohon yang memberikan manfaat, mikroorganisme tanah seperti Mycobacterium vaccae, misalnya, diyakini juga dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Tak heran jika genus bakteri yang mendiami tanah yang disebut Streptomyces digunakan dalam banyak antibiotik.
Fitur lingkungan yang biasa ditemukan di dalam dan sekitar hutan, seperti air terjun dan sungai yang bergerak cepat, juga baik untuk kesehatan. Air aerosol yang disemprotkan air terjun atau sungai mengandung mikroba yang bermanfaat. Sementara ion bermuatan di udara yang mengelilingi air yang bergerak dapat membantu sistem kekebalan tubuh, terutama di saluran pernapasan. Menurut Antonelli, air aerosol juga dapat meningkatkan paparan seseorang terhadap terpene yang dilepaskan pohon.
Phytoncides yang dihirup di hutan dapat membantu kekebalan dengan meningkatkan aktivitas dan jumlah sel darah putih yang disebut sel pembunuh alami. Phytoncides juga meningkatkan protein antikanker dalam sel-sel ini. Sel pembunuh alami menyerang sel yang terinfeksi tumor dan virus dalam tubuh, dan perubahan ini dapat melindungi dari ancaman tersebut.
Menghirup phytoncides telah terbukti menurunkan molekul inflamasi yang disebut sitokin, yang memainkan peran kunci dalam penyakit radang paru-paru, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (chronic obstructive pulmonary disease/COPD). Orang-orang yang tinggal di lingkungan dengan lebih banyak vegetasi secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk terkena asma atau kanker paru-paru. Oleh sebab itu, meminimalkan polusi dan memulihkan hutan sangat penting.
Secara global, penghancuran alam, seperti deforestasi terus berlanjut. Pertanian industri dan penebangan liar dapat mengeringkan tanah dan membuatnya lebih mudah terbakar—berkontribusi pada peningkatan kebakaran hutan yang ekstrem. Asap yang mengepul melintasi benua menyebabkan masalah paru-paru. Oleh karena itu, rehidrasi tanah dengan memulihkan ekosistem adalah solusi “dua untuk satu” dalam hal kesehatan manusia. Tanah lebih kecil kemungkinannya untuk terbakar dan menyebabkan penyakit paru-paru. Sebaliknya kondisi tnah yang baik, lebih mungkin untuk mendukung vegetasi yang dapat menawarkan manfaat obat dari hutan.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

