Titik Api Meningkat 6 Kali Lipat, Pemerintah Tegaskan Riau Siaga Penuh Karhutla
MENTERI Lingkungan Hidup/Kepala Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan
penguatan kesiapsiagaan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
di Provinsi Riau, seiring meningkatnya potensi kebakaran memasuki musim kemarau
tahun 2026. Langkah ini menjadi bagian dari konsolidasi nasional untuk
memastikan seluruh unsur pengendalian di daerah rawan berada dalam kondisi siap
siaga penuh.
“Saya tegaskan, pengendalian karhutla harus mengedepankan
deteksi dini dan respons cepat. Jangan menunggu api membesar. Begitu terdeteksi
hotspot, harus langsung ditangani di lapangan. Kecepatan dan ketepatan
menjadi kunci utama,” tegas Menteri Hanif saat memimpin apel kesiapsiagaan
karhutla di Lapangan Utama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Rumbai, Pekanbaru.
Menteri Hanif juga memimpin rapat koordinasi kesiapsiagaan
pengendalian karhutla di Provinsi Riau bersama pemerintah daerah setempat,
TNI/Polri, serta unsur dunia usaha. Konsolidasi ini menekankan penguatan
sinergi lintas sektor dan kesiapan operasional seluruh pihak dalam menghadapi
ancaman karhutla.
Baca Juga
Diketahui, saat ini kondisi Provinsi Riau menunjukkan tren
yang mengkhawatirkan. Hingga 23 April 2026, jumlah titik panas tercatat
mencapai 840 titik, dengan 318 titik pada tingkat kepercayaan tinggi, meningkat
enam kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Luas
kebakaran juga melonjak signifikan hingga mencapai 8.555,37 hektare, atau
meningkat 20 kali lipat dibandingkan tahun 2025.
Peningkatan tersebut terjadi di tengah prediksi Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan Indonesia
tengah menuju fase El Niño lemah hingga moderat, yang berpotensi menyebabkan
musim kemarau lebih panjang dan lebih kering, terutama di wilayah Sumatera dan
Kalimantan. Hal ini tentunya memperbesar risiko kebakaran, khususnya pada
ekosistem gambut yang sangat rentan terhadap kekeringan.
Menteri Hanif menekankan bahwa kesiapsiagaan harus
diwujudkan dalam tindakan nyata di lapangan. Seluruh unsur, mulai dari
pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI/Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga
Masyarakat Peduli Api dan dunia usaha, diminta untuk memperkuat patroli
terpadu, meningkatkan pengawasan di wilayah rawan, serta memastikan kesiapan
personel dan peralatan setiap saat.
Perusahaan perkebunan dan kehutanan juga diingatkan untuk
menjalankan tanggung jawabnya secara penuh, termasuk memastikan sarana
prasarana pengendalian karhutla dalam kondisi siap pakai, menjaga tata kelola
air di lahan gambut, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi pemantauan
hotspot dan sistem peringatan dini.
Sejalan dengan hal tersebut, General Manager PHR Zona Rokan,
Andre Wijanarko, menegaskan bahwa stabilitas ekosistem lingkungan merupakan
fondasi penting bagi keandalan produksi migas nasional. Ancaman karhutla
dinilai sebagai risiko operasional nyata yang berdampak langsung terhadap
keberlangsungan infrastruktur energi dan keselamatan publik.
“Penurunan visibilitas, gangguan kesehatan pekerja, serta
ancaman terhadap keselamatan masyarakat sekitar adalah risiko yang wajib kami
mitigasi secara komprehensif sejak fase awal. Kesiagaan personel fire brigade
dan formasi armada alat berat kami di lapangan hari ini merepresentasikan
ketegasan PHR dalam melindungi aset negara sekaligus mengamankan ruang hidup
masyarakat,” ujar Andre di hadapan ratusan personel fire brigade.
Pemerintah menegaskan tidak ada toleransi terhadap praktik
pembakaran lahan. Penegakan hukum akan dilakukan secara tegas, termasuk
evaluasi hingga pencabutan izin bagi pihak yang terbukti melakukan pelanggaran
atau kelalaian.
Dengan meningkatnya jumlah hotspot, kerentanan gambut, serta
ancaman kekeringan akibat El Nino, seluruh pihak dituntut untuk meningkatkan
kewaspadaan dan memperkuat sinergi. Upaya pengendalian karhutla tahun ini harus
lebih responsif, terkoordinasi, dan konsisten agar Provinsi Riau tidak kembali
mengalami bencana kabut asap yang berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat,
lingkungan, dan perekonomian.
